
"Mau apa kau," sergah Bailin.
"Diam kau tikus bodoh, aku ingin membantu reinkarnasi dewa Narendra," jawab Suli.
"Apa yang kau dapatkan?" tanya Astara.
"Baiklah, aku akan mulai." Suli duduk bersila menggunakan energi ki mendeteksi energi yang sama dengan aroma tubuh Astara.
Suli membuka mata.
"Apa kau menemukan sesuatu?" tanya Astara.
Suli Mengangguk. "Aku merasakan energi yang sama dengan pendekar di sebelah utara.
"Kalau begitu kita kesana," sahut Bailin.
Mereka semua setuju. Suli menatap sembab gua yang ditempatinya selama seribu lima ratus tahun saat berangkat. Penantiannya selama ini sia-sia sudah. Sosok yang dirindukan tidak kunjung datang.
Bailin meneriaki Suli. "Kalau kau masih sayang dengan tempat tinggalmu, lebih baik tidak usah ikut!"
"Diam kau!" Suli berlari mengejar Bailin yang selalu membuatnya kesal.
Di kahyangan, kaisar kegelapan Soma begitu marah dengan para dewa. Kaisar kegelapan merasa, para dewa tidak becus menjalankan tugasnya. Bola pengeintai yang dikirim ke bumi tidak mampu menemukan keberadaan Astara.
"Yang Mulia, sepertinya mereka sudah tau kelemahan bola pengintai ini," ucap dewa pagoda.
__ADS_1
Kaisar kegelapan yang habis kesabaran menghancurkan bola pengintai dengan energi api. Dewa pagoda pun terbelakak.
"Yang Mulia, kenapa menghancurkan bola pengintai. Walaupun, tidak bisa menemukan Astara, tapi bola pengintai masih bisa melihat keadaan di bumi."
"Kenapa, kau ingin melawanku!" seru kaisar kegelapan.
"Hamba tidak berani, Yang Mulia." Dewa pagoda menunduk.
"Cepat atau lambat, Aku pasti akan menemukan mereka, tinggal tunggu waktu saja," ucap kaisar kegelapan.
Di negeri pasir, Astara, Bailin dan anggota baru Suli berjalan menuju arah utara.
"Kenapa kita tidak terbang saja?" tanya Suli dengan wajah sayu karena kelelahan.
"Tidak bisa, kalau kita menggunakan ilmu peringan tubuh, keberadaan kita akan mudah diketahui para dewa," jawab Astara.
"Tikus busuk, kau selalu saja membuatku kesal," cibir Suli.
Bailin menggerutu mengejek Suli.
"Pendekar Astara, bagaimana kalau kita istirahat dulu, aku sudah lelah berjalan seharian," ucap Suli yang sudah tidak kuat lagi berjalan.
"Katanya siluman yang bertapa selama seribu tahun, baru berjalan satu hari sudah tidak kuat," cibir Bailin.
"Diam kau tikus busuk, aku hanya belum terbiasa saja seharian terkena sinar matahari," jawab Suli kesal
__ADS_1
"Baiklah, kita istirahat sebentar di bawah pohon itu." Astara menuju pohon besar yang berada di ujung jalan.
Suli dengan segera mengambil air minum yang dibagikan Astara, lalu meneguknya dengan terburu-buru.
"Jangan dihabiskan, itu buat bertiga," ucap Bailin.
"Iya aku tau." Suli memberi botol minuman itu kepada Bailin.
"Suli, bagaimana perjalanan kita?" tanya Astara.
"Masih jauh, Pendekar. mungkin setengah perjalanan lagi," jawab Suli.
"Baiklah, hari ini kita bermalam di sini, besok kita lanjutkan perjalanan," ucap Astara.
Suli membaca mantra pembatas supaya siluman dan hewan buas tidak bisa mengganggu mereka.
Di ruang waktu, Jiarong terlihat berlatih dengan serius. sepuluh tahun di ruang waktu sudah dilalui. Tahap pertama sudah selesai dilakukan.
"Bagus, Jiarong. Kau melakukannya dengan baik," ucap dewi bulan.
"Ini berkat bimbingan dewi bulan," balas Jiarong merendah.
Dewi bulan menggunakan sihirnya untuk menciptakan sebuah danau.
"Danau?" Jiarong menatap heran.
__ADS_1
"Ini latihan berikutnya, kau harus bisa bertapa di atas air," ucap dewi bulan.