
Pancaran mata merah terlihat di depannya. Seekor beruang kutub meraung keras menatap Jiarong. Jiarong berteriak kencang sembari berlari keluar gua. Beruang kutub itu mengejar dan hendak menerkam Jiarong. Jiarong mengggunkan ilmu peringan tubuh untuk terbang ke atas pohon.
Beruang kutub itu semakin marah, dengan cakar tajamnya dia mengikis batang pohon sedikit demi sedikit. Jiarong tersenyum menyeringai, dia pindah ke pohon lainnya. Beruang kutub itu terlihat kelelahan meraung menatap Jiarong.
"Kenapa, apa kau sudah lelah?"Jiarong tersenyum mengejek beruang itu.
Terlihat sebuah anak panah menancap di kaki kirinya. Jiarong turun dan memeriksa kondisi beruang kutub itu.
"Kau sedang terluka ternyata." Dengan tehnik pengobatannya, Jiarong mencabut anak panah itu. Beruang itu meringis kesakitan.
Jiarong segera mengobati luka di kaki beruang itu dengan tanaman obat yang masih dia bawa, lalu dengan tehnik kuktivasinya, Jiarong memgeluarkan kain dari tangannya untuk menutup lukanya.
"Sekarang kakimu tidak akan terasa sakit lagi," ucap Jiarong.
Beruang kutub itu pun berterima kasih kepada Jiarong dengan menjilati wajahnya. Jiarong tertawa merasa geli. Seekor beruang kutub kecil datang memeluk beruang kutub besar yang diselamatkan Jiarong. Mereka berdua mengajak Jiarong istirahat di tempatnya.
Sementara itu, Astara dan Bailin sudah tiba di negeri salju. Mereka langsung di suguhkan dengan hamparan salju yang menutupi setiap rumah penduduk.
"Changguan, kembalilah!" Astara mengangkat sarung pdangnya, Changguan kembali masuk ke dalam sarung pedang itu.
"Dingin sekali," ucap Bailin menggigil.
__ADS_1
"Gunakan energi ki mu supaya tubuhmu tetap hangat, Bailin," ucap Astara.
"Aku tidak memiliki energi ki sebesar dirimu, kalau aku menggunakannya seharian, tenagaku bisa habis," jawab Bailin.
"Kalau begitu kita cari penginapan saja."
"Itu lebih baik," Astara dan Bailin pun mencari sebuah penginapan.
"Paman, apa di sini masih ada kamar?" tanya Astara.
"Masih ada, Tuan," jawab pemilik penginapan dengan ramah.
"Kami mau pesan satu kamar untuk semalam.
"Berapa harga satu kamarnya, Paman?"
"Dua puluh crown, Tuan."
"Crown?" Astara menjadi bingung.
"Kalian pasti datang dari jauh ya, di negeri ini semua mata uang memakai crown," Pemilik penginapan menunjukan mata uang negeri salju.
__ADS_1
"Kami tidak punya mata uang seperti itu, Paman?"
"Paman, apa dengan ini sudah cukup." Bailin memberikan satu emas batangan kepada pemilik penginapan.
"Emas batangan, tentu saja, Tuan. Kalian juga boleh mengambil mantel yang ada di penginapan ini," ucap pemilik penginapan.
"Kau pintar, Bailin," bisik Astara.
"Selama masih ada Bailin siluman tikus tampan, semua masalah akan teratasi." Bailin menyibak rambutnya ke belakang membanggakan diri.
Astara tersenyum melihat tingkah Bailin. "Besok kita mulai mencari Jiarong dan Xiao Yu."
"Bukankah kau bisa merasakan energi ki Jiarong, kenapa kau tidak melakukan itu," ucap Bailin.
"Aku sudah melakukanhya dari tadi, tapi tetap tidak bisa," jawab Astara.
"Kenapa bisa seperti itu?" tanya Bailin.
"Entahlah, mungkin salju ini yang menghalangiku," jawab Astara.
Sementara itu, Yang Guo dengan hewan spiritual elang bermata tiga juga telah menemukan keberadaan Jiarong. Yang Guo yang terdampar di negeri selatan segera menuju negeri salju dengan menunggangi elang bermata tiga. Kecepatan elang itu tidak kalah dengan singa berkepala tiga milik Astara.
__ADS_1
"Reinkarnasi dewa Narendra sudah ada di sana," ucap elang bermata tiga.
"Sial, aku terlambat. Ini gara-gara aku terlalu percaya dengan Zhang Yutang," ucap Yang Guo.