Dewa Tiga Dunia

Dewa Tiga Dunia
Hari Pernikahan.


__ADS_3

"Ngomong-ngomong besok adalah pernikahan kalian," ucap Gongfu.


Astara dan Jiarong pun terkejut. Mereka berdua lupa kalau besok akan menikah.


"Ya ampun, bisa-bisanya lupa hari pernikahan." Bailin menepuk keningnya.


Gongfu tertawa. "Sudah-sudah kalian bersiap-siaplah."


Jiarong dan Gongfu keluar dari ruangan Astara. Detak jantung Astara tiba-tiba berdetak tidak menentu setelah tau besok adalah hari pernikahannya bersama Jiarong.


"Bailin," panggil Astara dengan tatapan kosong.


"Apa?"


"Apa kau pernah menikah?" tanya Astara pelan.


"Tentu saja tidak. Selama hidup aku hanya mengabdi kepada dewa bumi. Tapi, aku sering melihat manusia menikah. Itu adalah hari bahagia," jawab Bailin.


"Kau bilang itu hari bahagia, tapi kenapa aku merasa sangat gugup," ucap Astara.


"Sudah jangan banyak tanya, lakukan saja. Yang jelas saat manusia menikah terdapat banyak makanan enak," ucap Bailin sambil tertawa.


Astara segera mengirim surat kepada orang tuanya. Dengan kekuatan sihirnya surat itu sampai di tangan Caraka dan Sugandhi.

__ADS_1


"Istriku ada surat dari Astara," ucap Caraka riang.


Sugandhi segera menghampiri suaminya tersebut. Mereka berdua membaca surat itu.


"Ternyata anak kita minta restu atas pernikahannya dengan putri sekte Lin'an," ucap Caraka terkekeh.


"Biar aku yang membalas suratnya," ucap Sugandhi. Dengan kekuatan sihirnya surat itu sampai ke tangan Astara. Bailin penasaran ingin melihat balasan dari surat itu. Astara tampak lega orang tua mendukung melangsungkan pernikahannya.


...***...


Pernikahan antara astara dan Jiarong pun di gelar. Astara terlihat tampan dengan jubah panjang berwarna merah. Jiarong terlihat anggun dengan gaun panjang merah bermotif api melambangkan cinta yang membara. Mereka berdua saling berhadapan di depan penghulu.


"Beri salam kepada para tetua," ucap Penghulu.


"Beri hormat kepada langit dan bumi!" seru sang penghulu.


Astara dan Jiarong mengambil hio ( lidi merah) yang sudah menyala, lalu ditancapkan di sebuah wadah dupa. Mereka berlutut dan bersujud memberi hormat pada sang semesta tanda pernikahan mereka dikaruniai.


"Selamat untuk kedua mempelai!" Sang penghulu menyiram sedikit air ke pasangan pengantin dengan wadah kecil berisi bunga yang ada di tangannya.


Para tamu undangan yang hadir pun bertepuk tangan memberi Selamat kepada Astara dan Jiarong. Mereka menyalami tangan Astara dan Jiarong saat sedang berjalan menuju kamar pengantin. Bailin mencoba masuk hendak melihat apa yang dilakukan Astara dan Jiarong.


"Kau mau kemana?" tanya Xiao Yu menghalangi langkah Bailin.

__ADS_1


"Aku mau masuk, minggir." Bailin terlihat penasaran.


"Tidak boleh, saat pengantin sedang ada di kamar. Itu sudah menjadi urusan mereka berdua. Kau tidak boleh ikut campur," ucap Xiao Yu ketus.


"Memangnya kenapa? Aku ini sahabat Astara dari kecil."


Xiao Yu terus menghalangi Bailin. "Kau harus bisa membedakan sahabat dan suami istri."


"Bailin apa yang di katakan Xiao Yu benar. Biarkan Astara dan Jiarong bersenang-senang," ucap Gongfu yang tiba-tiba datang.


"Bersenang-senang, kenapa mereka tidak mengajakku," ucap Bailin.


"Sudah-sudah, lebih baik kita makan di aula perjamuan," ucap Gongfu.


"Boleh." Bailin mengikuti Gongfu dari belakang.


Sedangkan di kamar, Astara tengah membuka penutup wajah Jiarong duduk di tepi ranjang.


"Kau cantik sekali hari ini," ucap Astara kagum.


Jiarong tersenyum menatap Astara. "Kau juga terlihat tampan."


Mereka berdua melempar senyum saling menatap penuh arti.

__ADS_1


__ADS_2