Dewa Tiga Dunia

Dewa Tiga Dunia
Satu Kesempatan Lagi.


__ADS_3

Astara pun lesu tidak bersemangat lagi. "Kenapa kau bisa tau?"


Jiarong menahan tawanya. "Jadi tebakanku benar?"


Astara mengangguk. "Sudahlah kita pulang saja."


Jiarong memegang tangan Astara. "Jangan, aku ingin dibuatkan tusuk rambut darimu."


Astara tersenyum tipis, lalu mengangguk. Mereka berdua memulai mencari ranting kayu yang baik untuk dibuat tusuk rambut. Astara mengambil salah satu ranting dari pohon Mahoni


Sesampainya di sekte Lin'an. Zhang Yutang diam-diam mengawasi mereka berdua. Kalau saja Astara tidak bersama Jiarong, dia pasti akan membunuhnya saat ini juga.


Bailin datang menghampiri Astara di pintu gerbang. "Sudah pulang?"


Astara mengangguk.


"Kenapa kau mengajak Jiarong," bisik Bailin.


"Dia memaksa ikut," jawab Astara.

__ADS_1


"Bailin, kau sudah makan?" tanya Jiarong basa-basi.


"Sudah."


"Padahal aku mau membuatkan sup daging kelinci, tapi karena kau sudah makan, aku urungkan niatku," ucap Jiarong.


Bailin tergoda dengan ajakan Jiarong. "Sebenarnya tadi aku cuma makan sedikit, makanan yang diberikan pelayanmu tidak enak."


"Kalau begitu ikut aku ke dapur, kita masak daging kelinci bersama."


Bailin dengan senang hati mengikuti Jiarong menuju dapur. Astara pun sudah tau maksud dari Jiarong. Dia sengaja mengajak Bailin supaya bisa membuatkan jepit rambut untuknya.


Zhang Yutang yang sedari tadi mengawasi Astara keluar dengan senyum sinis dan mata tajamnya.


"Kau jangan pura-pura baik denganku. Lhat saja aku akan merebut Jiarong dari tanganmu, walaupun itu harus melawan takdir," ucap Yutang penuh dengan dendam.


Astara menatap tajam Zhang Yutang. "Kau seorang yang berkultivasi, tidak seharusnya kau bicara seperti itu."


"Aku tidak peduli dengan kultivasiku, di dunia ini hanya Jiarong yang terpenting dalam hidupku. Kau merebut Jiarong dariku. Jangan salahkan aku, jika kelak aku mencelakaimu."

__ADS_1


"Sadarlah, jangan menuruti keinginan sesaatmu, kau bisa menjadi pendekar hebat jika kau terus berlatih," ucap Astara.


"Jangan mengajariku, kau hanya orang asing di sini!" pekik Yutang.


Astara merasakan kebencian Yutang terhadap dirinya. Yutang pergi dari hadapan Astara.


Sementara itu Bailin tengah menikmati daging kelinci kesukaannya. Jiarong duduk di depan sambil melihat Bailin makan dengan lahapnya.


"Masakanmu enak juga ya," ucap Bailin yang baru saja selesai makan.


Jiarong tersenyum sambil menyangga dagu dengan tangan kanannya. "Sebagai imbalannya kau harus menjawab jujur pertanyaanku."


"Pertanyaan apa?" tanya Bailin sambil menggunakan tusuk gigi untuk membersihkan giginya.


"Aku ingin tau bagaimana Astara bisa mengambil air penyembuhan sebanyak itu, bahkan ayahku tidak mampu untuk melakukannya," ucap Jiarong.


"Astara adalah pendekar berbakat, di umur sepuluh tahun saja dia susah menguasai tehnik yang di ajarkan oleh ayahnya. Setelah masuk di sekte Bunga Teratai, dia langsung belajar tehnik kultivasi tingkat tinggi di bawah guyuran air terjun selama sepuluh tahun," ucap Bailin bangga dengan Astara.


"Walaupun dia belajar tehnik kultivasi sampai tahap akhir, tidak akan semudah itu mengambil air penyembuhan sebanyak wadah besar. Air penyembuhan adalah air yang turun dari surgawi, hanya dewa tingkat tinggilah yang bisa mengambil sesuka hatinya," ucap Jiarong.

__ADS_1


Bailin pun menggaruk rambutnya terlihat bingung harus membuat alasan apa lagi.


"Mungkin tusuk rambutmu sudah jadi, aku akan melihatnya." Bailin segera pergi sebelum Jiarong terus bertanya yang memojokan dirinya. Bailin tidak boleh mengatakan siapa sebenarnya Astara, kalau semua orang tau, dewa perang akan mengincarnya.


__ADS_2