Dewa Tiga Dunia

Dewa Tiga Dunia
Tidak Sengaja bertemu.


__ADS_3

"Coba kau ceritakan tentang kaum Asyura kepadaku," ucap Astara.


Bailin kembali duduk di dekat api pembakaran. "Bangsa Asyura adalah kaum yang bengis dan suka menyerap energi manusia untuk makanannya. Tapi, setelah adanya dewa Narendra para Asyura tidak berani keluar dari alam mereka."


"Alam Asyura?" Astara menaikan satu alisnya.


"Dulu dewa perdamaian menjaga tiga dunia. Alam surgawi, alam Asyylura dan alam manusia. Mereka saling hidup berdampingan, kaum asyura menghormati dewa Narendra hingga Soma dengan akal liciknya bekerja sama dengan raja asyura."


"Siapa itu soma?" tanya Astara.


Bailin berdiri, dengan berapi-api. "Soma adalah dewa perang yang menjebak dewa Narendra. Dia juga membunuhku sehingga aku bereinkarnasi menjadi siluman tikus! Suatu saat nanti aku akan mengajar dewa perang licik itu!"


"Mengapa dewa perang melakukan hal licik kepada dewa Narendra?" Astara terlihat penasaran.


"Karena dewa Soma ingin memiliki dewi kesuburan. Dewa Narendra punya perasaan yang mendalam dengan dewi Jingga. Mereka sering bersama menghabiskan waktu di taman persik. Tapi, karena kelicikan Soma dewa Narendra dituduh mencuri buah persik."


Astara terlihat mendengarkan dengan kidmat cerita dari Bailin. "Jadi ini penyebab kaum asyura kembali muncul ke alam manusia?"


Bailin mengangguk.


Pagi harinya, Astara meninggalkan Bailin yang masih tertidur. Dia hendak berjalan-jalan di pasar melihat keramaian. Pasar di kota Lin'an memang menjadi pemandangan yang menarik bagi Astara.

__ADS_1


Manik mata Astara tidak sengaja melihat Jiarong sedang jalan-jalan di pasar. Jiarong terlihat cantik dengan pakaian hanfu berwarna putih dilengkapi motif bunga berwarna ungu.


Astara menghampiri Jiarong. "Nona Jiarong."


"Pendekar Negeri Sabit, tidak disangka kita bisa bertemu di sini," ucap Jiarong ramah.


Astara tiba-tiba salah tingkah. "A-aku hanya ingin jalan-jalan sebentar. Bolehkah aku membawa tas keranjang belanjamu."


Jiarong tersenyum, lalu memberikan tas keranjang itu. Mereka berjalan beriringan sambil melihat-lihat keramaian pasar.


"Apa tujuan pendekar datang ke Negeri Bambu ini?" tanya Jiarong.


"Tidak ada tujuan, hanya seorang pengelana yang singgah dari kota satu ke kota yang lain," jawab Astara.


"Aku sebenarnya murid di sekte bunga teratai. Aku mempelajari berbagai macam jurus dan Ilmu kultivasi di sana," jawab Astara.


Jiarong menghentikan langkahnya, lalu memberi hormat. Astara terlihat heran dengan sikap Jiarong.


"Leluhur kami dari sekte bunga teratai," ucap Jiarong.


"Benarkah." Astara terlihat sumringah

__ADS_1


"Aku belum tau siapa namamu?"


"Namaku Astara Lodya."


"Aku dengar sekte bunga teratai sudah ribuan tahun berdiri di lereng gunung tidar," ucap Jiarong.


"Betul. kapan-kapan mampirlah kesana?"


Jiarong hanya tersenyum. Mereka berdua berpisah di pertigaan jalan.


"Kalau ada waktu mampirlah ke tempatku. ayah pasti senang mendengar ada tamu dari sekte bunga teratai," ucap Jiarong.


Astara tersenyum tanda menerima undangan dari Jiarong.


Di dalam gua, Bailin terlihat menatap sinis Astara.


"Kau kemana saja, perutku sangat lapar. Dari tadi belum makan."


Astara melempar dua buah bakpao ke arah Bailin, lalu duduk di batang kayu panjang dengan wajah yang ceria. Sambil makan dengan lahap Bailin melihat rona wajah Astara.


"Kelihatannya kau sedang senang ya. Jangan-jangan kau tadi bertemu dengan Jiarong?" tebak Bailin.

__ADS_1


Astara langsung mengelak ucapan Bailin. "Aku tadi hanya jalan-jalan ke pasar, lalu membeli bakpao untukmu."


__ADS_2