
"Siapa yang menutupi bola pengintai?!" erang kaisar kegelapan Soma.
"Sepertinya ada yang menggunakan energi ki untuk menutupi bola pengintai," ucap dewa pagoda.
"Siapapun orangnya, dia telah berani melawanku," ucap kaisar kegelapan.
"Izinkan hamba mememeriksanya, Yang Mulia," tawar dewa pagoda.
"Tidak usah, Dewa Pagoda. Kita tunggu kabar dari dewa petir," balas kaisar kegelapan.
Di sisi lain, Astara dan dewa petir saling berhadapan mengeluarkan puncak energi ki. Kilatan petir terlihat diantara keduanya. Astara tanpa basa-basi mengeluarkan pedang dewa Narendra.
"Pedang Dewa Narendra, sudah lama aku tidak melihatnya," ucap dewa petir yang juga mengeluarkan palu dewanya.
"Aku tidak akan menahan lagi," ucap Astara.
__ADS_1
"Lakukanlah jika kau mampu," balas dewa petir.
Astara mengayunkan pedang Narendra membentuk aura api. Dewa petir menangkisnya dengan serangan petirnya. Adu kecepatan pun terjadi. Dewa bumi yang melihat pertarungan itu hanya bisa melihat kilatan cahaya berwarna hijau dan hitam karena gerakan mereka terlalu cepat.
"Sudah lama aku tidak melihat pertarungan sehebat ini," ucap dewa bumi.
Mereka berdua terlihat sama-sama cepat. Serangan demi serangan yang dilancarkan dewa petir dan Astara membuat ledakan hebat di sekitarnya.
"Tak kusangka kau mampu menandingi kecepatanku," ucap dewa petir.
Astara tersenyum menyeringai seakan menikmati pertarungan ini. "Keluarkan kemampuan yang kau miliki, Dewa Petir."
Ledakan terjadi di sekitar terjadi karena energi yang dipancarkan mereka berdua. Dewa petir tidak menyerah, dia menggunakan kecepatan petirnya menyerang Astara dari berbagai arah. Astara yang baru mendapatkan kristal hijau, bisa mengimbangi gerakan dewa petir.
Astara berbalik menyerang, sebuah tangan budha raksasa dipadukan api pedang Narendra mengarah ke dewa petir.
__ADS_1
"Tehnik tangan budha milik kaisar langit, dari mana dia mendapatkannya." Dewa petir tidak akan mampu menahan serangan dahsyat itu. Dia sekuat tenaga menghindarinya. Efek dari serangan Astara begitu dahsyat sehingga mampu menggetarkan negeri salju.
Dewa petir terengah-engah sambil mendongak melihat Astara melayang di udara. Astara tersenyum tipis menatap dewa petir.
"Baiklah kalau itu yang kau mau." Dewa petir berteriak keras mengeluarkan tehnik terkuatnya yang bernama Raizo. Sebuah bola seukuran kelereng bewarna hitam keluar dari mulutnya. petir menyambar bola hitam itu bertubi-tubi sehingga membuat guncangan di sekitarnya. Bola kecil berwarna hitam itu terlihat menyatu dengan petir yang menyambarnya. Semakin besar dan membentuk sebuah monster petir raksasa.
"Apa itu," ucap Astara.
"Ini adalah Raizo, petir yang telah aku beri nyawa." Dewa petir melompat dan berdiri di punggung monster petir raksasa itu.
Astara mengeluarkan Aura api dari pedang Narendra terlihat sudah bersiap.
"Bersiaplah!" Dewa petir bersama dengan Raizo menyerang.
Astara mencoba menahan dengan pedang Narendra. Namun, petir Raizo mengalir ke pedangnya hingga tubuh Astara tersengat petir dengan daya yang tinggi. Dewa petir dengan cepat menendang tubuh Astara meluncur deras menatap gunung es.
__ADS_1
Astara bangkit dari reruntuhan es. "Monster petir itu mengeluarkan sengatan yang tinggi. Aku tidak bisa menyentuhnya."
Astara memberi energi ki melalui pedang Narendra, lalu melempar ke arah monster petir itu.