
Suli terduduk lemas mendengar cerita dari Bailin.
"Awan hitam, bencana yang melanda bumi akhir-akhir ini, itu perbuatan Soma," ucap Bailin.
Astara berbisik. "Bailin sudah jangan ceritakan lagi, sepertinya Suli mulai goyah."
Bailin menyikut pelan perut Astara. "Biarkan saja, biar dia sadar, laki-laki yang sedang ditunggu itu seorang penjahat."
Suli pun menangis, lalu berteriak keras. Teriakannya sampai membentuk lubang di awan. ksatria langit utara pun melihat itu.
"Bailin, gawat. ini bisa memicu kedatangan ksatria langit."
"Lebih baik kita segera menjauhi Suli, sebelum ksatria langit menemukan kita." Bailin menggunakan tehnik menghilangnya bersembunyi di balik pohon.
Ksatria langit utara berada di atas Suli, lalu turun. "Siapa kau?"
__ADS_1
Suli menatap tajam ksatria langit utara, lalu mencengkram kedua tangannya. "Apa kau pernah mendengar cerita seorang dewa yang jatuh cinta kepada siluman."
Ksatria langit utara tersentak dan mengeluarkan aura dewanya yang membuat Suli terpental. Suli kembali bangun menatap ksatria langit dengan wajah kebencian. Dia menyilangkan tangannya dan mengeluarkan api biru berbentuk bulan sabit menyerang ksatria langit utara.
Ksatria langit utara menebasnya dengan pedang emas. Suli tidak sampai di situ kedua tangannya mengeluarkan aura biru berbentuk cambuk. Dia seolah menari menyerang ksatria langit utara terus-menerus.
Bailin yang melihat dari kejauhan terkejut. "Ternyata dia kuat."
"Saat bertarung dengannya, Suli membagi kekuatannya dengan dinding pembatas, kini tanpa dinding pembatas Suli bisa bertarung dengan kekuatan terbaiknya," ucap Astara.
Suli masih bertarung dengan ksatria langit utara. Suli tidak memberi kesempatan ksatria langit utara untuk menyerang, serangan cambuk api birunya mampu membuat ksatria langit utara terdesak. Namun, stamina suli yang tidak beraturan mulai membuat gerakannya melambat.
Ksatria langit utara segera memutar tubuhnya menjadi tornado. Cambuk api biru yang dilepaskan Suli terpental karena kecepatan putaran tornado itu. Suli mengubah serangan, kedua cambuk api biru mengikat putaran tornado, namun cambuk itu semakin terkikis sehingga tornado itu menghantam tubuh suli hingga terpental.
Suli mengeluarkan darah dari mulutnya, dia segera bangkit karena penyembuhan api biru dari dalam tubuhnya.
__ADS_1
"Kau telah membuatku marah," ucap Suli dengan Nada gemetar.
Cambuk yang ada di kedua tangannya menghilang, di ganti aura biru yang menyelimuti tubuhnya.
Ksatria langit utara tersenyum sinis. "Seorang siluman mau melawan dewa. Baik, akan aku layani."
Ksatria langit utara meningkatkan energi ki mengeluarkan aura hitam untuk menandingi Suli. Mereka saling bertabrakan mengadu kekuatan di udara. Kecepatan dan pukulan ksatria langit utara lebih cepat dari pada Suli. Suli pun menjadi bulan-bulanan ksatria langit utara. Tubuhnya babak belur, tapi segera kembali lagi. ksatria langit utara terus menghajarnya hingga energi ki Suli semakin melemah, dia terjatuh dengan keras saat ksatria langit utara menendangnya.
"Hahaha ... apa yang kau harapkan dengan kekuatanmu itu."
Suli terjatuh tidak bisa bangun lagi. Ksatria langit utara sudah bersiap melakukan serangan penghabisan. Sebuah panah melesat cepat ke arah Suli yang tengah terluka parah. Namun, sebuah aura hijau dengan cepat menyelamatkan Suli.
Astara menggunakan Aura dewanya. Bailin pun tidak habis pikir, ini akan membuat keberadaan Astara terdeteksi di kahyangan.
"Astara kau ini ..."
__ADS_1
"Bailin, bawa Suli ke tempat yang aman," ucap Astara yang tampak berwibawa dengan aura kristal hijau.