
Soma membuat pelindung diri supaya tidak ada lagi yang mengganggu saat membuat pil pengaruh. Soma mengambil aura hitam, lalu sedikit demi sedikit memadatkan aura itu hingga membentuk sebuah pil hitam.
Soma tersenyum menyeringai menatap Jingyi. "Apa jadinya jika aku memberi pil pengeruh kepada Jiarong dan kamu, Guru?"
"Seberapa pun hebatnya dirimu, kau hanyalah seorang pecundang yang menghalalkan segala cara untuk menjadi kuat," ucap Jingyi tersenyum sinis.
"Apa kau bilang, kau tidak akan pernah tau seberapa menderitanya diriku saat berada di lembah kematian. Kau juga tidak pernah tau betapa menderitanya diriku saat dewi kesuburan memilih Narendra menjadi pendampingnya," ucap Soma geram.
"Itulah kau ... seorang pecundang. Kau tidak bisa bersaing secara sehat seperti halnya dewa pada umumnya. Kau malah memilih jalan pintas yang membuatmu jadi hina," balas Jingyi
"Diam kau!" Soma menutup mulut dewi bulan dengan aura hitam yang keluar dari danau. "Aku adalah kaisar kegelapan yang agung. Lancang sekali kau mengatakan diriku hina. Setelah kau menelan pil pengaruh, masih bisakah kau berkata seperti itu."
Soma melanjutkan membuat pil pengaruh yang tak kunjung selesai itu.
Sedangkan Jiarong berusaha keluar dari sangkar emas yang mengurungnya. Berbagai cara telah dilakukan, tapi sangkar emas itu tidak kunjung terbuka. Apa lagi, kekuatannya tidak bisa berfungsi jika berada di dalam sangkar emas itu. Dewa bumi tiba-tiba keluar di depan Jiarong.
"Dewa Bumi." Jiarong terlihat riang melihat dewa bumi.
__ADS_1
"Jangan berisik, aku menekan kekuatan dewaku supaya Soma tidak mengetahui keberadaanku," ucap dewa bumi lirih.
dewa bumi menggunakan sihir tongkat kayu untuk membuka sangkar emas. Sangkar emang itu terbuka, Jiarong keluar berbegas menyelamatkan dewi bulan.
"Kau mau kemana?" tanya dewa bumi.
"Aku ingin menyelamatkan dewi bulan," jawab Jiarong.
"Lebih baik jangan, kau bukan lawannya," ucap dewa bumi.
"Tapi, dewi bulan dalam bahaya."
"Jadi kalian ingin kabur dariku." Suara seorang yang melayang dari atas. Soma telah mengetahui keberadaan mereka berdua.
Dewa bumi dan Jiarong pun terbelalak.
Soma tersenyum sinis. "Aku punya hadiah untuk kalian."
__ADS_1
Dewi bulan muncul dengan mata hitam menyala menatap tajam Jiarong.
"Hahaha ... sekarang aku ingin melihat apa kalian tega dengan guru Jingyi," ucap Soma.
"Kurang ajar kau, Soma! Apa yang kau lakukan terhadap dewi bulan!" umpat Jiarong.
"Aku tidak mungkin menyakiti guru tersayangku. Aku hanya Membuatnya berpihak kepadaku. Guru, apa kau mau membantuku?" tanya Soma dengan senyum liciknya.
Jinggyi yang telah menelan pil pengaruh, tanpa ragu menyerang Jiarong dan dewa bumi dengan tongkat bulannya.
"Dewi bulan sadarlah, ini aku Jiarong."
"percuma saja, Jiarong. Jiwa dewi Jingyi telah diikat dan digantikan dengan jiwa kebencian dari neraka," ucap dewa bumi sambil menangkis serangan dari dewi bulan.
"Kita harus segera mencari penawarnya!"
"Tidak akan sempat, semua dewa telah dikalahkan oleh Soma. yang bisa kita lakukan hanya bertahan sambil menunggu Astara pulih," ucap Dewa bumi.
__ADS_1
Jingyi terus menyerang membabi buta hingga Jiarong terpojok. Namun, Dewa bumi mampu menangkap dewi bulan dengan tali emasnya. Soma yang melihatnya tidak tinggal diam, dia menendang dewa bumi dari belakang hingga terlempar jauh membentur tebing.
"Jangan ikut campur pak tua," geram Soma.