
Di gunung emei, Xiao Yu dan dewa bintang sedang merawat Astara dengan ganoderma merah. Tiba-tiba Astara membuka matanya secara perlahan.
"Dimana aku?" tanya Astara lirih.
Xiao Yu berlari kegirangan. "Dewa bintang, pendekar Astara sudah siuman!"
Dewa bintang segera menghampiri Astara, lalu mengecek keadaannya.
"Dewa bintang, dimana ini?" tanya Astara.
"Tenanglah, kau ada di gunung emei," jawab dewa bintang melihat kondisi Astara.
"Xiao Yu, kau ada di sini," ucap Astara saat melihat Xiao Yu.
"Pendekar Astara sudah seharian tidak sadarkan diri." Xiao Yu tersenyum.
"Harusnya dengan lukamu ini, butuh waktu beberapa hari untuk siuman, tapi ternyata aku salah. Kau sembuh dengan cepat, tapi kondisimu masih lemah. Harus istirahat yang cukup," ucap dewa bintang.
Astara masih menatap kosong, lalu dia tiba-tiba tersentak. "Xiao Yu, dimana Jiarong?"
"Putri Jiarong sedang melakukan pelatihan menjadi dewi di ruang waktu dengan dewi bulan," jawab Xiao Yu.
"Bolehkah aku bertemu dengannya?" pinta Astara.
__ADS_1
"Lebih baik kau jangan menemuinya dulu, biarkan dia berlatih menyempurnakan kekuatan dewinya," ucap dewa bintang.
Astara terbelalak saat melihat di sekitarnya hangus terbakar. "Kenapa semua pohon di sini hangus terbakar?"
"Dewa pagoda dan dewa hujan sedang mencari kita, mereka sengaja membakar seluruh hutan untuk memancing kita keluar," jawab dewa bintang.
Astara terlihat geram mengepalkan tangan hingga terlihat otot di sekitar tangannya.
"Kau jangan terlalu memikirkan dulu, lebih baik kita pulihkan kondisi dulu, baru setelah itu kita hadapi dewa pagoda dan dewa hujan." Dewa bintang menepuk pundak Astara.
Astara mengangguk paham.
Sedangkan Bailin dan Suli masih berada di dalam mulut paus raksaaa. Tiba-tiba Suara gemuruh datang dari arah perut Li Shu.
Ikan paus besar itu menyemburkan air dari punggungnya. Bailin dan Suli ikut naik dan terpental menatap ranting pohon, lalu terjatuh ke tanah.
"Pinggangku terasa sakit. Dasar ikan paus sialan, suatu hari akan aku balas perbuatanmu." Bailin kesakitan memegangi pinggangnya.
Sedangkan Suli terlihat tidak apa-apa, dia menghampiri Li Shu mengucapkan terima kasih karena sudah diantar sampai ke negeri bambu. Li Shu meraung sambil melompat, lalu dia pergi menuju laut dalam.
"Suli, tolong sembuhkan pinggangku," ucap Bailin.
Suli menatap Bailin sinis, lalu menonyor kepalanya. "Sembuhkan saja sendiri."
__ADS_1
"Dasar pelit!" umpat Bailin.
Suli tidak peduli, dia terus berjalan mengikuti jalan setapak. Bailin berusaha berlari mengejarnya sambil memegangi pinggangnya yang terasa sakit. Tiba-tiba dari arah depan, segerombolan orang berlari ketakutan.
"Paman apa yang terjadi?" tanya Suli.
"Ada seorang dewa yang sedang mengamuk, mereka membakar perkampungan kami." Pria paruh baya itu terlihat ketakutan.
Suli berlari di susul Bailin, terlihat api berkobar dimana-mana.
"Siapa yang melakukan perbuatan kejam ini?" tanya Bailin kesal.
"Ayo kita kesana," ajak Suli.
Bailin menarik tangan Suli untuk bersembunyi saat tau dewa pagoda dan dewa hujan pelakunya.
"Kenapa kau mengajakku bersembunyi?" tanya Suli kesal.
Bailin menempelkan jari telunjuk ke mulutnya. "Ada dewa pagoda dan dewa hujan, pasti ini perbuatan mereka. Kita bisa celaka kalau berhadapan dengan mereka."
Suli pun melunak dan hanya bisa melihat dari tempat persembunyian.
"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Suli.
__ADS_1