
Pedang Narendra hanya bisa menembus Raizo tanpa melukainya karena terbuat dari petir.
"Monster itu tidak bisa di sentuh," ucap Astara terkejut.
Dewa petir dengan kekuatan Raizo kembali menyerang. Astara hanya bisa menghindar dengan gerakan cepat. Bongkahan gunung es pun hancur terkena serangan listrik.
"Sial, bagaimana aku bisa menyerangnya."
"Astara, biar aku yang menghadapi monster petir itu." Changguan berbicara dalam diri Astara.
"Changguan, baiklah!" Astara mengangkat sarung pedang, lalu memanggil nama Changguan.
Singa beekepala tiga itu keluar dan langsung menyerang Monster petir Raizo. Namun, sama seperti serangan sebelumnya, tubuh Monster itu tidak bisa dilukai, justru Changguan yang terkena sengatan listrik dari tubuh monster Raizo.
"Changguan, kau tidak apa-apa?"
Changguan meraung membelah tubuhnya menjadi tiga dan memperbesar ukuran tubuhnya.
"Percuma kalian menyerangku, tehnik Raizo ku ini tidak pernah kalah dari siapapun," ucap dewa petir yang berdiri di pundak Raizo.
__ADS_1
"Astara, kau tahan dia sementara, aku akan mencari cara mngalahkan petir itu," ucap Changguan.
Astara mengangguk. Salah dua tubuh Changguan pergi masuk ke danau amer. Singa yang satu melindungi Astara dari serangan petir.
"Astara naiklah ke punggungku," perintah Changguan.
Astara naik di punggung Changguan. Mereka mengulur waktu dengan menghindari serangan Raizo. Walaupun serangannya kuat, tapi kecepatan tehnik Raizo terlihat lambat. Changguan hewan yang lincah bergerak dengan mudah menghindari serangan Raizo.
"Ayo lawan aku pengecut, jangan menghindari pertarungan," ucap dewa petir yang mulai kesal dengan Astara dan hewan spiritualnya.
Dua Changguan kembali. "Persiapan sudah selesai."
"Sial, apa yang kalian lakukan," ucap dewa petir.
"Petir lemah terhadap tanah, aku sengaja mengulur waktu untuk mengambil lumpur di sungai amer," ucap Changguan sambil meraung keras.
Dewa petir tersenyum sinis. "Kau pikir tehnik ini bisa mengalahkanku."
Dewa petir mengangkat palu dewa untuk memanggil ribuan petir bergabung ke tubuh Raizo. Petir dari langit menyambar ke tubuh Raizo, dia kembali menjadi raksasa bahkan di tangannya membawa pedang petir. Astara dan ketiga Changguan pun mundur untuk menghindari kilatan petir.
__ADS_1
"Sial, monster itu kembali membesar," ucap Astara.
"Selama dia bisa memanggil petir, makhluk itu akan kembali lagi," ucap Changguan
"Aku punya ide, kita giring makluk petir dan dewa petir menjauhi tempat ini." Lebih baik kau kembali seperti semula," ucap Astara.
Changguan mengecilkan dan menyatukan tubuh menjadi singa berkepala tiga lagi. Raizo tiba-tiba sudah berada di belakang Astara dan Changguan. Mereka tidak mengetahuinya. Tebasan pedang petir mengenai keduanya. Astara dan Changguan pun terpental hingga meruntuhkan balok es yang padat.
gunung es yang tadinya tenang kini mengeluarkan lahar. Bailin dengan kekuatan menghilangnya segera membawa Xiao Yu dan Jiarong ke tempat yang lebih aman.
Changguan yang melindungi Astara mengalami patah kaki dan luka bakar akibat serangan petir. Astara terbatuk, bangun dari reruntuhan es yang menguburnya.
"Changguan kau tidak apa-apa." Astara menghampiri Changguan.
"Aku butuh istirahat untuk memulihkan kondisiku." Changguan kembali ke sarung pedang Narendra.
Astara menatap tajam dewa petir.
"Hahaha ... Kalau hanya kecepatan, aku bisa mengubah Raizo dengan kecepatan kilat." Raizo kembali bergerak dengan kecepatan kilat, dia berada di belakang Astara.
__ADS_1