
Kini mereka tidak punya tempat untuk berlindung. Para asyura yang tersisa itu bergentayangan mencari tempat tinggal karena seratus tahun yang lalu alam mereka sudah dihancur oleh dewa perang dan empat ksatria langit.
Dewa bumi keluar dari dalam tanah hendak memberi pesan kepada pasangan pendekar itu.
"Hormat kepada dewa bumi," ucap pasangan suami istri itu beelutut memberi salam.
"Sudahlah jangan terlalu sungkan kepadaku, aku kesini hanya ingin memberi tau tentang bayi ini," ucap Dewa bumi sambil mengelus jenggot putihnya.
"Maksud dewa bumi?" tanya sang suami mengerutkan dahi.
"Bayi ini bukan bayi biasa, dia adalah reinkarnasi dewa perdamaian. Aku minta kalian mengajari anak ini ilmu kultivasi," jawab dewa bumi.
Pasangan suami istri itu pun terkejut, mereka tidak menyangka akan dititipkan reinkarnasi dari dewa perdamaian.
"Tanda yang ada di kening bayi itu tutupi dengan ini." Dewa bumi memberi ikat kepala berwarna biru untuk menutupi tanda V di kening bayi itu.
__ADS_1
"Baik dewa bumi, kami akan menjaga dan melatih bayi ini sekuat yang kami bisa," ucap sang istri.
"Beri nama bayi itu Astara Lodya." Dewa bumi seketika menghilang masuk ke dalam tanah.
"Suamiku, setelah sepuluh tahun menunggu akhirnya kita punya anak juga," ucap sang istri bersandar di dada sang suami.
"Kita akan latih dia supaya menjadi pendekar yang tangguh tanpa tanding," ucap sang suami.
Hari berganti bulan, bulan berganti dengan tahun, tahun-tahun berganti hingga melewati beberapa musim semi. Astara dengan tekun berlatih ilmu bela diri dan tenaga dalam.
Umur sepuluh tahun Astara masuk di sekte bunga teratai. Tempat ayah dan ibuhnya berlatih saat masih muda.
"Mana mungkin aku mengajarkan anak sepuluh tahun teknik kultivasi," ucap Dwi Pala.
"Anak ini bukan anak biasa guru, walaupun usianya masih sepuluh tahun, tapi Astara sudah bisa menguasai semua jurus yang murid ajarkan kepadanya."
__ADS_1
"Benarkah, coba perlihatkan kepadaku. Sehebat apa anak ini," ucap guru Dwi Pala.
Astara pun mengambil pedang ayahnya, lalu memperlihatkan jurus-jurus yang telah dia kuasai. Dwi Pala begitu takjub dengan Astara, dia tidak pernah berpikir akan ada anak berusia sepuluh tahun yang bisa menguasai ilmu dan jurus sebanyak itu.
"Anakmu ini bukan anak biasa Caraka, Aku betul-betul tidak menyangka," ucap sang guru.
Caraka tersenyum, lalu memanggil Astara untuk hormat kepada sang guru.
"Astara Lodya memberi hormat kepada guru," ucap anak berusia sepuluh tahun.
Dwi pala tersenyum. "Berdirilah, Nak. Aku terima kau menjadi muridku."
"Terima kasih guru, Astara akan membanggakan perguruan bunga teratai ini."
"Kalau begitu kami titip anak kami guru. Murid undur diri." Caraka dan Sugandi pun pulang. Astara menatap punggung orangtua di muka pintu gerbang dengan perasaan sedih.
__ADS_1
Dwi Pala menghampiri Astara. "Kamu tidak usah sedih Astara. Ibu dan ayahmu akan baik-baik saja."
Astara mendongak menatap sang guru, lalu dengan mantap menganggukkan kepala. Siluman tikus Bailin diam-diam mengikuti Astara. Ini sebuah perintah yang harus di lakukan. Sampai saat nanti Astara sudah siap bertemu dengan dirinya. Kaum Asyura sudah semakin kuat, mereka akan melakukan kejahatan.