
Jiarong, Bailin, dan Astara tidak ada yang curiga. Mereka bertiga mereguk minuman itu.
"Tidak ada rasanya," ucap Astara saat menghabiskan minuman itu.
"Minumanku terasa manis," timpal Jiarong.
"Minumanku juga terasa manis," sahut Bailin.
Yang Guo tersenyum sinis, Astara telah meminum pil ingatan. Beberapa menit kemudian, Ada yang menyusut dalam tubuhnya. Darahnya seperti disedot oleh benda padat yang ada di dalam tubuhnya. Astara mengerang kesakitan, terguling-guling di lantai sambil memegangi lehernya.
"Suamiku, kau kenapa." Jiarong mencoba menenangkan Astara, namun tidak berhasil.
Dalam waktu yang singkat, Astara terkulai lemah. Jiarong mencoba menyadarkan Astara sambil terisak. Bailin mencengkram leher Xiao Yu dengan tatapan membunuh.
"Kau pasti yang mencelakai Astara."
"A-aku tidak tau." Xiao Yu kesulitan bernapas.
"Tenanglah, Bailin. Ini pasti hanya salah paham." Yang Guo membela Xiao Yu.
Jiarong masih berusaha menetralkan tubuh Astara. Astara tetap tidak begeming.
__ADS_1
"Lebih baik, bawa Astara ke kamar, aku akan mencoba menyeimbangkan tubuhnya dengan tehnik kultivasiku," ucap Yang Guo.
Bailin setuju, segera dia membawa Astara ke kamar. Xiao Yu masih termangu, dia mulai ragu dengan pil pengingat itu. Tangan Xiao Yu mencengkram lengan Yang Guo seolah beribu pertanyaan ingin diutarakannya. Yang Guo hanya menggeleng menatap Xiao Yu dengan wajah datar.
Yang Guo mulai menyalurkan enegi ki ke dalam tubuh Astara, tapi tetap saja tidak membuat bergerak. Bailin mencoba memegang Nadi Astara. Masih berdetak. Namun, organ dalamnya berhenti bekerja.
"Tubuh pendekar Astara berhenti bekerja, aku tidak pernah melihat yang seperti ini," ucap Yang Guo.
Bailin menggoyang-goyangkan tubuh Astara yang lemah itu. "Astara bangunlah, ini aku Bailin."
"Apa yang harus kita lakukan, Bailin?" tanya Jiarong sambil terisak.
"Tidak bisa, air penyembuhan hanya bisa bekerja jika terkena luka," sahut Xiao Yu yang ada di depan pintu kamar
"Ganoderma merah, apa ada yang membawa ganoderma merah?" tanya Jiarong.
Semua tampak hening tidak ada yang menjawab.
"Harusnya aku tidak menelan ganoderma merah satu-satunya itu," ucap Bailin merasa bersalah.
Jiarong menangis kencang memanggil nama Astara.
__ADS_1
"Dewa bumi, kau keluarlah!" Bailin menghentakan kaki kanannya sebanyak tiga kali.
Dewa bumi pun muncul dari tanah, Yang Guo terkejut melihat kemunculan dewa bumi. Dewa bumi sudah terlanjur basah melihat wajah Yang Guo.
"Kau adalah dewa perang, kenapa kau ada di sini?" tanya dewa bumi dengan emosi.
Bailin dan yang lainya terkejut mendengar ucapan dewa bumi. Yang Guo sudah tidak bisa mengelak lagi, dia tidak sempat menggunakan ilmu sihirnya untuk mengecoh dewa bumi.
"Apa yang kau lakukan di sini, bukankah kau ditugaskan untuk mengambil guci milik raja naga laut timur," ucap dewa bumi.
Bailin dengan wajah penuh dendam langsung menyerang Yang Guo dengan tendangannya. Yang Guo tanpa refleks bisa menangkis tendangan Bailin dengan mudahnya.
"Ku bunuh kau, dasar dewa pengecut!" hardik Bailin.
Yang Guo menggunakan satu tangannya untuk memukul mundur Bailin.
"Hahaha ... semua sudah terbongkar. Dalam waktu kurang dari satu minggu Astara akan meninggal. Astara telah menelan pil pengikat roh. Pil itu tudak ada obatnya," ucap Yang Guo.
Bailin dengan emosi kembali menyerang Yang Guo, tapi gerakannya kalah cepat. Bailin terkena telah tendangan di dadanya hingga terpental keluar.
"Lindungi Astara!" perintah dewa bumi.
__ADS_1