
"Kau kenapa sih, Astara!?" teriak Bailin dengan tergopoh.
Astara tersenyum nyengir sambil menggaruk tengkuknya. Dia baru tersadar kalau teriakannya itu mengganggu mereka yang sedang tidur.
"Pendekar, apa ada masalah?" tanya Luo Song.
"Tidak ada, aku hanya melatih tehnik pernapasan." Astara mencari alasan.
"Sudah-sudah, lebih baik kalian tidur lagi sana," ucap Bailin.
Di kahyangan, raja asyura yang menyamar menjadi prajurit langit mencoba masuk ke perpustakaan kahyangan yang di jaga dewa pagoda. Dia hendak mencuri kembali gulungan milik sang budha. Dengan langkah mengendap dia mencari satu persatu gulungan milik sang budha.
Namun, dewa pagoda sang penjaga perpustakaan memergoki prajurit kecil yang berani masuk tanpa izin.
"Hey, apa yang kau lakukan!" pekik dewa pagoda.
prajurit langit itu pun terkesiap, lalu dia merubah dirinya menjadi gulungan diantara gulungan langit
"Pengawal cari penyusup yang ada di sini!" perintah dewa pagoda.
Beberapa pengawal pun mencari penyusup itu. Dari setiap sudut yang mereka cari tidak satupun ditemukan penyusup itu.
__ADS_1
"Lapor, Dewa. Kami tidak menemukan penyusup itu," ucap salah satu penjaga.
"Tidak mungkin dia kabur, pasti ada di sekitar sini." Dewa pagoda menggunakan cermin dewa untuk mengetahui dimana penyusup itu bersembunyi. Cermin dewa itu mengeluarkan sinar, seluruh cahayanya menerangi ruangan perpustakaan. Makhluk berkulit hitam terlihat diantara gulungan besar itu.
"Dasar Iblis." Wajah raja asyura terlihat di cermin itu.
Dewa pagoda pun melakukan rencana untuk menangkap raja asyura menggunakan jaring tujuh lapis dewa. Dengan jaring yang sudah dilapisi tujuh pelindung mantra dewa, raja asyura tidak mungkin bisa lari dari jeratannya.
"Panggil dewa matahari ke sini," perintah dewa pagoda.
salah satu prajurit langit pun menabuh sebuah genderang untuk memanggil dewa matahari. Kilatan cahaya putih datang di depan prajurit yang menabuh genderang.
"Hamba diperintah dewa pagoda untuk memanggil dewa matahari," ucap prajurit langit.
Dewa matahari pun masuk ke dalam perpustakaan milik dewa pagoda.
"Ada apa kau memanggilku, Dewa Pagoda?"
"Aku ingin meminjam jaring dewamu untuk menangkap asyura yang menyusup di sini."
"Asyura, aku tidak mencium bau asyura," ucap dewa matahari.
__ADS_1
"Asyura ini telah memakan buah persik milik budha, tentu saja kita tidak mengenali hawanya. Aku sudah melapisi tempat ini dengan sihir pelindung supaya dia tidak bisa kabur," ucap dewa pagoda.
"Baiklah, aku akan meminjamkannya untukmu." dewa matahari mengeluarkan jaring dewa itu dari tangannya.
Raja asyura yang melihatnya pun segera mengubah wujud aslinya sambil mengerang kesal.
"Asyura, mau lari kemana kau." Dewa matahari menyebarkan jaring dewa itu ke arah raja Birawa."
raja asyura kembali mengubah dirinya menjadi sebuah cahaya, lalu kabur diantara lubang-lubang kecil jaring itu. Namun, lubang jaring itu sudah dilapisi jaring lainnya sampai tujuh lapis. Raja asyura pun terus mencari jalan keluar hingga dewa matahari menarik jaring dewa itu dan membuat raja asyura semakin sempit pergerakannya.
"Sial, aku tidak bisa keluar dari jaring ini."
Dewa pagoda tertawa. "Sekuat apapun Kau, tidak akan bisa keluar dari jaring ini, Birawa."
Dewa matahari mengeluarkan jurusnya untuk menambah hawa panas di jaring itu.
"Panas ...! Apa yang kau lakukan denganku." Raja asyura pun memggeliyat tidak beraturan.
"Bawa dia ke kaisar langit," ucap dewa pagoda.
Dewa matahari setuju. Mereka berdua pergi ke istana langit.
__ADS_1