Dewa Tiga Dunia

Dewa Tiga Dunia
Penantian Panjang.


__ADS_3

"Sepertinya istanamu hanyalah ilusi." Astara menghancurkan ilusi itu. Istana yang indah berubah menjadi sebuah gua.


"Siapa kau sebenarnya, mengapa kau punya tali emas milik para dewa?" tanya siluman rubah putih dengan suara lirih.


Astara hanya tersenyum sinis. "Cepat katakan kepadaku, dimana kau menyembunyikan para pengantin itu?"


Siluman rubah putih itu tertawa. "Bagaimana kalau aku tidak mau memberitahumu?"


Astara mendekati siluman itu. "Siluman rubah pandai sekali bersandiwara. Aku tau kau menyayangi tempat tinggalin ini. Bagaimana kalau aku menghancurkannya."


Siluman rubah putih memicingkan mata, mengeraskan gigi gerahamnya. Dengan terpaksa dia memberitahu dimana para tawanannya. Rupanya para pengantin pria itu di masukan ke penjara. Siluman rubah melepaskan semua tawanannya. Para pengantin pria segera berlari mengikuti jalan setapak yang di tunjukan Astara.


"Aku sudah melakukan apa yang kau perintahkan. Cepat lepaskan aku."


"Sebenarnya masih ada satu hal lagi yang harus kamu lakukan," ucap Astara.


Siluman rubah itu menatap Astara tajam.


"Hilangkan dinding pembatasmu," ucap Astara.


"Aku tidak bisa melakukannya, akan sangat berbahaya kalau aku membuka dinding pembatas itu," ucap siluman rubah putih.

__ADS_1


"Kau seorang siluman dengan pertapaan seribu tahun, siapa yang berani mengancammu?" tanya Astara.


"Aku tidak ingin makhluk lain menempati tempat ini," jawab siluman rubah putih.


"Kenapa kau begitu menyayangi gua ini?"


"Kau tidak akan mengerti!" bentak siluman rubah putih.


Astara menghela napas. "Dinding pembatasmu ini, menyulitkan warga untuk masuk ke kota. Mereka harus melewati gurun, dan itu menyulitkan mereka. Jika kau mau menghilangkan dinding pembatasmu, aku akan membantumu?"


"Kau jangan berlagak, Pendekar. Tau apa kau tentang masalahku."


"Aku adalah reinkarnasi dewa Narendra yang diturunkan di alam manusia untuk mencari sumber kekuatanku." Astara membuka ikat kepalanya.


"Maafkan atas kelancangan saya." Siluman rubah berlutut memberi salam penghormatan.


"Kau tidak usah sungkan, berdirilah." Astara menyuruh siluman rubah berdiri.


Siluman rubah membacakan mantra, dinding pembatas pun hilang. Angin kembali bertiup di sekitaran gua.


"Terima kasih, siluman rubah. Aku akan membuatkan tehnik ilusi supaya gua ini tidak terlihat," ucap Astara.

__ADS_1


"Tidak usah." Siluman rubah berubah pikiran.


"Kenapa?" Astara heran.


"Kau bilang akan membantuku. Aku mau ikut denganmu mencari sumber kekuatanmu," ucap siluman rubah.


Bailin datang menghampiri Astara dan melihat siluman rubah yang sedang terikat.


"Jadi ini biang keladinya," tunjuk Bailin.


"Hey, tikus busuk. Jangan asal bicara," cibir siluman rubah putih.


Bailin terkekeh. "Kau sudah tertangkap masih berani menghinaku. Kau pikir aku sama denganmu siluman jahat!"


"Siapa yang kau sebut jahat, aku tidak pernah membunuh satupun manusia. Mereka hanya aku kurung dan kuberi makan enak," ucap siluman rubah.


"Hey, kenapa kalian malah bertengkar. Siluman rubah maaf aku tidak bisa menerima permintaanmu. Misi ini terlalu berbahaya untukmu," ucap Astara.


Siluman rubah itu menghela napas. "Ternyata, reinkarnasi dewa Narendra punya reputasi buruk dalam menepati ucapannya."


"Apa kau bilang!" Bailin tidak terima. Astara menghentikan langkah Bailin. "Kau telah membuka identitasmu di depan siluman ini." Bailin menatap Astara tajam.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Bailin. Dia bukan orang jahat. Aku merasakan energi ki yang mengalir di tubuhnya," jawab Astara.


"Tikus busuk, kemampuanmu itu masih dibawahku. Jadi, bersikaplah sopan kepadaku," ucap siluman rubah.


__ADS_2