
Pagi-pagi sekali, Astara dan Bailin melanjutkan perjalanannya. Mereka akan menuju puncak gunung yang ada di perbatasan kota. Di tengah perjalanan, Astara dan Bailin berpapasan dengan rombongan penggantin. Mereka berdua berhenti sejenak melihat kemeriahan iringan pengantin pria.
Dari atas, ada seorang wanita cantik berbaju putih terbang, lalu dengan sengaja menculik pengantin pria itu. Para pengiring pengantin panik berteriak minta tolong. Astara dan Bailin yang melihatnya mengejar wanita cantik itu. Kejar-mengejar di udara pun terjadi.
"Berhenti kau siluman!" Bailin melempar jarum pelumpuh untuk menghentikan wanita cantik itu.
Siluman itu menggunakan ekor rubahnya untuk membalikan serangan jarum itu. Bailin dan Astara dengan cepat menghindari serangan itu. Siluman rubah itu menggunakan bubuk mata beracun untuk menghalangi pandangan. Bailin yang seorang siluman merasakan perih di bagian penglihatan. Astara yang mempunyai energi dewa mengunakan tehnik pelindung untuk menerobos bubuk beracun itu.
Bailin terjatuh dari udara, tapi dia bilang ke Astara kalau dia tidak apa-apa dan akan menyusulnya. Astara pun melanjutkan pengejarannya. Siluman rubah putih itu terus terbang di belakang Astara. Dia mengucapkan mantra untuk menembus pembatas yang sudah disiapkan. Astara terpental menatap pembatas itu.
"Hahahaha ... selamat tinggal pendekar tampan." Suara siluman rubah itu menggema di udara.
Bailin yang sudah memulihkan penglihatannya datang. "Dimana siluman itu?"
__ADS_1
"Dia menggunakan sihir penghalang," jawab Astara.
Bailin mencoba memukul dinding pembatas itu, tapi tangannya malah terasa sakit. Astara hendak mencegahnya, tapi sudah terlambat.
"Kau tidak apa-apa, Bailin?"
Bailin mengangguk sambil mengerakkan tangannya yang terasa sakit.
"Apa tidak ada cara lain untuk menghancurkan dinding ini?" tanya Bailin.
"Bisa, dengan menggunakan aura dewa, tapi keberadaanku pasti akan diketahui Soma dan para dewa jahat lainnya. Kecuali, kita tahu mantra untuk membuka dinding pelindung ini," jawab Astara.
"Aku punya ide." Bailin berbisik di telinga Astara.
__ADS_1
Astara mengangguk menyetujui ide dari Bailin. Segera mereka menuju ke hutan untuk mencari telur burung. Siluman rubah sangat menyukai telor burung. Setelah cukup mendapatkan telur burung, Astara dan Bailin sengaja membakar telur itu supaya aromanya sampai ke hidung siluman rubah itu.
Benar saja, siluman rubah putih itu tertarik dengan bau harum yang di hasilkan telur burung itu. Segera dia keluar dari persembunyiannya dan mengambil telur burung burung itu, tapi ini adalah jebakan yang disiapkan Astara dan Bailin. Dinding pembatas itu terbuka saat siluman rubah itu keluar. Bailin yang mengubah dirinya menjadi seekor tikus masuk melalui celah itu.
Astara yang melihat siluman rubah itu keluar, menangkap tangannya. siluman rubah putih itu tersenyum menatap Astara. Tubuhnya berubah menjadi batang kayu, ternyata dia menggunakan tehnik bayangan untuk mengecoh Astara. Bailin yang masuk ke dalam dinding pembatas terpental keluar karena siluman rubah putih melapisi dinding pembatasnya.
"Hahaha ... aku siluman rubah putih sudah melakukan pertapaan seribu tahun. Jebakan kalian tidak berarti bagiku." Suara itu kembali menggema di udara.
"Keluar kau pengecut!" cibir Bailin yang merasa dipermainkan siluman rubah.
"Hey tikus busuk, kau jangan berlagak, aku bisa mengalahkanmu dengan sekali pukulan," ucap siluman rubah itu yang menggema.
"Coba saja kalau kau bisa!" Bailin semakin emosi dengan ucapan siluman rubah putih.
__ADS_1