Dewa Tiga Dunia

Dewa Tiga Dunia
Anyaman Bunga Teratai


__ADS_3

Malam harinya, Astara dan Jiarong menengok Bailin yang sedang terluka. Kondisinya jauh lebih baik ketika dia menelan ganoderma merah.


"Bailin, bagaimana keadaanmu?" tanya Astara duduk di samping ranjang Bailin.


"Sudah lumayan, mungkin aku butuh waktu beberapa hari untuk memulihkan kondisiku. Aku tidak menyangka perdana menteri mesum sekuat itu," ucap Bailin dengan suara pelan.


"Yang penting kau selamat, Bailin?" sahut Xiao Yu yang datang dari pintu kamar.


"Xiao Yu," Jiarong terperanjat.


"Ini aku bawakan sari ginseng untuk menambah staminamu." Xiao Yu meletakkan sari ginseng itu di meja kecil samping tempat tidur Bailin.


"Karena di sini sudah ada Xiao Yu, aku dan Jiarong undur diri," ucap Astara.


Bailin tampak tidak rela Astara dan Jiarong pergi, namun Xiao Yu langsung menutup mulut Bailin dengan jari telunjuknya. Bailin terdiam menatap Xiao Yu.


"Cepat minum obatnya, aku tidak akan berdebat lagi denganmu," ucap Xiao acuh.


Bailin pun meminum obat pemberian Xiao Yu.

__ADS_1


Di sisi lain, Astara dan Jiarong sedang berjalan di keramaian kota. Salju tipis dan bulan purnama sangat sempurna di malam itu. Sebuah anyaman dari kertas berbentuk bunga teratai menarik perhatian Jiarong.


"Bibi, berapa harga anyaman ini?" tanya Jiarong.


"Satu kotak dua crown, Nona," jawab penjual anyaman.


Jiarong mengambil dua logam mata uang, lalu membelinya.


"Nona, hari ini adalah festival kembang merah, jika Nona dan Tuan ingin mewujudkan keinginan nyalakan anyaman bunga teratai ini di danau amer," ucap penjual anyaman itu.


"Dimana tempatnya, Bibi?" Jiarong bertanya dengan riang.


"Ada di ujung jalan itu."


"Astara ayo kita berdoa," ajak Jiarong.


Astara mengangguk sambil tersenyum menatap Jiarong. Danau amer kini di penuhi cahaya lilin yang tampak indah dipandang. Astara dan Jiarong merapatkan jemari.


"Kami ingin tiga alam kembali normal seperti dulu lagi," ucap mereka berdua bersamaan.

__ADS_1


Tiba-tiba anyaman kertas milik Astara dan Jiarong terbang ke langit.


"Lihatlah, Suamiku. anyaman bunga teratai dengan nama kita terbang?" Jiarong melompat gembira.


Astara ikut sumringah. "Mudah-Mudahan budha memberkati kita."


"Aku tidak menyangka, di tempat salju seperti ini ada danau yang indah," ucap Jiarong bersandar di pundak Astara.


"mungkin karena danau ini sudah diberkati para dewa," balas Astara.


"Jika aku harus memilih, aku ingin hidup tenang. Menjadi seorang tabib biasa. menjalani hidup denganmu jauh dari keramaian dunia." Jiarong bermanja di pundak Astara.


"Ini sudah menjadi takdir kita, menyelamatkan tiga dunia dari kehancuran," ucap Astara.


"Aku sempat berpikir kalau para dewa di kahyangan tidak adil terhadap kita," ucap Jiarong.


"Kenapa Istriku berpikir seperti itu?" tanya Astara lembut.


"Kenapa mereka tidak bertindak menetralkan tiga dunia ini, bukankah mereka punya prajurit yang kuat untuk melawan para asyura," jawab Jiarong

__ADS_1


"Istriku terlalu jauh berpikir. Pasti para dewa punya pemikiran yang lebih matang dari pada kita." Astara mengusap rambut Jiarong dengan lembut.


Mata Jiarong terpejam menikmati sandaran kepala di pundak suaminya. Sepasang suami istri itu melepas rasa rindu di tepi danau amer dan di bawah bulan purnama.


__ADS_2