Dewa Tiga Dunia

Dewa Tiga Dunia
Mencari Alasan.


__ADS_3

Astara memberi salam pada Hai Xuan, lalu segera pergi dengan langkah cepat.


"Kau kemana saja?" tanya Bailin.


"Aku habis cari angin sebentar," jawab Astara.


"Tadi salah satu murid sekte Lin'an memberikan surat undangan ini untukmu," Bailin memberikan surat itu kepada Astara.


Astara membukanya. "Ini surat undangan kejuaraan kungfu."


Bailin mendekati Astara. "Baguslah, kau harus jadi juara."


Esok harinya Astara melihat banyak murid sekte Lin'an membersihkan halaman dan koridor ruangan. Astara berjalan menuju taman sambil menyapa ramah para pekerja.


Hai Xuan dengan raut wajah yang tidak bersahabat berpapasan dengan Astara.


"Mau kemana kamu?" tanya Hai Xuan dengan wajah serius.


Astara memberi salam. "Aku mau jalan-jalan dulu, Senior."


Hai Xuan melipat tangan ke belakang. "Sekte Lin'an ini ada aturannya. Orang asing tidak boleh sembarangan melihat-lihat kawasan sekte Lin'an."


Astara terdiam menundukan kepala.


Bailin datang. "Ada apa ini? Kelihatan di sini ada yang tidak senang denganmu. Bailin menyindir Hai Xuan.

__ADS_1


Hai Xuan menatap tajam Bailin. "Kalian lebih baik masuk kamar tunggu makanan dihidangkan, baru kalian boleh keluar."


"Kami di sini tamu terhormat, jadi kami berhak berkeliling area ini. Ketua sekte mu sudah mengizinkan kami," ucap Bailin.


Hai Xuan mendengkus kesal, lalu pergi dari hadapan Bailin dan Astara. Bailin tersenyum senang menatap punggung Hai Xuan.


"Bailin kenapa kamu berbohong?" tanya Astara menepuk pundak Bailin.


"Biarkan saja, dia juga mengada-ada, kan?"


Astara tersenyum sambil menggelengkan kepala.


"Sudah ayo jalan," ucap Bailin.


"Astara, kenapa wajahmu merah seperti itu?" tanya Bailin heran.


"Tidak apa-apa? kita ke sebelah sana saja," Astara menuju jalan yang berlawanan arah dengan Jiarong.


"Pendekar ikat kepala, Bailin!" panggil Jiarong yang melihat Astara dan Bailin.


Astara pun berhenti berjalan, jantungnya berdetak tidak beraturan. Bailin melambaikan tangan ke arah Jiarong.


"Astara di panggil Jiarong," ucap Bailin.


Dengan senyum kaku Astara berbalik badan. "Selamat pagi Nona Jiarong."

__ADS_1


Wajah Jiarong terlihat riang. "Bantu aku memetik tanaman obat."


"Boleh kebetulan kita sedang tidak ada kegiatan," ucap Bailin.


Jiarong memberikan keranjang kepada Astara dan Bailin.


"Astara kau kenapa sih, wajahmu tegang sekali," ucap Bailin.


"Tidak apa-apa, aku cuma tidak enak badan," jawab Astara.


Bailin menggaruk kepalanya, dia heran melihat tingkah Astara yang tiba-tiba kaku. Bailin tidak pernah yang namanya jatuh cinta. Seumur hidupnya dia hanya menjadi pelayan bagi dewa Bumi.


"Pasti karena kemarin malam kehujanan ya." Jiarong menempelkan jemarinya di keningnya Astara.


Astara terkaget, mundur beberapa langkah.


"Badanmu panas, biar aku buatkan obat untukmu." Jiarong tanpa persetujuan Astara langsung pergi menuj dapur.


Bailin melihat Astara cukup lama, lalu tangannya ikut memegang kening Astara. Kali ini Astara menyingkirkan tangan Bailin. Bailin sedikit terkaget dengan sikap Astara.


"Jangan pegang keningku, nanti ikat kepala ini jatuh," alasan Astara.


"Mana mungkin, itu ikat kepala untuk menutupi tanda di keningmu. Ikat kepala itu sudah diberi mantra dewa bumi, jadi tidak akan lepas," ucap Bailin.


Astara dan Bailin duduk di sebuah gardu. Tak lama berselang, Jiarong datang membawakan minuman obat untuk Astara.

__ADS_1


__ADS_2