
Namun, Astara menegur Bailin untuk tidak mengejarnya.
"Biarkan saja, Bailin?"
"Kenapa?"
"Kita jangan buang-buang tenaga. Lebih baik kita lanjutkan perjalanan. Mungkin itu ulah siluman yang jail," jawab Astara.
"Awas saja kalau aku bertemu siluman itu lagi. Akan aku patahkan tulangnya," ucap Bailin kesal.
Bailin dan Astara meneruskan perjalanan hingga matahari sudah berada di ufuk barat mereka tiba di pemukiman padat penduduk.
"Kita cari penginapan untuk istirahat," ucap Astara.
"Itu di depan ada penginapan." Bailin dan Astara segera kesana.
"Paman, apa masih ada kamar?" tanya Astara.
"Masih pengelana," balas pemilik penginapan.
"Kami minta satu kamar untuk semalam," sahut Bailin.
"Baik, satu kamar 20 real," ucap pemilik penginapan.
__ADS_1
"Ini untukmu." Bailin memberikan pemilik penginapan emas batangan.
Pemilik penginapan itu pun begitu senang dan langsung memberikan kunci kamarnya. "Kami akan melayani pengelana dengan baik. Mari ikut saya ke lantai tiga."
Astara dan Bailin mengikuti langkah pemilik penginapan.
"Paman, ternyata penginapanmu keren juga ya," ucap Bailin yang melihat ada rumah makan di lantai dua.
"Penginapan kami ini sudah terkenal ke seluruh negeri pasir. Jika kalian ingin makan bisa ke lantai dua, khusus untuk kalian gratis," ucap pemilik penginapan.
"Terima kasih, Paman."
"Ini kamar kalian, silahkan beristirahat." Pemilik penginapan membuka pintu kamar yang akan di tempati Astara dan Bailin.
Bailin langsung merebahkan diri di kasur empuk penginapan.
"Lebih baik kita mandi dulu, Bailin?"
"Ya ... aku akan menurut apa katamu." Bailin beranjak dengan malas menuju kamar mandi.
Setelah membersihkan diri mereka berdua menuju lantai dua memesan makanan dalam jumlah besar. Sesuai janji pemilik penginapan makanan untuk mereka gratis. Bailin satu daging ayam utuh untuk dimakan sendiri. Astara hanya memesan sup ayam untuk penghangat tubuh.
Di setiap meja makan para tamu penginapan membicarakan tentang seekor siluman rubah yang selalu menculik seorang pengantin pria untuk di jadikan tumbal. Astara dan Bailin tergelitik mendengarkan percakapan para tamu penginapan.
__ADS_1
"Mana ada siluman mencuri pengantin pria untuk tumbal," ucap Bailin pelan.
Salah seorang tamu pria dengan jubah hitam mendengar ucapan Bailin. "Kalau kau tidak percaya coba saja kau jadi pengantin."
Bailin menatap seorang pria yang berani membantah ucapannya. "Siluman jahat itu, tidak pernah menculik. Dia akan menghisap cairan manusia untuk meningkatkan energi ki. Siluman yang baik dia akan bermeditasi untuk meningkatkan energi ki."
"Kau jangan sok tau. Di sini sudah banyak korbannya."
Para tamu penginapan mendukung pria yang memakai jubah hitam. Bailin hanya menelan ludah menatap kesal. Mereka tidak tau kalau Baiin adalah siluman tikus.
"Sudah tidak usah diambil hati. Lebih baik kita kembali ke kamar," ucap Astara.
"Dasar orang-orang tidak tau diri," gumam Bailin mengikuti Astara ke lantai tiga.
Di lantai tiga, Bailin tidak sengaja bertemu dengan pemilik penginapan.
"Paman sedang apa kau di sini?" tanya Bailin ramah.
"Aku sedang mengecek kamar yang kosong," jawab pemilik penginapan.
"Aku boleh bertanya kepadamu, Paman?"
"Tentu saja boleh. Tanyakan saja."
__ADS_1
"Apa benar di sini ada seekor siluman rubah yang selalu menculik pengantin baru pria?"
"Satu tahun ini memang sering terjadi kejadian aneh itu. Tiba-tiba saja pengantin pria itu terbang disertai tawa seorang wanita. Penduduk di sini menyimpulkam itu siluman rubah," jawab pemilik penginapan.