
Sedangkan Hai Xuan menggunakan ilmu sihir dengan menggerakan tangannya di belakang pinggang mendengar percakapan mereka bertiga.
"Kalau pendekar Astara belum ada tempat tinggal, menginap saja di sini. Sekte Lin'an akan senang sekali menerima tamu dari Negeri Sabit," ucap Gongfu.
Astara tersenyum, lalu mengangguk.
"Jiarong, antar pendekar Astara ke kamarnya."
"Baik Ayah." Jiarong mengantar Astara dan Bailin menuju kamar.
"Kalau butuh sesuatu panggil saja aku." Jiarong menutup pintu kamar.
Bailin melihat dekorasi kamar yang bagus. "Tinggal di sini lebih baik, dari pada harus tinggal di gua yang bau itu."
"Tapi kita harus jaga sikap, Bailin."
"Iya aku tau, tadi aku terlalu bersemangat saja.
Malam hari sehabis makan, Astara mendengar suara alunan seruling yang sangat indah.
"Bailin, siapa yang memainkan seruling di malam hari," ucap Astara.
"Seruling mana, aku tidak mendengarnya," jawab Bailin.
__ADS_1
"Yakin kamu tidak mendengarnya?" tanya Astara.
"Mana ada suara seruling di tengah malam seperti ini," ucap Bailin meninggikan suaranya.
Astara pun keluar kamar.
"Astara kau mau kemana!?" panggil Bailin.
Astara berjalan menghampiri sumber suara, sampailah dia di belakang halaman rumah. Terlihat Jiarong sedang memainkan seruling.
"Nona Jiarong."
Jiarong menghentikan permainan serulingnya dia menoleh melihat Astara.
"Pendekar ikat kepala, kau mendengar aku bermain seruling," ucap Jiarong merasa heran.
Jiarong berjalan pelan mendekati Astara. "Selama ini tidak ada yang mendengar saat aku bermain seruling. Tapi, kamu mampu mendengarnya. Jiarong kagum dengan kungfu pendekar."
"Tidak usah begitu, Nona. Aku juga heran mengapa aku bisa nendengarkan bunyi seruling Nona Jiarong. Suaranya begitu lembut di hati hingga aku penasaran ingin mengetahui orang yang memainkannya," ucap Astara.
Jiarong dan Astara berjalan menuju gardu yang ada di tengah kolam. Mereka duduk sambil minum teh hangat pengusir hawa dingin. Astara terlihat malu saat berhadapan langsung dengan Jiarong.
"Pendekar ikat kepala kenapa wajahnya merah, apa pendekar kedinginan?" tanya Jiarong yang masih polos.
__ADS_1
"Aku tidak apa-apa, hanya sedikit kurang enak badan saja," alasan Astara.
Hujan di turun membasahi sekte Lin'an. Astara dan Jiarong terjebak derasnya air yang turun. Jiarong kembali memainkan serulingnya, terdengar syahdu di hati Astara. Semakin mendengar seruling yang di mainkan Jiarong, Astara merasakan punya hubungan ikatan yang kuat di masa lalu.
Hujan pun reda, Jiarong membangunkan Astara dari lamunannya. "Pendekar, apa kau tertidur."
"Hah, tidak. Aku seperti berada di dunia yang lain saat Nona Jiarong memainkan seruling itu," ucap Astara.
Jiarong menundukan kepala, terlihat malu. "Pendekar pandai memuji."
"Nona Jiarong." Dari koridor rumah terlihat Hai Xuan sedang menatap memanggil Jiarong.
"Senior Hai Xuan."
"Kenapa ada pendekar Astara di sini, bukankah tidak baik kalau ada lelaki dan perempuan duduk bersama di tempat yang sepi," ucap Hai Xuan sambil melihat tangannya.
"Senior Hai Xuan, pendekar Astara datang ke sini karena tidak sengaja."
"Tidak sengaja?" Hay Xuan memicingkan mata. "Bisa jelaskan kepadaku jiarong."
Jiarong terlihat panik, dia harus menjawab dengan alasan yang masuk akal. "Tadi ..."
"Aku tadi ingin buang air kecil, lalu aku tidak sengaja bertemu dengan Nona Jiarong, karena hujan kami berteduh sejenak di sini," ucap Astara memotong pembicaraan Jiarong.
__ADS_1
"Betul," sahut Jiarong.
Hai Xuan menghela napas. "Sekarang hujan sudah berhenti, kenapa tidak segera pergi dari tempat ini."