
Aroma Hai Xuan tidak seperti manusia. Tidak juga siluman. Namun, Astara tidak enak hati jika berurusan dengan murid sekte Lin'an. Bagaimana pun juga ketua sekte Lin'an begitu baik dengannya.
Selesai makan siang, para tamu undangan bubar masuk ke kamarnya masing-masing. Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Astara di dalam kamar.
"Pendekar ikat kepala, ini aku Jiarong!"
Astara segera membuka pintu. "Nona Jiarong, ada apa?"
Jiarong tertunduk sambil memasang wajah imut. "A-aku mau minta maaf atas sikap kekanak-kanakanku tadi pagi."
Astara tersenyum. "Nona Jiarong tidak perlu minta maaf. Seharusnya saya yang minta maaf karena bertindak tidak sopan sama Saudara Yutang dan Nona Jiarong."
Jiarong memperhatikan keliling kamar. "Bailin dimana?"
"Bailin sedang keluar," jawab Astara.
"Kalau begitu temani aku mengambil Air penyembuhan di danau." Jiarong menarik tangan Astara secara tiba-tiba.
"Nona Jiarong, kita mau kemana?" tanya Astara dengan tergesa-gesa.
"Ikut saja, jangan banyak tanya," ucap Jiarong sambil membersihkan telapak tangannya.
"Tempatnya ada dimana?" tanya Astara saat sudah keluar dari pintu gerbang.
__ADS_1
"Di ujung bukit sana," tunjuk Jiarong di salah satu bukit.
Mereka berdua berjalan menyusuri hutan.
"Ceritakan, bagaimana sekte bunga teratai."
"Tidak jauh beda dengan sekte Lin'an, cuma kalau di sekte kami tidak diajarkan tentang pengobatan," jawab Astara berjalan beriringan dengan Jiarong.
"Pengobatan sudah menjadi tradisi turun temurun di sekte kami karena di sini banyak tanaman yang bisa di manfaatkan untuk obat."
"Nona Jiarong juga membuat ramuan obat?"
"Almarhum ibuku yang mengajari," jawab Jiarong
"Itu karena orang tuanya dibunuh oleh seekor siluman laba-laba. Ayahku menampungnya sebagai murid. Dengan kerja kerasnya, Zhang Yutang berhasil menguasai teknik kultivasi yang mumpuni diantara anak seusianya. Makanya, dia sekarang menjadi pemburu siluman jahat," ucap Jiarong.
Mereka berdua sampai di danau berwarna merah. Astara terlihat takjub dengan warna danau itu.
"Danaunya berwarna merah."
"Danau Lin'an, konon katanya berasal dari surga, makanya airnya berwarna merah. Aku ingin mengambil air penyembuhan dengan teknik kultivasimu," ucap Jiarong.
Astara mengangguk, dia memutar-mutar tangannya menggunakan teknik kultivasinya. Air yang ada di danau terangkat ke atas, lalu air itu masuk ke dalam telapak tangan Astara.
__ADS_1
"Wah, hebat! Bagaimana kau bisa melakukannya," ucap Jiarong kagum.
"Aku hanya menggunakan energi alam untuk menyatukan tubuhku," jawab Astara.
"Bagaimana caranya?" tanya Jiarong.
"Aku menghabiskan waktu berkultivasi di bawah air terjun, jadi tidak sulit untuk memadukan air di dalam tubuh."
"Sudah sampai berapa teknik kultivasimu?" tanya Jiarong.
Astara menggeleng. "Aku tidak tau, di sekte kami tidak pernah ada ukuran setinggi apa teknik kultivasi. Sekte kami mengutamakan tenaga dalam untuk penyembuhan diri sendiri."
"Aku akan menjelaskan tingkatan teknik kultivasi. Teknik dasar, mengaktifkan tenaga Ki, kedua memperkuat pondasi jiwa, ketiga membangun inti ki, keempat memproyeksikan kekuatan jiwa, kelima mencapai keabadian seperti para dewa."
Astara tidak mengerti tentang penjelasan Jiarong. "Lebih baik kita pulang."
Jiarong terkekeh. "Kau tidak mengerti ya?"
Astara mengangguk. "Aku hanya tau tentang mengaktifkan tenaga dalam saja."
"Itu sama saja dengan ki. Sudahlah ayo kita pulang." Jiarong berjalan di ikuti Astara dari belakang.
Sesampainya di ruang pengobatan, Astara menyalurkan air itu ke dalam wadah besar.
__ADS_1