
Astara melesat menghantam Rabah menghancurkan tebing yang ada di depannya. Rabah tanpa terduga bisa menghindari serangannya Astara, walaupun dengan susah payah.
"Sialan kau Astara!" pekik Rabah dengan darah mengucur di tangan kirinya.
Astara kembali melakukan serangan. Kali ini dia mengkloning tubuhnya menjadi ratusan dirinya. Rabah yang melihatnya terkejut, dia segera menggunakan pelindung sihir untuk menahan serangan ribuan bayangan Astara.
Serangan berdatangan dari berbagai arah. Namun, dengan pelindung sihirnya, Rabah mampu bertahan. Tanah yang diinjak Rabah tiba-tiba retak, bayangan Astara muncul dari bawah tanah dan siap meninju Rabah, tapi, Rabah melindungi dirinya dengan kedua sayapnya.
Bayangan Astara masih mengepung Rabah, kali ini Astara menggunakan jurus petir untuk menghancurkan pelindung sihir Rabah. Ratusan petir menyala terang memghantam Rabah dan sekelilingnya. Rabah pun tidak berdaya, pelindung sihirnya hancur dan tangan kirinya putus.
Bailin yang melihatnya mencari tempat perlindungan. Akan sangat berbahaya bila petir itu mengenai Jiarong. Napas Rabah mulai terengah-engah. Astara dengan mode dewanya masih terlalu kuat untuk Rabah.
"Aku akan kembali dengan kekuatan yang lebih besar lagi." Rabah kabur mengubah tubuhnya menjadi asap hitam.
Cahaya terang yang ada di kening dan matanya pun meredup. Astara merasa kelelahan dan terjatuh dari atas. Bailin menggunakan ilmu sihirnya untuk menangkap tubuh Astara.
"Bailin, aku lelah," ucap Astara lirih dengan wajah sayu.
"Astara." Jiarong menggoyangkan tubuh Astara terlihat khawatir.
__ADS_1
"Sudah tidak apa-apa, dia hanya kelelahan," ucap Bailin.
"Biar aku periksa keadaannya." Jiarong memberikan sebuah pil obat untuk mengembalikan stamina Astara.
"Apa itu?" tanya Bailin.
"Ini pil ginseng merah, biar staminanya cepat pulih," jawab Jiarong.
"Kenapa kau tidak memakai air penyembuhan saja," ucap Bailin.
"Air penyembuhan untuk mengobati luka. biarkan Astara sadar dulu."
Di dunia asyura. Rabah terlihat jatuh kesakitan mehanan luka yang dia alami. salah dua prajurit asyura membantu Rabah berjalan menuju ruang penyembuhan.
"Paduka, apa yang terjadi," ucap Liyan saat Rabah tebaring di ruang penyembuhan asyura.
"Aku baru saja bertarung dengan reinkarnasi dewa Narendra. Dia masih terlalu kuat untuk kita." Rabah terbangun, lalu dia mengerang kuat. Tangan kiri Rabah yang terputus kembali muncul.
Liyan sang panglima asyura dari istana timur pun terkejut dengan apa yang ditunjukan Rabah.
__ADS_1
"Ini berkat gulungan langit yang aku pelajari, aku bisa mengembalikan anggota tubuhku yang hilang," ucap Rabah.
Liyan terlihat lega. "Untunglah tangan paduka sudah kembali."
"Bagaimana keadaan Zhang Yutang?" tanya Rabah.
"Dia belum sadarkan diri, Paduka."
"Berikan ini kepada Zhang Yutang." Rabah memberikan butiran darah kepada Liyan.
"Darah siapa ini?" tanya Liyan.
"Itu adalah darah dari reinkarnasi dewa Narendra. Aku mengambilnya saat pertarungan tadi," jawab Rabah.
"Baik, hamba akan segera memberikannya kepada raja asyura." Liyan ke ruangan Zhang Yutang memberikan darah ini kepada raja asyura yang ada di dalam diri Zhang Yutang.
"Aku mengenal darah ini," ucap raja asyura dengan aungannya di dalam diri Zhang Yutang.
"itu adalah darah dari reinkarnasi dewa Narendra. Paduka Rabah yang mendapatkannya untuk raja asyura," jawab Liyan.
__ADS_1
"Rupanya begitu, darah ini begitu wangi dan segar. Aku merasakan kekuatan hebat saat meminum darah ini. Aku tidak sabar ingin melihat reinkarnasi dewa Narendra itu," ucap raja asyura.