
"Kau tidak perlu mengotori tanganmu dengan membunuh para dewa. Kau cukup memanfaatkan seorang manusia untuk menjalankan rencanamu."
"Siap, adik akan melaksanakan perintah, Kakak."
Rabah dan prajurit asyura pulang ke istana kegelapan. Rabah disambut meriah bangsa asyura yang bersuka cita merayakan keberhasilan misi mengambil guci raja asyura. Rabah berdiri di singgasana sambil mengangkat guci yang berisikan jiwa Birawa.
"Kebangkitan kaum asyura akan dimulai!"
"Oleho, oleho, oleho!" Suara prajurit asyura menggaung keras sambil menghentakan tombak.
Dengan ilmu sihirnya Rabah menyembunyikan guci itu di suatu tempat.
"Aku titipkan untuk sementara bangsa kita," ucap Rabah kepada panglima asyura Liyan.
"Siap paduka," jawab Liyan.
Rabah seketika menghilang dan kembali ke alam manusia merubah wujudnya sebagai Hai Xuan.
Di sisi lain, Astara menghampiri Jiarong tengah berada di gardu taman. Jiarong terlihat sedang menatap kolam ikan koi.
"Ikan koi melambangkan keberuntungan," ucap Astara berdiri di belakang Jiarong.
__ADS_1
Jiarong sedikit terperanjat, lalu menoleh. "Pendekar ikat kepala."
Astara tersenyum ramah.
"Dari mana pendekar bisa tau kalau ikan koi membawa keberuntungan?"
"Dari orang tuaku. Sewaktu kecil aku sering sekali diajak ayah melihat ikan koi di sungai. Aku ingin menangkapnya, tapi ayahku melarang," ucap Astara.
"Pasti ayahmu orang hebat dan pintar," tebak Jiarong.
"Ayah dan ibuku seorang pendekar di sekte bunga teratai, sekarang ayah menjadi ketua sekte sepeninggal guruku."
Astara terkejut dengan ucapan Jiarong. Wajahnya bersemu merah.
Jiarong terkekeh melihat rona wajah malu Astara.
"Ke-kenapa Nona berkata seperti itu," ucap Astara menundukan wajahnya.
Jiarong malah menggoda Astara dengan mendekatkan wajah cantiknya. Astara pun semakin gugup, dia mundur beberapa langkah hingga dia lupa kalau di belakangnya ada kolam. Astara kehilangan keseimbangan, Jiarong meraih tangan Astara. Namun, Jiarong tidak bisa mengangkat tubuh Astara dan kehilangan keseimbangan juga. Mereka berdua pun tercebur di kolam ikan koi.
Tubuh Jiarong bertumpu dengan badan Astara. Seketika itu detak jantungnya mulai berpacu. Jiarong dan Astara saling menatap beberapa detik, lalu mereka tertawa satu sama lain. Bailin tiba-tiba muncul dan bertepuk tangan melihat drama antara Astara dan Jiarong.
__ADS_1
"Jadi ini kisah cinta sepasang manusia," ucap Bailin.
"Bailin, kenapa kau ada di sini?" tanya Astara yang naik ke atas di ikuti Jiarong.
"Aku sudah menduga kau ada di sini, tapi aku tidak menduga kalau kau sedang pacaran dengan anak ketua sekte."
Mereka berdua salah tingkah, dengan senyum yang di sembunyikan dibalik baju hanfu lengan panjangnya, Jiarong pergi dengan langkah cepat. Bailin terkekeh melihat Jiarong.
"Kau apakan itu Jiarong?" tanya Bailin penasaran.
"Kau salah paham, aku dan nona Jiarong tidak ada hubungan apa-apa," jawab Astara.
"Kau tidak perlu berbohong kepadaku, aku tau kau suka dengan Jiarong," ucap Bailin.
Astara menatap Bailin cukup lama, lalu menyuruhnya mendekat. "Ini hanya antara kira berdua."
"Kau bisa mempercayaiku," ucap Bailin.
"Gunakan ilmu sihirmu untuk melihat apakah Jiarong menyukaiku," bisik Astara.
Bailin mengacungkan jempolnya, segera dia merubah dirinya menjadi seekor tikus. Dengan cepat Bailin berlari menuju kamar Jiarong. Jiarong terlihat duduk di tepi ranjang sambil tersenyum sendiri memainkan ujung rambutnya. Jiarong mengambil kuas duduk di kertas putih kosong, lalu dia mulai menggambar sesuatu.
__ADS_1