
"Soma ini aku Suli!" teriak Suli menyadarkan Soma.
"kau jangan mencoba membujukku, cepat keluarkan kekuatanmu, kita bertarung sampai mati!" pekik Soma.
"Soma sadarlah, kau telah dipengaruhi aura kegelapan," ucap Suli.
Soma berteriak keras memegangi kepalanya. Suli melihat ada kesempatan untuk menyadarkan Soma. Dia mendekat, lalu memeluk tubuh Soma. Namun, Soma masih sulit untuk dikendalikan. Soma mendorong tubuh Suli hingga terjatuh. Soma masih terus memberontak, berteriak seolah dia sedang melawan dirinya sendiri.
"Sadarlah, Soma! Ingatlah kau adalah dewa perang yang agung. Aku yakin kau bisa mengalahkan aura kegelapan, aku akan membantumu." Suli memegang erat jemari Soma, lalu berubah ke mode rubah ekor sembilan untuk mengirim energi api emasnya ke dalam tubuh Soma.
"Lihatlah, Soma tidak melawan. Sepertinya Suli mampu menyadarkannya," ucap ksatria langit timur.
Para dewa yang melihatnya hanya tertegun. Energi ki Suli terus membuat Soma melunak. Warna hitam di sekeliling mata Soma pun hilang, tubuhnya kembali seperti dulu. Soma menatap Suli dengan seksama.
__ADS_1
"Suli, kau ada di sini," ucap Soma lirih.
Suli mengangguk sambil menangis, lalu memeluk Soma dengan erat.
"Apa yang terjadi, kenapa di sekitar hancur?" tanya Soma lirih.
"Sudahlah tidak usah dipikirkan, yang penting kau sudah sadar," jawab Suli terisak.
"Kenapa kau menangis, Suli. Apa aku bersalah kepadamu?"
Soma tersenyum tipis. "Maafkan aku, Suli. Aku tidak akan mengulanginya lagi."
Suli melepas pelukannya, lalu memegang kedua lengan Soma. "Janji kau tidak akan meninggalkanku."
__ADS_1
Suli mengajukan jari kelingkingnya. Soma menatap Suli, lalu dengan gerakan lambat, Soma menautkan jari kelingkingnya. Namun, sebuah pedang hitam keluar dari tubuh Soma dan menembus perut Suli.
Soma tersenyum licik. "Tentu saja aku tidak mau. Aku adalah kaisar kegelapan yang menguasai tiga alam. Makhluk rendahan sepertimu tidak pantas bersanding denganku. Bagaimana tadi acting ku, sempurna, bukan?"
Suli hanya melihat Soma dengan tatapan kosong serta rasa sakit yang sangat divperutnya. Sedangkan, aura kegelapan terus menyerap energi ki Suli.
"Kau memiliki energi ki yang hebat. Aku akan mengambil kekuatanmu. Dengan begitu, kekuatanku semakin tidak tertandingi," ucap Soma.
Tubuh Suli semakin kurus dan tinggal tulang sama kulit. Nutrisi dan energi ki dari dalam tubuhnya telah diserap habis. Suli hanya bisa menatap para dewa sambil mengeluarkan air mata seolah mengisyaratkan permintaan maafnya. Suli berpikir kalau Soma menjadi jahat karena pengaruh aura kegelapan, tapi pemikirannya ternyata salah. Soma menjadi jahat karena ambisinya sendiri. Aura kegelapan hanyalah efek yang muncul karena ambisi Soma.
Dinding pelindung yang diciptakan Suli pun hilang. Soma melempar tubuh Suli, lalu berdiri menatap tajam dengan mata menyala emas ke arah para dewa.
"Semua, cepat menghindar!" seru dewa bintang.
__ADS_1
Dengan sekali kibasan tangan, para dewa terpental jauh. Dewi bulan dan Jiarong membuat gelembung udara untuk menyelesaikan para dewa dari api emas. Namun, gelembung itu terbakar oleh aura Soma.
Soma lalu melesat, lalu menjatuhkan para dewa ke arah yang saling berlawanan. Para dewa tidak bisa berbuat banyak, kekuatan mereka jauh di atas Soma. Mereka terluka parah dengan sekali serangan. Jiarong menggunakan kekuatan penyembuhannya untuk mengobati para dewa. Soma dengan cepat menangkap Jiarong, lalu membawanya kabur di suatu tempat. Jiarong berteriak memanggil nama Astara.