
Kura-kura raksasa itu memutar tempurungnya dengan kecepatan tinggi. Changguan mencoba bertahan, namun putaran tempurung itu terlalu kuat, dia terpental dengan kepalanya yang terasa pusing. Putaran tempurung kura-kura itu semakin kencang mengarah ke Changguan.
Changguan berhasil menghindarinya, tapi putaran tempurung itu terus mengejarnya. Changguan akhirnya memisahkan tubuhnya menjadi tiga bagian. Tempurung kura-kura itu sejenak berhenti berputar. Changguan yang terpisah menjadi tiga bagian mengepung kura-kura itu, lalu mengeluarkan energi api dari dalam tubuhnya.
Kura-kura itu kembali berputar lebih cepat hingga mengeluarkan putaran angin tornado. Api yang keluar dari mulut Changguan pun tak terkendali dan berbalik menghantamnya. Mulut Changguan terluka karena energi api yang diciptakannya sendiri.
Satu persatu kura-kura itu menyerang ketiga tubuh Changguan hingga terpental menatap bongkahan es.Cangguan yang terluka menyatukan kembali tubuhnya. Raungan dan tatapannya yang tajam terlihat di wajahnya.
"Hahaha ... ternyata hewan spiritual dewa Narendra begitu lemah. Senang rasanya memiliki tempurung yang tidak bisa dikalahkan," ucap Goroi si kura-kura.
"Kau jangan sombong dulu Hewan pemakan lumut." Changguan menyerang dengan lari berkecepatan tinggi.
Kura-kura itu kembali memutar tempurungnya menabrak Changguan hingga terpental menatap bongkahan es.
__ADS_1
"Hahaha ... kau bukanlah lawanku makhluk aneh," cibir Goroi.
dewa angin keluar dari dalam tempurung kura-kura raksasa. Dengan kekuatan yang sudah pulih, dewa angin mengeluarkan badai yang membuat Changguan hanya bisa bertahan.
"Goroi, kau melakukan tugas dengan baik," ucap dewa angin.
"Hai dewa angin, biar aku yang melawan singa itu, kau urus saja reinkarnasi dewa Narendra," ucap Goroi.
Astara keluar dengan aura hijau yang menyala , lalu menyelamatkan Changguan dari badai yang membuatnya tidak bisa bergerak. Dewa angin yang melihat Astara menghentikan serangannya pun geram.
"Coba saja kalau kau bisa." Astara melesat menyerang dewa angin dengan tinjunya. Dewa angin berhasil menghindarinya, aura keemasan kembali dikeluarkan dewa angin. Astara berhenti sejenak, dia kembali menggunakan ribuan bayangannya untuk mengecoh dewa angin.
Dewa angin tampak emosi, menghancurkan satu per satu cloningan Astara.Tubuh Astara yang asli bersembunyi sembari menunggu aura keemasan itu memudar. Aura kegelapan itu mulai memudar, dengan cepat Astara menggunakan tinju dengan kekuatan penuh mengenai telak perut dewa angin. Tapi, tubuh dewa angin tiba-tiba berubah menjadi asap hitam dan mengurung Astara. Dewa angin menggunakan tehnik ilusi.
__ADS_1
"Hahaha ... kau pikir bisa mengalahkanku dengan jurus yang sama. Kali ini kau berada di alam ilusiku. di sini akulah rajanya." Suara dewa angin menggema di segala arah.
"Keluar kau, hadapi aku!" teriak Astara.
Tiba-tiba perut Astara ada yang meninju hingga dia menahan napas.
"Kau jangan berlagak di alam ilusiku!" Dagu Astara kembali menerima pukulan hingga bibirnya berdarah.
Astara merasa aneh, kenapa di dalam tehnik ilusi dewa angin bisa memukulnya. Astara pun menggunakan aura hijau, lalu melesat mencari jalan keluar tempat ini. Astara melihat cahaya, tapi dengan cepat cahaya itu tertutup. Astara kembali terbang mencari jalan keluar terlihat cahaya, tapi kembali tertutup dan begitu seterusnya.
"Dimana sebenarnya aku ini?"gumam Astara.
Astara kembali teringat ucapan gurunya di sekte bunga teratai.
__ADS_1
"Saat kau terdesak, gunakan ketenangan batinmu untuk keluar dari pikiran yang membelenggumu."