
Bailin menganggukan kepalanya dengan wajah datar menatap ke depan.
Pemilik penginapan menepuk pundak Bailin yang terlihat melamun.
Bailin terperanjat. "Ada apa, Paman?!"
Pemilik penginapan itu terkekeh. "Apa Tuan Pengelana ada pertanyaan lagi?"
"Tidak ada."
"Kalau begitu saya permisi dulu."
Bailin masuk ke Kamar melihat Astara duduk sambil minum teh.
"Astara, bagaimana kalau kita selidiki kejadian aneh ini?"
"Tidak usah, Bailin. Lebih baik kita lanjutkan perjalanan besok."
"Aku penasaran saja, kenapa seorang siluman menculik pengantin pria."
"Bukankah siluman rubah pandai menggoda pria?" tanya Astara.
__ADS_1
"Nah, itu maksudku. Siluman rubah pandai merayu pria. Seharusnya dengan kata manisnya dia sudah mampu menyihir para pria untuk melakukan segala perintahnya. Tapi kenapa, dia menculik pengantin pria?"
"Entahlah, Bailin. Aku mau istirahat dulu." Astara merebahkan diri di tempat tidur.
Bailin berjalan menuju koridor. Terlihat cahaya putih tertawa di udara. Bailin melompat mengikuti cahaya putih itu.
"Mau kemana kau siluman?"
Cahaya putih itu menghilang di tengah gurun.
"Keluar kau, Siluman!" pekik Bailin.
Suara putih itu tertawa menggema di tengah gurun, lalu menghilang. Bailin baru sadar bahwa ini jebakan. Cahaya putih itu sebenarnya hanya sebuah pancingan. Tujuan yang sebenarnya adalah Astara.
"Siapa kau?" Tatapan tajam Astara membuat si wanita cantik itu bergidik.
Wanita cantik itu gelagapan sulit untuk benapas. Dengan napas tersengal wanita itu mengambil bubuk racun mata untuk mengganggu penglihatan. Astara pun melepas cekikan tangannya karena racun mata itu.
Wanita cantik itu terjatuh, lalu tersenyum sinis. Dia mengira kalau Astara akan buta dengan bubuk racun mata yang dia tabur. Tapi, Astara masih bisa melihat, kekuatan dewa dalam dirinya membuat dia kebal dengan racun dunia. Wanita cantik itu pun terkaget, dan segera kabur dari kamar Astara.
Astara hendak mengejar wanita itu, namun sebuah ketukan pintu mengurungkan langkah Astara.
__ADS_1
"Tuan Pengelana ada apa, kenapa terdengar suara keributan?" tanya pemilik penginapan.
Astara tersenyum. "Tidak ada apa-apa, Paman. Aku hanya sedang berlatih ilmu bela diri."
Pemilik penginapan memperhatikan ruang kamar takut terjadi sesuatu, tapi Astara mencoba menghalangi pandangan pemilik penginapan.
"Kalau begitu saya permisi dulu," ucap pemilik penginapan yang masih terlihat curiga.
Sedangkan, wanita cantik yang menyelinap di kamar Astara duduk cemberut di sebuah gua dengan ekor putih di belakangnya. Ternyata benar, dia adalah siluman rubah putih yang mengganggu penduduk sekitar.
"Kurang ajar, siapa pria ikat kepala itu? Mengapa dia kebal terhadap bubuk racunku," ucap siluman rubah sambil memainkan syal bulu dombanya.
Sedangkan Bailin, tidak tau harus pergi ke arah mana. Dia buta arah. Sudah beberapa kali di menggunakan tehnik menghilangnya, tapi malah semakin jauh dari pemukiman penduduk. Bailin terpaksa berjalan karena terlalu banyak menggunakan energi ki.
"Beraninya siluman itu membawaku ke sini. Aku akan membalasnya!" Bailin merengek tidak bisa pulang.
Sebuah suara terdengar memanggil namanya. Itu suara Astara. Bailin segera menyahut panggilan itu.
"Astara kau dimana ...!?"
Astara yang mencari Bailin mendengar suara Bailin dari arah barat. Segera dia menuju ke sana. Astara menemukan Bailin yang terlihat pucat.
__ADS_1
"Kau kenapa, Bailin?" Astara menahan tawa.
"Aku dijebak oleh siluman itu," jawab Bailin kesal.