
"Aku merasakan ada energi jahat di sekitar sini," ucap dewi bulan.
"Tapi kita tidak bisa mendekat, anginnya terlalu kencang," ucap Astara dengan suara keras.
Dewi bulan membuat gelembung besar dengan tangkai bunga lotus. "Kalian cepat masuk ke dalam.
Astara dan teman-temannya masuk ke dalam gelembung itu. Dewi bulan menerbangkan gelembung itu menuju energi jahat yang berlawanan arah dari badai. Dewa angin menghentikan badai itu tatkala melihat gelembung besar berawakan manusia.
"Aku sudah menunggu kalian. Ternyata benar yang dikatakan kaisar kegelapan. Dewi bulan telah dibangkitkan."
"Dulu aku mengenalmu sebagai murid dewa bintang. Kenapa kau membuat kekacauan," ucap dewi bulan.
"Ini untuk dunia kegelapan," balas dewa angin.
"Sadarlah dewa angin kau telah dirasuki aura kegelapan!" pekik Bailin.
"Jangan banyak bicara, lawan aku!" Aura kuning menyala menyelimuti tubuh dewa angin.
"Dia serius." Astara keluar dari gelembung dewi bulan untuk melawan dewa angin.
__ADS_1
"Akulah lawanmu."
"Kebetulan sekali, aku ingin menguji kemampuan reinkarnasi dewa terkuat." Dewa angin melesat dengan pukulan keras.
Astara mengnangkisnya, namun pukulan dewa angin terlalu kuat, Astara terdorong menabrak bongkahan es.
"Astara!" pekik Jiarong.
Astara bangkit kembali, kekuatan kristal hijau selain menambah kecepatannya juga menambah daya tahan tubuh supaya tidak mudah terluka.
"Dewi bulan, menjauhlah dulu. Biar aku yang menyelesaikan petarungan ini," ucap Astara.
Dewi bulan mengangguk, gelembung itu turun menjauhi Astara dan dewa angin.
"Kau sama saja dengan dewa petir. Banyak bicara." Astara meningkatkan energi ki. Aura hijau dengan kilatan petir mebgelilingi tubuhnya.
"Serang aku kalau ..." Belum juga selesai bicara, dewa angin terkena bogem mentah di perutnya hingga matanya melotot karena terkejut. Dewa angin merintih kesakitan memegangi perutnya.
"Kurang ajar! Beraninya kau memukul seorang dewa," rintih dewa angin sambil mengatur napas.
__ADS_1
Astara tersenyum simpul, menganyunkan jemari kanannya menyuruh maju dewa angin.
"Kau meremehkanku rupanya!" Dewa angin meningkatkan energi ki. Aura kemasan menyala terang melindungi tubuhnya.
Dewa angin tiba-tiba menghilang dan sudah berada di belakang Astara. Tendangan disertai kilatan petir di kakinya mengenai punggung Astara sampai terpental menabrak bongkahan es raksasa.
Astara yang tertimbun es, melihat dari lubang kecil untuk mempelajari tehnik yang di gunakan dewa angin. "Aku tidak bisa melihat gerakannya."
Tiba-tiba dewa angin sudah ada di belakang Astara dan kembali menendangnya ke udara. Astara berteriak kesakitan. belum juga hilang sakitnya, dewa angin sudah mendahului Astara. Dengan pukulan kedua tangannya, Astara kembali jatuh ke bawah. Kali ini Astara mengeluarkan darah dari mulutnya.
"Pedang Narendra!" Astara mengeluarkan senjata andalannya untuk mencegah serangan cepat dewa angin.
Astara keluar dari bongkahan es dengan napas yang tersengal menatap tajam dewa angin. Dewa angin hanya tersenyum sinis melihat kondisi Astara yang sudah compang-camping.
"Kau lihat saja, nasibmu akan sama dengan dewa petir," ucap Astara merasa emosi.
"Jadi, kau sudah mengalahkan dewa petir," ucap dewa angin.
"Tapi, aku berbeda dengan dewa petir bodoh itu." Dewa angin kembali mengeluarkan aura keemasannya.
__ADS_1
Astara segera menggunakan tehnik membagi tubuh, dewa angin sejenak berhenti menyerang karena tiba-tiba tubuh Astara menjadi ribuan.
"Jurus mainan ini, tidak berguna di hadapanku." Dewa bumi menghajar satu persatu ribuan cloningan Astara dengan aura emasnya.