
Zhang Yutang tersenyum menyeringai menatap tajam Astara. "Kini, kau tidak bisa melihat Jiarong lagi."
Astara menatap kosong penuh penyesalan.
"Sialan kau Zhang Yutang!" Astara mengeluarkan pedang Narendra dari dalam tubuhnya, lalu mengayunkan pedang itu sampai ke arah Zhang Yutang. Zhang Yutang tidak sempat menghindari serangan pedang Narendra. Tubuhnya terbelah, darah hijau mengalir segar ke tanah.
Ruang bawah tanah itu pun ikut bergetar akibat serangan pedang Narendra. Astara teduduk mematung meratapi kesalahannya. Bailin mencoba menyadarkan Astara karena ruang yang mereka tempati akan runtuh.
"Astara ayo kita pergi," ucap Bailin.
Astara masih tidak bergeming, ruangan itu mau runtuh.
"Astara ayo cepat pergi, Jiarong dan Xiao Yu masih hidup!" teriak Bailin.
Astara pun tersadar dari kesedihannya. Bailin segera memegang pundak Astara dan Gongfu yang belum tersadar. Cling. ilmu menghilang Bailin memang sangat berguna di saat darurat seperti ini.
Ruang bawah tanah pun runtuh bersama dengan Aula sekte Lin'an. Bailin dan Astara hanya bisa memandangi reruntuhan bangunan besar itu.
"Ini sudah berakhir, Bailin terima kasih telah menyadarkanku," ucap Astara sambil memandangi reruntuhan.
__ADS_1
Bailin mengangguk. "Kau tenang saja aku telah berjanji kepada dewa bumi untuk selalu menjagamu."
"Ayo kita bawa ketua sekte ke ruang pengobatan, segera berikan ganoderma merah untuk mengobatinya, setelah itu kita cari Jiarong dan Xiao Yu." Astara membawa Gongfu menuju ruang pengobatan.
Di tempat lain, Jiarong dan Xiao Yu berada di lembah bersalju. Rata-rata penduduknya memakai pakaian tebal untuk menutupi kulitnya dari dinginnya Salju. Jiarong dan Xiao Yu berjalan sambil memeluk tubuh mereka sendiri karena kedinginan.
"Sebenarnya kita ada dimana, Xiao Yu?" tanya Jiarong sambil menggigil.
"Entahlah, Putri Jiarong. Yang jelas kita berada di tempat yang jauh dari sekte Lin'an," jawab Xiao Yu.
Jiarong dan Xiao Yu duduk di sebuah bilik kecil. Jiarong mengambil seruling dari dalam tubuhnya, lalu memainkannya berharap Astara mendengarkan suara seruling yang dia mainkan.
"Aku sedang menyanyikan lagu untuk Astara," jawab Jiarong.
Xiao Yu mengendikan bahu, tidak mengerti apa maksud dari Jiarong.
"Lebih baik kita beli baju dulu supaya kita tidak kedinginan, salju di tempat ini semakin deras," ucap Xiao.
Jiarong mengangguk, lalu beranjak mencari toko baju tebal.
__ADS_1
"Itu ada toko," tunjuk Xiao Yu. Mereka segera masuk ke toko baju itu.
Pemilik toko dengan kumis lele menyapa Jiarong dan Xiao Yu dengan ramah.
"Silahkan Nona, di pilih bajunya."
"Paman sebelumnya aku mau tanya, Apa nama Negeri ini!" tanya Jiarong.
Pemilik toko sejenak mematung melihat penampilan Jiarong dan Xiao Yu. "Kalian sepertinya tidak berasal dari sini ya?"
"Kami berasal dari Negeri Bambu," jawab Jiarong.
"Pantas saja pakaian kalian terlihat berbeda, ini Negeri Salju, kalau kalian berpakaian seperti ini, lama-lama bisa mati kedinginan. Kami penduduk Negeri Salju hanya bisa melihat matahari terbit setiap satu tahun sekali," ucap pemilik toko.
"Bukankah itu ribuan mil jauhnya dari Negeri Bambu, bagaimana kita bisa pulang," ucap Jiarong bersedih.
"Kalau boleh tau, bagaimana kalian bisa terdapar di sini?" tanya pemilik toko.
"Ceritanya panjang paman, yang jelas ada orang jahat yang mengirim kami di sini," balas Xiao Yu.
__ADS_1
Pemilik toko menghela napas sambil mengelus kumis lele. "Semenjak kaum asyura menyerang, dunia memang sedang tidak baik-baik saja."