
Xiao Yu memajukan bibirnya. "Bai-bai, tunggu aku!"
Bailin terus bejalan tanpa menoleh. Xiao Yu berlari kembali melingkarkan tangannya ke tangan Bailin.
"Kalau kau terus mengikuti seperti ini, kita tidak akan makan nanti malam!" Bailin berontak melepaskan tangannya.
"Aku bisa membantumu menangkap buruan." Xiao Yu menawarkan diri sambil berkedip dengan cepat tersenyum menatap Bailin.
"Kenapa kau menatapku seperti itu, jangan-jangan kau rabun ya," cibir Bailin kembali berjalan menjauh dari Xiao Yu.
Xiao Yu begitu kesal mengehentakkan kakinya secara bergantian. "Dasar siluman tikus. Tidak peka!"
Bailin bodoh amat dengan cibiran Xiao Yu. Di hati Bailin, yang namanya cinta itu tidak ada. Bailin yang selalu mengikuti dewa bumi hanya menganggap khidupan manusia itu membosankan. Tapi, Xiao Yu Terus saja menggoda Bailin.
Sepasang kelinci terlihat sedang berlarian mencari makan. Bailin yang melihatnya bersiap memasang anak panah dari jarak dua puluh meter. Panah dilepaskan melesat ke arah sepasang kelinci itu. Namun, Xiao Yu melompat dan menendang anak panah yang di lepaskan Bailin.
"Kau ini kenapa!?" Bailin menghampiri Xiao Yu dengan wajah kesal.
"Kau tidak boleh membunuh kelinci yang sedang hamil. Bagaimanapun juga mereka makhluk hidup yang butuh kebebasan," ucap Xiao Yu.
__ADS_1
"Terus, apa kau mau nanti kita tidak makan malam?" tanya Bailin dengan mata melotot.
Xiao Yu malah menaik-turunkan alis sembari mengeluarkan senyum terbaiknya. "Aku tau caranya. Ikuti aku."
Balin memutar matanya terpaksa mengikuti Xiao Yu. Mereka berada di sungai bekas pertempuran Astara dan dewa angin. Aliran Sungai yang tadinya membeku kini mengalir kembali. Dan, banyak ikan salmon bermunculan.
"Dari mana kau tau tempat seperti ini." Bailin terlihat menyukai tempatnya.
"Kemarin waktu aku cari angin, aku tidak sengaja menemukan tempat ini," jawab Xiao Yu.
"Ternyata kau berguna juga ya," ucap Bailin menyeringai.
"Tentu saja, bagaimanapun juga, aku adalah siluman yang bertapa selama lima ratus tahun. setengah jiwaku adalah peri." Xiao Yu menaikan nada bicaranya.
Xiao Yu melihat kegirangan saat Bailin mendapatkan ikan untuk makan malam.
"Kurasa ini sudah cukup," ucap Xiao Yu saat menujukan hasil tangkapan ikan.
"Baik, ayo kita pulang untuk makan malam." Bailin berucap riang.
__ADS_1
Sekembalinya di gua magma, Bailin dan Xiao Yu hanya melihat Astara dan Jiarong yang sedang mengumpulkan kayu bakar.
"Dimana dewa bumi, dewa petir, dan dewa angin?" tanya Bailin.
"Mereka sedang bersembunyi di tempat dewa bumi untuk melakukan rencana menjatuhkan dewa perang," jawab Astara.
"Baguslah kalau begitu! Ini aku bawakan ikan salmon untuk makan malam." Bailin memberikan ikan hasil tangkapan untuk Astara.
"Cari dimana?" tanya Astara sambil membakar ikan itu.
"Tidak jauh dari gua ini," jawab Bailin.
"Aku yang memberitahu Bai-bai untuk menangkap ikan di sungai bekas pertempuran," sahut Xiao Yu.
"Bai-bai, sejak kapan panggilan itu muncul, Xiao Yu?" Jiarong menyelidik menggoda Xiao Yu.
"Se-sejak tadi, iya 'kan, Bai-bai." Xiao Yu kembali melingkarkan tangannya ke tangan Bailin.
Bailin berdecak. "Lepaskan tanganmu."
__ADS_1
"Bai-bai ...." Xiao Yu cemberut.
Bailin memencongkan bibir atasnya tidak suka dengan perlakuan Xiao Yu. Bagi Bailin, sikap Xiao Yu kekanak-kenakan dan bisa menyusahkan di kemudian hari.