Dewa Tiga Dunia

Dewa Tiga Dunia
Kecurigaan.


__ADS_3

Ketukan itu semakin keras, Hai Xuan membuka pintu.


"Ada apa ini?" tanya Hai Xuan.


"Kami mencium bau asyura," jawab Bailin.


Hai Xuan terkekeh. "Mana ada asyura di sini."


Bailin menatap tajam ke segala arah ruangan. "Aku yakin itu bau asyura."


Hai Xuan pun emosi mencengkram baju Bailin. "Hey siluman tikus, jangan menakutiku. Kau pikir aku bodoh hah!"


"Senior Hai Xuan, maafkan kami, mungkin kami salah. Tolong lepaskan teman saya," ucap Astara.


Hai Xuan menatap Astara tajam hingga matanya menyala. "Jaga siluman tikus ini, kalau tidak, kapanpun aku bisa membunuhnya."


Astara Tesentak melihat mata dari Hai Xuan.


"Dasar senior gila, kau pikir kau bisa mengalahkanku," cibir Bailin.


Astara menepuk pundak Bailin, menyuruhnya tidak memperpanjang masalah. Hai Xuan menutup pintu kamarnya.


"Kau merasakan juga 'kan, Astara?" tanya Bailin kesal.


"Lebih baik kita bahas di kamar saja, tidak enak kalau di sini," ucap Astara.


Di kamar Bailin terlihat marah-marah sendiri.

__ADS_1


"Dia itu sebenarnya siapa sih! Jangan-jangan dia kaum asyura yang menyamar," ucap Bailin.


"Mana mungkin, kau pernah bilang 'kan, kaum asyura tidak punya kemampuan itu," ucap Astara.


"Bisa saja, seratus tahun yang lalu raja asyura mencuri gulungan dari langit."


"Bukankah kau bilang raja asyura jiwanya sudah di kunci," ucap Astara.


"Lebih baik kita bertanya dengan dewa bumi," ucap Bailin terlihat pusing.


Astara mengangguk, dia menghentakkan satu kakinya sebanyak tiga kali. Dewa bumi pun keluar dari dalam tanah.


"Ada apa kau memanggilku Astara?"


"Aku ingin bertanya sesuatu kepadamu?"


"Itu yang ingin kami tanyakan," seru Bailin.


"Apakah raja asyura masih menyimpan gulungan langit?"


"Tidak mungkin, jiwa raja asyura sudah dikunci di dalam guci dewa milik raja naga laut timur. Kalaupun guci itu berhasil direbut, tubuhnya tidak bisa kembali utuh," ucap dewa bumi.


"Terima kasih atas informasinya dewa bumi," Astara memberi salam penghormatan.


Dewa bumi pun pergi.


"Penjelasan dewa bumi malah membuatku semakin bingung," ucap Bailin.

__ADS_1


"Sudahlah Bailin, yang penting kita tetap waspada."


Suara seruling terdengar di telinga Astara. Suara seruling ini milik Jiarong. Astara pun terpanggil.


"Bailin aku keluar dulu." Astara keluar kamar dengan teburu-buru.


"Heh, kau mau kemana?! Hari ini banyak orang yang membuatku pusing." Bailin pun merebahkan diri di kamarnya.


Astara terbang menyambut suara seruling itu. Jiarong terlihat ada di atas atap.


"Nona Jiarong."


Jiarong tersenyum melihat Astara. "Pendekar ikat kepala."


"Kau sengaja memainkan seruling untuk memanggilku," Astara tersenyum mendekati Jiarong.


"Hanya seruling ini yang menjadi isi hatiku, aku memainkannya untuk meneruskan percakapan kita tadi siang." Jiarong terdiam sejenak. "Apa yang aku dengar tadi siang tidak salah?"


"Kau tidak salah, aku mencintaimu saat pertama kali aku melihatmu di keramaian," ucap Astara.


"Aku mencintaimu saat kau pertama mendengar suara seruling ku ini," balas Jiarong.


"Sepertinya kau dan aku sudah ditakdirkan bersama." Astara mendekap tubuh Jiarong.


Jiarong terbenam di dada bidang Astara. "Selama sepuluh tahun, belum ada orang yang mampu mendengar suara seruling ini. Kau tau kenapa aku sering memainkannya?"


Astara menggeleng.

__ADS_1


"Karena aku ingin mendapatkan teman hidup yang mencintaiku apa adanya," jawab Jiarong lirih.


__ADS_2