
Bailin pun panik tidak tau apa yang harus dia lakukan. Murid sekte Lin'an mengerubungi Bailin menuntut Bailin bertanggung jawab.
Astara dan Jiarong datang. "Bailin, ada apa ini?"
Xiao Yu langsung memegang tangan Astara sambil terisak. "Tuan, tolong aku."
"Nona, tenanglah." Astara tampak risih, apalagi disampingnya ada Jiarong.
"Pria ini mau berbuat mesum padaku," tunjuk Bailin.
Astara menatap Xiao Yu. "Nona kau jangan mengada-ada, Bailin adalah seekor siluman yang tidak memiliki nafsu."
Bailin tersenyum menyeringai. "Jadi jelas 'kan siapa yang bohong. Dasar kau wanita licik."
Xiao Yu tampak tidak terima, dia berdiri mencibir Bailin. "Siapa yang kau sebut wanita licik. Aku datang ke sini karena disuruh masuk penjaga gerbang."
"Memang tujuanmu ke sini mau apa?" tanya Jiarong.
"Aku ingin numpang makan, sudah satu minggu aku hanya makan buah dari sisa penjualanku."
"Kalau kau mau makan mari aku antar ke dapur," ucap Jiarong.
Xiao Yu sumringah, lalu menjulurkan lidah ke arah Bailin. "Benarkah, anda baik sekali."
"Urusan kita belum sekesai ...!" seru Bailin.
"Sudahlah, Bailin. Biarkan gadis itu."
Bailin berhenti mengejarnya. "Pagi-pagi ada saja yang membuatku kesal."
Di dapur, Xiao Yu terlihat makan dengan lahap. Tiga mangkok nasi dan lauk sudah dihabiskannya.
"Kau dari mana?" tanya Jiarong.
"Aku dari kota bangau," jawab Xiao Yu.
__ADS_1
"Siapa namamu?"
"Panggil aku Xiao Yu."
"Aku Jiarong."
Xiao Yu tersenyum lebar memberi hormat. "Salam Nona Jiarong."
"Coba ceritakan bagaimana kamu bisa ke kota Lin'an."
"Tadi aku sudah cerita dengan dua penjaga gerbang," jawab Xiao Yu sambil memainkan tusuk gigi.
"Tapi aku belum mendengarnya."
"Karena kau baik kepadaku, aku akan bercerita sekali lagi. Aku kesini karena keluargaku meninggal di serang siluman."
Jiarong melihat penampilan Xiao Yu memakai baju goni yang penuh dengan tambalan.
"Nona aku mau bertanya kepadamu?"
"Tanya Saja."
"Minggu depan anak ketua sekte akan melangsungkan acara pernikahan," jawab Jiarong.
"Pantas saja ramai." Xiao Yu menaik turunkan kepala.
"Kau ganti bajumu, aku akan memberikanmu baju."
"Benarkah, Nona baik sekali," ucap Xiao Yu.
Jiarong membawa Xiao Yu ke kamarnya, di berikan baju hanfu berwarna hijau untuknya.
"Kau mandi dulu, setelah itu pakailah baju ini."
"Baik, Nona cantik."
__ADS_1
Tok ...
Tok ...
Tok ...
"Jiarong." panggil seorang dari kejauhan.
Jiarong membuka pintu kamar. lalu tersenyum melihat Astara dan Bailin.
"Mana gadis itu?" tanya Astara.
"Dia sedang mandi, biarkan saja dia tinggal di sini. Dia tidak punya siapa-siapa lagi."
"Jangan, nanti dia ngelunjak," sahut Bailin.
Xiao Yu muncul dari kamar mandi, dengan wajah kesal. "Siapa yang ngelunjak.
Jiarong terkaget. "Xiao Yu, kau ..."
"Aku mendengar ucapan siluman tikus ini. Dasar iri."
"Aku tidak ingin Nona Jiarong repot karenamu," balas Bailin melipat kedua tangannya.
"Kau pikir aku sama sepertimu, tukang mesum!" cibir Xiao Yu.
"Apa kau bilang ..."
"Sudah jangan bertengkar lagi," ucap Astara menengahi perdebatan mereka berdua.
Jiarong menahan tawa melihat tingkah Bailin dan Xiao Yu.
"Aku hanya ingin memberikan ini untukmu." Astara memberi kotak kayu kecil kepada Jiarong.
Jiarong langsung membukanya. Sebuah tusuk rambut kayu yang cantik. Jiarong tampak senang menerima hadiah dari Astara.
__ADS_1
"Ini tusuk rambut yang kau bilang padaku," ucap Jiarong senang.
Astara mengangguk.