
"Baik kita bicara di ruanganku," ucap Gongfu.
"Tapi, lepaskan dulu tali emas ini. Aku tidak bisa bercerita dengan lancar kalau tali ini masih mengikatku," alasan Bailin.
"Hai Xuan, lepaskan ikatan talinya," perintah Gongfu.
Hai Xuan pun melepas ikatan Tali yang mengikat Bailin dan Astara. Gongfu mengajak mereka bertiga duduk di ruangannya. Jiarong tiba-tiba ikut masuk ke dalam.
"Kenapa kau ikut ke sini?!" tanya Bailin dengan suara keras.
"Aku diajak senior Hai Xuan untuk mendengar ceritamu," jawab Jiarong.
Bailin mengibaskan tangan, lalu bedecak.
"Kanapa? Kau tidak suka aku di sini?" tanya Jiarong dengan ketus.
"Bukan seperti itu, ini ..."
"Kalau kau keberatan, berarti kamu memilih untuk dipenjara," ucap Jiarong.
"Bailin lebih baik kau cerita saja, tapi jangan berkata terus terang," bisik Astara.
"Baiklah aku akan cerita."
Hai Xuan mengeluarkan ilmu sihirnya supaya Bailin bisa berkata jujur.
"Apa yang kamu lakukan!?"
__ADS_1
"Aku menggunakan ilmu sihir untuk mengetes seberapa jujur kamu bercerita," jawab Hai Xuan.
Bailin mulai bercerita. "Aku ke kamar Jiarong karena lapar."
Tiba-tiba tangan kanan Bailin bergerak sendiri dan menampar pipi kanannya.
Hai Xuan tersenyum tipis. "Kau berbohong."
Bailin pun kesal dengan Hai Xuan. Astara tampak dibuat malu dengan Bailin. Bailin mau tidak mau harus berkata jujur dengan Hai Xuan dan Gongfu.
"Aku datang ke kamar Jiarong karena iseng saja." Bailin tersenyum nyengir.
Tangan kanannya tiba-tiba bergerak lagi dan menampar pipinya. Tamparannya semakin keras.
"Semakin kau berbohong, tanganmu akan menampar pipimu semakin keras," ucap Hai Xuan.
Semua orang yangg ada di ruangan terdiam sejenak. Mata Bailin melotot ke arah Astara.
"Sudah katakan saja, aku siap menanggung malu," bisik Astara.
"Aku diperintah Astara untuk melihat perasaan Jiarong."
"Aku?" Jiarong menunjuk dirinya.
"Astara punya perasaan mendalam dengan Jiarong. Aku ingin bantu Astara untuk melihat bagaimana perasaanmu kepada temanku ini" ucap Bailin.
Raut wajah merah padam terlihat diantara keduanya. Hai Xuan semakin yakin kalau Astara adalah reinkarnasi dewa Narendra.
__ADS_1
Gongfu terkekeh sambil mengelus janggut panjangnya. "Rupanya ini masalah hati ya."
"Ketua sekte, kau setuju 'kan jika putrimu menikah dengan Astara?" tanya Bailin riang.
"Hahaha ... kalau masalah ini aku serahkan kepada Jiarong."
Bailin mengendikan kepala ke arah Jiarong
"A-aku ... tidak bisa menjawabnya di sini." Jiarong berlari keluar ruangan tersipu malu.
"Hahaha ... pendekar Astara, kau lihat 'kan sikap dari putriku. Dia belum pernah segembira itu," ucap Gongfu.
"Ketua sekte, sepertinya semuanya sudah jelas," ucap Hai Xuan.
"Lepaskan Bailin dan pendekar Astara, ini hanya salah paham saja."
Hai Xuan untuk pertama kalinya memberi salam penghormatan. "Pendekar Astara, saudara Bailin, saya minta maaf kalau selama ini sering membuat tidak nyaman."
Astara balik memberi salam. "Senior Hai, anda tidak usah sungkan. Saya dan Bailin masih butuh arahan dari ketua sekte dan senior Hai Xuan."
Gongfu tertawa sambil mengelus janggut panjangnya.
"Kalau begitu Hai Xuan pamit." Dengan ilmu sihirnya Hai Xuan kembali ke tempatnya. Dia terlihat mengerang mendapat reinkarnasi dewa Narendra ada bersamanya.
Karena perasaannya campur-aduk tidak menentu. Aura iblisnya keluar hingga tercium oleh Astara dan Bailin yang tidak sengaja lewat.
"Ini Bau asyura," ucap Astara.
__ADS_1
"Dari kamar Hai Xuan," Bailin dan Astara segera mengetuk pintu memanggil nama Hai Xuan.