Dewa Tiga Dunia

Dewa Tiga Dunia
Pasukan Asyura Menyerang.


__ADS_3

"Jika kau ingin mengetahui semua, carilah zirah perang dan pedangmu yang terpencar di empat penjuru dunia," ucap dewa bumi.


Astara mengerutkan dahi.


"Saat kau dieksekusi kaisar langit, jubah perang dan pedang dewamu berpencar membentuk kristal dengan empat warna berbeda. Jika kamu bisa menemukan empat kristal itu, maka kamu akan mendapatkan kekuatanmu kembali dan mengingat masa lalu," ucap dewa bumi.


"Bagaimana caranya aku mencari kristal itu?" tanya Astara.


Dewa bumi dengan kebijaksanaannya menjelaskan. "Carilah kristal itu ke empat penjuru Negara, kristal itu tersimpan di empat Negara besar. Tanda di keningmu akan menyala jika kamu sudah berada di dekat kristal Narendra itu."


"Aku akan ikut berpetualang bersamamu," ucap Bailin.


Di tengah pembicaraan mereka, Astara melihat asap tebal dari perguruan bunga teratai. Aura hitam begitu lekat menyelimuti tempat itu. Segera Astara dan Bailin bergegas menuju ke sana.


"Guru, apa yang terjadi," ucap Astara saat melihat gurunya teekapar dengan darah di mulutnya.


"Asyura telah menyerah tempat ini," ucap Dwi Pala dengan suara parau.


Caraka dan Sugandi terlihat membantu memadamkan api. Dengan kemampuan kultivasinya, mereka berdua mengeluarkan air dari dalam tanah. Namun, itu tidak cukup untuk memadamkan api yang tengah berkobar bagai cendawan raksasa itu.

__ADS_1


"Ayah, Ibu." Astara datang membantu mereka berdua. Dengan ilmu yang sudah dipelajari selama sepuluh tahun, Astara mampu memadamkan api dengan mengambil air terjun di dekat bangunan.


Untungnya api hanya menghanguskan pintu gerbang dan bangunan utama. Para murid sekte bunga teratai membantu murid yang lain yang sedang terluka.


"Astara!" Teriak Sugandi yang langsung memeluk anaknya.


"Ibu, aku rindu dengan kalian," ucap Astara terharu.


"Ayah dan Ibu rencananya ingin menjenguk kamu karena waktu yang telah di tentukan telah tiba," ucap Caraka.


Dewa bumi muncul dari dalam tanah. Caraka dan Sugandi segera berlutut menghadap dewa bumi.


"Tidak usah sungkan kepadaku." Dewa bumi segera mengangkat tubuh mereka berdua. "Aku sudah menceritakan kepada anakmu tentang siapa dia sebenarnya," sambungnya.


Caraka dan Sugandi menoleh dengan mata tertegun menatap Astara.


"Saatnya sudah tiba, asyura sudah melakukan teror untuk mencari keberadaan reinkarnasi dewa Narendra," ucap dewa bumi.


Salah satu murid menghadap Astara. "Guru memanggil senior Caraka ke ruangannya."

__ADS_1


Terlihat Dwi Pala sudah sekarat, Caraka menghampiri duduk di samping gurunya. Dwi Pala memegang erat tangan Astara.


"Aku titipkan teratai putih kepadamu." Dengan tarikan napas yang terakhir Dwi Pala mengakhiri hidupnya.


"Guru!?" Caraka meneteskan air mata mengingat jasa gurunya.


Belum usai kesedihan sekte teratai putih prajurit asyura kembali meneror para murid.


"Dimana kalian sembunyikan Narendra?" tanya salah satu asyura.


Tanpa basa-basi beberapa murid sekte bunga teratai bertempur melawan Asyura. Pertarungan tidak seimbang, prajurit asyura berhasil mengalahkan mereka dengan mudah.


Astara, Caraka, Sugandi dan Bailin pun muncul bertempur dengan pasukan asyura. Pertempuran berlangsung dengan sengit. Namun, pada akhirnya keempat pendekar itu mampu mengusir prajurit asyura.


"Dasar iblis keparat," umpat Bailin.


Dengan napas menderu, Caraka bersama dengan Sugandi berjanji akan menjaga sekte bunga teratai dengan jiwa dan raganya.


"Iblis ini sungguh meresahkan, aku harus bertambah kuat untuk melawan kaum asyura," ucap Astara dengan Nada bergetar.

__ADS_1


Bailin mengangguk sambil memegang pundak Astara. "Aku akan membantumu."


__ADS_2