
Goroi sang kura-kura raksasa pun menghilang. Changguan segera menghampiri Astara yang terjepit bongkahan es raksasa.
"Astara kau tidak apa-apa?" tanya Changguan sambil menyelamatkan Astara.
Astara tidak menjawab, dia juga mengalami luka yang cukup parah. Changguan membawa Astara ke teman-temannya.
"Jiarong, cepat sembuhkan Astara," ucap Changguan.
Jiarong mengangguk, segera mengambil air penyembuhan menberikannya kepada Astara. Dengan energi ki dari Xiao Yu air penyembuhan itu meresap ke pori-pori Astara.
"Singa berkepala tiga, antarkan aku ke tempat dewa angin," ucap dewi bulan.
Changguan mempersilahkan dewi bulan naik di punggungnya menuju tempat dewa angin yang sekarat.
"Dewa angin, bersabarlah," ucap dewi bulan yang melihat kondisinya.
"Siapa kau?" tanya dewa angin lirih.
Dewi bulan memercikan air yang ada di dalam vas menggunakan tangkai bunga lotus. Seketika itu aura kegelapan yang ada di tubuh dewa angin lenyap. Zirah peraknya kembali seperti semula. Luka tusukan pedang Narendra hilang tanpa berbekas. Dewa angin selamat dari kematian.
Dewa angin memegang kepalanya yang sedikit pusing. "Apa yang terjadi denganku?"
"Kau sudah sadar dewa angin," ucap dewi bulan.
"Kau ...." Dewa angin menatap cukup lama wajah dewi bulan.
__ADS_1
"Aku dewi bulan, apa kau masih mengingatku setelah seribu tahun tidak bertemu."
"Kenapa dewi bulan ada di sini? Bukankah kau di kurung di dunia tanpa arah." Dewa angin masih belum mengerti dewi bulan datang menyelamatlannya.
"Reinkarnasi dewa Narendra yang menyelamatkanku. Kau sadar juga berkat andil besar dari Astara. Sekarang, ikutlah denganku," ucap dewi bulan.
Dewa angin mengguguk, Changguan mengantar dewa angin dan dewi bulan ke tempat Astara.
"Dewa angin, kau sudah sadar rupanya," ucap Bailin saat dewa angin datang.
"Kau adalah tikus kahyangan, Bailin."
"Betul, lama tidak bertemu," jawab Bailin.
"Mereka adalah Jiarong dan Astara," ucap dewi bulan.
"Jadi mereka reinkarnasi Dewa Narendra dan Dewi Jingga?"
dewi bulan mengangguk.
Dewa angin mendongak dan memutar badannya melihat sekitar yang porak-poranda. "Apa aku yang telah melakukan ini semua?"
Bailin menepuk pundak dewa angin. "Kau telah dikendalikan aura kegelapan. Tidak masalah, nanti dewi bulan yang mengembalikan ini semua."
"Bailin, kau jangan seenaknya bicara," tegur Jiarong.
__ADS_1
Bailin menundukan kepala sambil menggerutu tidak jelas.
"Kupikir aku telah dibunuh dewa perang," ucap dewa angin.
"Apa yang telah diperbuat Soma?" tanya dewi bulan.
"Dia yang telah membangkitkan aura kegelapan dan mengalahkan semua dewa yang ada di kahyangan," jawab dewa angin.
"Dewa laknat itu memang sudah jahat dari awal!" Bailin langsung emosi mendengar nama dewa perang.
Dewa bumi datang membawa dewa petir yang diikat dengan rantai emas.
"Dewa bumi, lama tidak berjumpa," ucap dewi bulan.
"Hormat kepada Dewi Bulan."
Dewi bulan tersenyum.
"Saya membawa dewa petir yang masih dikendalikan aura kegelapan. Mohon dewi bulan membantu menyadarkannya," ucap dewa bumi.
Dewi bulan menyiramkan air vas bunga lotus ke arah dewa petir. Aura kegelapan yang ada di dalam diri dewa petir pun hilang. Dewa bumi segera melepas ikatan tali emasnya.
"Dimana aku?" tanya dewa petir bingung melihat sekeliling banyak orang.
"Sudahlah jangan banyak tanya dulu, lebih baik kita segera kembali ke gua magma untuk membicarakan sesuatu yang penting," sahut Bailin.
__ADS_1