
Orang itu tersenyum sinis menatap Astara sambil meningkatkan aura dewanya. Astara kembali menyerang, tapi serangannya langsung dipatahkan orang itu. Astara terkunci yang membuatnya susah untuk bergerak. Orang itu mengeluarkan bola energi mengenai punggung Astara yang membuat Astara terjatuh dari udara.
Astara terbaring menatap langit dengan napas yang tersengal. Cahaya putih itu keluar dari tubuh Astara.
"Seorang ksatria bertarung dengan hatinya, bukan dengan amarahnya. Kau tidak akan mengalahkanku jika dirimu masih dikuasai oleh nafsu," ucap cahaya itu.
"Siapa kau?" tanya Astara lirih.
Cahaya itu tidak menjawab, lalu masuk kembali ke dalam tubuh Astara. Orang yang menyerupai Astara itu kembali menyerang dan mencekik leher Astara. Kemudian, melempar Astara hingga membentur bukit. Astara hanya bisa menahan serangan dari orang itu. Energi ki nya semakin berkurang, sedangkan orang itu seperti tidak punya lelah.
Cahaya putih itu kembali keluar dari reruntuhan yang mengubur Astara.
"Jiwa yang suci tidak akan bisa dikalahkan oleh siapapun. Musuh terbesar dalam hidupmu adalah dirimu sendiri." Cahaya putih itu kembali menghilang.
__ADS_1
Astara di balik reruntuhan merenung memejamkan mata. Ingatan masa lalu saat mengalahkan musuh-musuh kembali muncul. Astara mulai paham apa yang dimaksud kesucian jiwa. Selama ini, Astara mengalahkan musuhnya karena dia reinkarnasi dewa Natendra, dewa terkuat di alam semesta.
Astara selalu menggunakan kekuatan amarahnya untuk mengalahkan musuhnya. Namun, kekuatan welas asih dan jiwa perdamaiannya tertutup oleh nafsu amarahnya. Astara pun keluar dengan aura putih. Ketiga kristal Narendra berputar mengelilingi energi ki dari dalam tubuhnya.
Astara tersenyum tipis menatap orang yang menyerupainya. Orang itu menunjukan amarahnya menyerang Astara dengan api. Astara dengan mudah menghindari serangan orang itu.
Gerakan Astara sangat lembut seperti ada yang menggerakkan. Orang itu semakin marah dan mengeluarkan aura gabungan melesat menyerang Astara. Dengan sekali sentil mengenai kening membuat orang itu tepental menyusur rerumputan.
Astara tau dimana tubuh asli orang itu bersembunyi. Astara mengeluarkan pedang energi menembus tanah, lalu pedang energi itu diangkat dan menembus perut orang yang menyerupai Astara. Orang itu menatap tajam dengan gigi geraham yang mengeras ke arah Astara. Tubuh orang yang menyerupai Astara pun hilang.
Astara tersadar dan kembali ke ruang waktu. Astara merasakan aliran kristal Narendra mengalir di tubuhnya. Dia merasa nyaman saat kristal Narendra menyatu di dalam tubuhnya.
"Astara, kau sudah sadar." Dewa bintang menepuk pundak Astara.
__ADS_1
Astara tersenyum tipis dengan manik mata berwarna biru.
"Kau sudah berhasil mengendalikan kristal Narendra rupanya." Dewa bintang terlihat gembira.
"Aku tidak mengendalikannya, tapi kristal Narendra sudah menjadi bagian dari diriku. Energi ki ku menyatu dengan kristal Natendra," jawab Astara.
"Bagus, kau tinggal mencari satu kristal Narendra yang tersisa. Maka, kita akan menyerang istana langit," ucap dewa bintang lantang.
Astara mengangguk sambil tersenyum.
"Kita kembali ke dunia, sambil menunggu Bailin dan Xiao Yu kembali." Astara dan dewa bintang keluar dari ruang waktu.
Astara mendekati Suli yang masih berbaring, lalu memberikan energi batin yang baru didapat dari pertarungan dengan hawa nafsunya sendiri.
__ADS_1