Dewa Tiga Dunia

Dewa Tiga Dunia
Berniat Menguasai Kahyangan.


__ADS_3

Hawa panas dari dewa matahari pun lenyap, tombak itu menyerap energi yang ada di dalam tubuh dewa matahari. Tubuhnya semakin kurus. Dewa angin dan dewa hujan berusaha nencabut tombak itu, tapi terlihat percuma. Tombak dewa itu tidak bergeming dari perut dewa matahari. Nutrisi dari dewa matahari terhisap hingga tinggal tulang dan kulit.


"Hahaha ... itu balasan karena telah membangkang." Tombak dewa perang kembali ke tuannya.


"Kurang ajar kau, Soma! Beraninya kau membunuh dewa matahari!" seru dewa hujan.


Dewa Soma menghirup udara dalam-dalam, lalu menatap tajam kerah dewa angin dan dewa hujan. "Berikutnya adalah kalian."


Dewa perang melesat meninju perut dewa angin dan dewa hujan secara bersamaan. Mereka berdua terpental jauh menatap taman tempat permaisuri dan dayang-dayangnya merangkai bunga.


Para dayang permaisuri berteriak histeris karena ada ledakan besar menuju taman. Dewa angin dan dewa hujan terluka parah, beberapa tulang mereka patah. Mereka berdua sudah tidak bisa bertarung lagi.


"Tak kusangka Soma tega melakukan hal seperti ini," ucap dewa angin.

__ADS_1


Dewa angin teringat masa-masa saat mereka masih belajar dengan tabib Jianli. Dewa perang anak yang paling pemalu namun memiliki otak yang cerdas. Dewa hujan dan dewa angin selalu mengajak dewa perang untuk mengambil makanan yang ada di dapur, lalu diberikan kepada anak elang yang kelaparan. Anak elang itu sekarang menjadi hewan spiritual dewa perang yang siap membantu kapan saja jika dipanggil.


Melihat semua lawannya sekarat, dewa perang menggunakan aura kegelapan untuk mengendalikan para dewa yang dikalahkannya menjadi pengikutnya. Aura hitam itu masuk ke dalam dada dan pikiran para dewa hingga jiwa mereka tertutup dan hanya mengikuti perintah dewa perang.


Dewa pagoda, dewa petir, empat ksatria langit, dewa angin, dan dewa hujan kembali bangkit dan berlutut menghadap dewa perang.


"Hormat kepada dewa perang." Serentak para dewa memberi salam penghormatan. Bibir dan zirah perang mereka pun berubah menjadi hitam karena aura kegelapan yang menguasai tubuh mereka.


Di gua magma, Xiao Yu, Jiarong dan beruang kutub berhasil kembali.


"Kalian kembali, apa kalian berhasil mengambil daun pohon kehidupan?" tanya Bailin penasaran.


Xiao Yu menggeleng. "Di kahyangan sedang terjadi kekacauan. Kami tidak bisa masuk ke sana, tapi dewa bumi yang menggantikan kami."

__ADS_1


"Kenapa kalian tidak menunggu di perbatasan!?" teriak Bailin.


"Keadaan terlalu gawat Bailin, kami beruntung bisa lolos dari pertarungan para dewa," jawab Xiao Yu.


"Kalau begitu, kalian jaga Astara. Biar aku menunggu dewa bumi di batas pintu gerbang langit," ucap Bailin.


Xiao Yu mengangguk bergantian menjaga Astara. Bailin terbang menunggu dewa bumi di gerbang bagian timur kahyangan.


Sedangkan dewa bumi masih dalam perjalanan ke bumi. Dewa perang dengan kekuatan aura kegelapan mengetahui keberadaan dewa bumi. Dia memerintahkan dewa petir untuk melumpuhkan dewa bumi yang sedang membawa daun pohon kehidupan. Dewa petir berangkat menuju gerbang timur. Dewa bumi merasakan Aura yang jahat menuju ke arahnya.


"Dewa petir? Ada apa denganmu?" Dewa bumi heran dengan penampilan dewa petir yang berubah garang saat berada di depannya.


Tanpa banyak bicara dewa petir mengeluarkan palu dewa untuk melukai dewa bumi. Sebuah petir berwarna hitam melesat ke arah dewa bumi.

__ADS_1


__ADS_2