Dewa Tiga Dunia

Dewa Tiga Dunia
Dewi Bulan Berhasil Ditemukan.


__ADS_3

Lubang itu kembali tertutup batu besar. Jiarong dan Xiao Yu yang melihat khawatir terhadap Astara dan Bailin. Xiao Yu menahan Jiarong untuk tidak melakukan tindakan bodoh.


"Tenanglah, Putri. Mereka pasti Selamat. Mungkin dewi bulan ada di dalam sana."


Jiarong terduduk lemas sambil terisak mengkhawatirkan Astara dan Bailin.


Sedangkan Astara dan Bailin dibawa lubang gravitasi itu ke sebuah gua yang berair dan gelap.


"Dimana ini?" Astara melihat ke segala arah sambil berjalan mengikuti aliran air.


"Gua apa ini. Hey, apa di sini ada orang!" panggil Bailin.


"Bailin jangan asal bicara," tegur Astara.


"Iya-iya, aku hanya ingin mengetes saja," jawab Bailin.


"Siapa kalian." Terdengar suara perempuan menggema di dalam gua.


"Kau dengar itu, Astara? Ada suara seorang wanita," ucap Bailin.


"Kenapa kalian bisa datang ke tempat gelap seperti ini!" Suara itu kembali bergema.


"Siapa kamu?!" tanya Astara dengan tatapan waspada.


"Aku sudah lama mendiami tempat ini," jawab suara itu.


"Kalau begitu tunjukan wujudmu," ucap Bailin.

__ADS_1


"Aku sedang di kurung di sini."


Astara mengeluarkan pedang Narendra untuk menerangi gua ini. Cahaya merah dari pedang Narendra menjadikan gua itu menjadi terang.


"Cahaya apa ini, sepertinya aku mengenali cahaya merah ini." Suara itu kembali bergema.


"Ini cahaya dari pedang Narendra," ucap Astara.


"Apakah kau dewa Narendra? Lama tidak bertemu, ada apa kau kemari?" tanya suara yang menggema itu.


"kami sedang mencari dewi bulan," jawab Astara.


"Dewi bulan? Akulah dewi bulan."


Astara dan Bailin saling pandang.


"Mencariku? Buat apa?" tanya dewi bulan.


"Ceritanya panjang, keluarlah dulu. Aku akan menjelaskan padamu," ucap Bailin.


"Aku sedang dikurung di penjara yang diberi mantra budha, sulit bagiku keluar dari sini," jawab dewi bulan.


"Tunjukan dimana penjara itu!" teriak Astara.


"Ada di ujung aliran air ini."


Bailin dan Astara segera belari mengikuti aliran air. Seorang wanita cantik berbaju hanfu biru sedang duduk di undakan batu alam.

__ADS_1


"Dewi bulan." Bailin mendekat, namun badannya terpental saat mendekati penjara itu.


"Bailin, kau tidak apa-apa?" tanya Astara.


"Aku tidak apa-apa. Cepat hancurkan mantra budha itu," ucap Bailin.


Dengan sekali tebas mantra budha itu hancur. Dewi bulan dengan anggun melangkah keluar dari penjara.


"Terima kasih, Dewa Narendra."


Astara tersenyum simpul. "Panggil aku Astara."


"Astara, kenapa?" tanya dewi bulan heran.


"Haiya ... sudah jangan banyak tanya, cepat segera keluar dari tempat ini, kami membutuhkan kekuatanmu," sahut Bailin.


Tiba-tiba terjadi goncangan, air danau yang tadi terhisap kembali naik mnghantam mereka bertiga. Astara memegang tangan Bailin dan dewi bulan, lalu menggunakan energi batu kristal hijau untuk melesat keluar dari gua itu. Jiarong dan Xiao Yu yang melihat Astara dan Bailin berhasil keluar kembali riang.


"Lihatlah putri Jiarong, pendekar Astara berhasil keluar. Danau amer juga kembali mengeluarkan air.


Jiarong dengan cepat memeluk Astara erat sambil terisak. "Aku khawatir kau tidak akan selamat.


Astara tertawa malu. "Tenanglah istriku, aku tidak apa-apa."


Xiao Yu tidak mau kalah, dia memegang telapak tangan Bailin sambil tersenyum manja. "Apa kau tidak apa-apa, Bailin."


Bailin dengan sikap acuh melepas pegangan tangan Xiao Yu. "Aku tidak apa-apa."

__ADS_1


Xiao yu terkejut, memberangutkan wajah. Dewi bulan melihat lamat-lamat wajah Jiarong yang berada di dekatnya.


__ADS_2