
Wajah Astara mendekat ke bibir Jiarong. Mata mereka berdua saling terpejam saat bibir mereka saling beradu. Sentuhan demi sentuhan mengalir hangat di setiap darah yang mengalir. Jiarong dan Astara terbawa di kenikmatan dunia. Peluh keringat bercucuran di antara dua sejoli itu. Malam pertama dilalui sebagaimana mestinya pengantin baru.
Pagi berkumandang, Astara dan Jiarong masih nyaman berada di ranjang pengantin. Matahari menyilaukan mata Astara hingga membuat dia memicing.
"Istriku sudah pagi," ucap Astara membangunkan Jiarong.
Jiarong membuka matanya dengan malas, menggerakkan tubuhnya. Tanpa disadari Bailin sudah berada di depan mereka sambil makan kue. Astara dan Jiarong yang hanya menutupi tubuh mereka dengan selimut pun berteriak.
"Kalian ini kenapa berteriak?!" Bailin terlihat bingung sendiri.
"Sejak kapan kau ada di sini!?" teriak Astara.
"Aku sudah ada di sini satu jam yang lalu. Aku ingin membangunkan kalian, tapi karena kalian terlihat nyenyak, jadi aku menunggu di sini," ucap Bailin.
Jiarong terlihat malu bersembunyi di balik tubuh Astara.
"Kalian ini kenapa sih?" Bailin berdiri hendak mendekat ke Astara dan Jiarong.
"Jangan bergerak, kau tidak boleh mendekat ke sini," ucap Astara.
__ADS_1
"Kenapa kalian tiba-tiba aneh seperti ini." Bailin masih belum mengerti.
"Lebih baik kau keluar dulu, Bailin. Kami mau ganti baju dulu," ucap Astara.
"Ya sudah cepat ganti baju. aku malas kalau harus keluar. Di luar sedang ada kerja bakti, nanti aku di suruh kerja lagi," ucap Bailin.
"Bailin keluar!" Jiarong sudah kehilangan kesabaran, dia melemparkan bantal, guling ke arah Bailin. Bailin pun berlari keluar dari kamar Jiarong dan Astara.
Astara mengjela napas lega, sedangkan Jiarong memanyunkan bibirnya.
"Suamiku, Bailin sudah melihat bentuk tubuhku," ucap Jiarong cemberut.
Di istana asyura, Zhang Yutang terlihat sudah mulai siuman.
"Kau sudah siuman," ucap Liyan yang berada disamping Yutang.
"Dimana aku, siapa kamu?" tanya Zhang Yutang.
"Kau berada di istana asyura," jawab Liyan
__ADS_1
"Istana asyura?" Zhang Yutang menatap lamat-lamat.
Rabah datang menghampiri Yutang. "Kau sudah siuman rupanya."
"Kau?"
"Aku yang membawamu ke sini. Kau tidak perlu takut, kami prajurit asyura akan membantumu," ucap Rabah.
"Kenapa kau tidak berada di sekte Lin'an?" tanya Zhang Yutang.
"Semua orang sudah tau identitasku, aku tidak bisa lagi kembali ke sana," jawab Rabah.
"Apa rencana paduka?" tanya Liyan.
"Kita akan membangkitkan raja asyura, hanya dia orang yang bisa melawan dewa Narendra," jawab Rabah.
"Zhang Yutang, sebentar lagi malam bulan purnama. Kali ini kau harus bisa mengambil empat darah dewa. Setelah raja Asyura bangkit, kita serang lembah Lin'an. Dengan begini kau bisa merebut Jiarong dari tanganmu," ucap Liyan.
Zhang Yutang mendongak ke atas dengan mata tajam. Dia tidak sabar membunuh Astara dan merebut Jiarong dari sisinya.
__ADS_1
Di lembah Lin'an, Astara, Xiao Yu, dan Bailin membentuk formaasi segitiga untuk menghancurkan pelindung gaib di danau Lin'an. Dengan penyatuan energi ki mereka bertiga, pelindung gaib itu pun hancur. Namun, danau yang tadinya tenang mulai bergemuruh. Seekor singa berkepala tiga keluar dari dalam sungai.