
"Semenjak dewa perdamaian sudah tidak ada kaum Asyura mulai meraja lela di bumi. Apalagi sekarang mereka semakin kuat karena mencuri gukungan langit," ucap Bailin.
Astara dan Bailin tiba-tiba melihat aura hitam masuk ke sekte Lin'an melalui atas.
"Itu kaum Asyura," ucap Astara terkejut.
"Dugaanku benar, ternyata mereka memang sedang mengganggu sekte Lin'an.
"Kita harus ke sana membantu mereka," ucap Astara.
Mereka berdua terbang melewati pintu gerbang berlari mencari Asyura.
"Mau apa kalian!" pekik salah satu penjaga sekte Lin'an.
"Kami melihat kaum Asyura masuk ke sini," ucap Bailin.
"Omong kosong." Murid itu langsung menyerang Bailin dan Astara. Namun, dengan sekali pukulan menggunakan telapak tangan murid dari sekte Lin'an itu terjatuh.
Para murid yang melihatnya pun tidak terima, mereka langsung mengeluarkan pedang membentuk formasi mengepung Astara dan Bailin.
"Siapa kalian!"
__ADS_1
"Hormat saya dari Negeri Sabit. Kami datang ke sini bukan untuk mencari musuh," ucap Astara sopan.
"Lalu kenapa kalian masuk secara tidak sopan!"
"Kami melihat Aura hitam masuk ke sekte ini, mohon atas kelancangan saya dan teman saya," ucap Astara.
"Mereka berbohong! Tadi mereka juga memaksa masuk ke sini!" hardik seorang penjaga gerbang.
Tanpa basa-basi para murid sekte Lin'an menyerang Astara dan Bailin dengan membabi buta. Astara dan Bailin terpaksa melawan mereka. Aatara menggunakan jurus dinding pertahanan dari sekte bunga teratai, para murid sekte Lin'an tidak bisa mendekati.
Seorang perempuan terbang dengan anggun menyuruh mereka untuk berhenti bertempur melewati berberapa murid sekte Lin'an. perempuan cantik yang dilihat Astara saat di keramaian itu berada di tengah pertarungan. Astara pun mematung melihat kecantikan perempuan itu.
"Ketua, mereka menerobos masuk ke sini," ucap salah satu murid sekte Lin'an.
Astara setengah membungkuk merapatkan telapak tangan. "Kami seorang pengelana dari Negeri Sabit. Maaf atas ketidaksopanan kami."
Perempuan itu menyelidik. "Ada apa gerangan, pendekar dari Negeri Sabit datang kesini?"
"Kami tidak sengaja lewat, lalu melihat asap hitam masuk ke sini," ucap Astara.
Perempuan menahan tawa menutup mulutnya. "Pendekar salah paham, asap hitam mungkin dari dapur kami. Kebetulan kami sedang memasak teh liunghua. Baunya memang sedikit menyengat."
__ADS_1
Astara tampak berpikir. "Apa aku salah lihat tadi."
"Astara lebih baik kita pergi dari sini." Bailin mendesak Astara untuk tidak memperpanjang urusannya di sekte Lin'an.
"Pendekar!" panggil perempuan cantik itu.
Astara menoleh.
"Tiga hari lagi akan ada pertandingan kungfu di sekte kami. Aku Jiarong anak dari ketua sekte Lin'an mengundang pendekar untuk datang mengadu kungfu," Ucap Jiarong.
Astara membalikan badan, lalu membungkukkan setengah badannya menerima undangan dari Jiarong.
Malam harinya Astara dan Bailin beristirahat di sebuah gua dengan api yang menyala sebagai penerangan.
"Kenapa kau malah menerima tantangan wanita itu!" seru Bailin kesal.
Astara hanya menggeleng sambil membakar daging kelinci hasil buruannya.
"Harusnya kita tidak usah menerima tantangan dari wanita itu. Kita masih punya misi yang jauh lebih besar dari pada mengadu ilmu."
"Bailin, apa tadi aku memang salah lihat?" tanya Astara mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
"Entahlah, mungkin saja. Di sana juga tidak terjadi apa-apa, kan?"
Astara menghela napas.