Dewa Tiga Dunia

Dewa Tiga Dunia
Kemunculan Siluman Tikus Dan Dewa Bumi.


__ADS_3

Sepuluh tahun berlalu, Seorang pemuda bertelanjang dada tengah duduk bersila di bawah guyuran air terjun. Astara dengan gigih tengah melakukan pelatihannya. Tubuhnya terlihat tegap dan kekar, rambut panjangnya di sibak klimis ke belakang sebagian di ikat membentuk gumpalan memakai tusuk rambut yang terbuat dari kayu.


Dalam konsentrasi, Astara mencium hawa siluman tengah menghampiri dirinya. Mata tajamnya terbuka, lalu mengejar tanah yang terlihat bergerak itu.


"Mau kemana kau siluman pengganggu," ucap Astara lirih.


Siluman itu keluar dari tanah, dan muncullah sesosok pemuda dengan tompel di pipi kirinya mengagetkan Astara. Astara mundur beberapa langkah karena terkena butiran kerikil di bajunya.


"Dasar siluman jahat," ucap Astara yang sudah memasang kuda-kuda untuk melawan siluman itu.


"He ... tunggu dulu. Aku bukan musuhmu," ucap siluman itu.


"Jangan memgelak kau!" Astara melakukan tendangan yang hampir mengenai wajah siluman tikus itu. Namun, siluman tikus itu bisa mengelak.


"Woy ... apa kau tidak mengenaliku? Aku tikus kecil yang dulu sering bermain denganmu," ucap siluman tikus itu kesal.


Astara terlihat tidak percaya, wajahnya masih terlihat serius. Dewa bumi pun muncul dari dalam tanah.


"Sudah jangan bertengkar lagi," ucap dewa bumi menghampiri mereka berdua.

__ADS_1


Astara terlihat heran , mengapa ada kakek tua di tempat pelatihannya.


"Sudah kau tidak perlu heran, aku dewa bumi."


"Dewa bumi?" tanya Astara masih bingung.


"Tidak terasa sudah dua puluh tahun, kau sudah menjadi pemuda yang gagah." Dewa bumi terlihat senang menepuk lengan Astara.


"Aku tidak mngerti apa yang kamu bicarakan kakek tua," ucap Astara.


Dewa bumi terkekeh. "Kau adalah reinkarnasi dari dewa perdamaian Narendra."


Dewa bumi mengelus janggutnya terlihat kesal. "Tanda yang ada di ikat kepalamu itu adalah tanda dewa."


Astara terkekeh. "Tanda apa, aku tidak punya tanda di balik ikat kepalaku. Ikat kepala ini hadiah dari orang tuaku."


"Coba kau lepas ikat kepala itu!" sahut siluman tikus.


Astara pun melepas ikat kepala itu, dan memang tidak ada tanda spesial di keningnya. Dewa bumi membuka penutup sihirnya. Astara merasakan hawa panas yang mengalir di dalam tubuhnya, kekuatannya seolah berlipat setelah dewa bumi membuka portal sihirnya. Astara berteriak lantang di atas langit hingga tanda V yang bersinar itu muncul di dahinya.

__ADS_1


"Hey, Kakek tua apa yang kau lakukan padaku," ucap Astara yang merasakan energi besar di dalam tubuhnya.


"Aku hanya membuka tanda dewa dari tubuhmu," dewa bumi.


Astara pun bercermin di air terlihat tanda V bersinar menyala di keningnya.


"Itu adalah tanda dewa terkuat. Dulu kamu adalah dewa perdamaian, tapi karena suatu hal kamu dihukum oleh kaisar langit ke bumi," ucap Dewa bumi.


"Aku dulu juga seorang dewa, tapi karena aku membantu kamu, akhirnya aku dibunuh dewa perang dan bereinkarnasi menjadi siluman tikus," ucap Bailin.


Astara mulai memahami, kenapa guru dan orang tuanya menyuruh untuk melakukan kultivasi di tempat ini, supaya bisa menyerap energi alam dan membuat tubuhku lebih peka terhadap hawa kejahatan.


"Tapi, aku tidak mengingat semuanya," ucap Astara.


Bailin siluman tikus menepuk pundak Astara. "Tenang saja aku akan membantumu."


Astara melihat Bailin tajam. "Apa kau sungguh-sungguh."


"Tentu saja, aku ini dulu sahabatmu," ucap Bailin menegaskan.

__ADS_1


__ADS_2