
Astara duduk bersila, memejamkan mata melakukan meditasi. Astara seperti masuk ke dalam pikirannya sendiri, lalu keluar melalui cahaya terang yang memanggilnya. Asap hitam yang membelenggu Astara pun hilang. Rupanya, asap hitam itu berasal dari ketakutannya sendiri. Dewa angin menggunakan tehnik ilusi dengan gabungan energi ki masuk ke dalam pikiran terdalam Astara sehingga apa yang di alami seperti kenyataan.
Tujuan dewa angin masuk ke dalam pikiran Astara adalah untuk menjatuhkan mentalnya, tapi Astara mampu membalikan keadaan dengan memusatkan pikiran melalui energi ki dari kristal hijau. Astara membuka mata, menatap tajam dewa angin.
"Kali ini kita buktikan, siapa yang lebih hebat. Aura emas atau kekuatan kristal Narendramu," Dewa angin berteriak mengeluarkan Aura keemasan yang menyala terang.
Astara tidak mau kalah, dia menggabungkan aura merah dan aura hijau berubah menjadi warna kuning. Astara merasakan energi ki nya bertambah diu kali lipat.
__ADS_1
Dewa angin menghilang, lalu menyerang di belakang Astara dengan tinjunya. Namun, Astara dengan mudah mampu melihat pergerakan dewa angin. Dia menangkis tinju dewa angin, lalu melemparnya ke bawah. Dewa angin merasa tidak terima, dia kembali menyerang membabi buta dengan kekuatan penuhnya.
Astara bisa membaca pergerakan dewa angin, bahkan Astara mampu menyerang dengan bola energi hingga dewa angin kembali terjatuh menatap bongkahan es. Dewa angin kembali berdiri dengan napas yang tersengal.
"Aku sudah tau rahasia tehnikmu, kau bisa bergerak cepat karena memanfaatkan arah angin yang berhembus. Aku hanya butuh merasakan arah angin dan energi ki mu untuk tau dimana kau akan bergerak," ucap Astara.
"Sialan kau, di alam semesta ini tidak ada yang boleh menandingi aura emasku." Dewa angin berteriak mengeluarkan seluruh energi ki yang membuat goncangan di sekitarnya. Bongkahan es raksasa pun runtuh menjadi pecahan kecil.
__ADS_1
Changguan yang tengah sibuk bertarung dengan Goroi si kura-kura raksasa, memberitahu Astara untuk mengulur waktu karena tehnik dewa angin akan pudar seiring dia mengeluarkan energi ki. Astara terbang di antara bongkahan es menjauh dari kejaran dewa angin.
Dewa angin secara cepat sudah berada di depan Astara. Astara kembali menggunakan tehnik membagi tubuh untuk mengecoh dewa angin. Dengan teriakan disertai aura emas semua cloningan Astara berhasil dikalahkan dengan cepat. Tubuh Astara yang asli melesat ke arah dewa angin, tapi dewa angin lebih cepat dari pada Astara.
Tinju dengan kilatan petir mengenai wajah Astara sampai terlempar menempel di bongkahan es. Aura kuning yang menyelimuti Astara hilang, dia tergolek lemah. Dewa angin yang aura keemasan nya terlihat memudar menghampiri Astara dengan serangan pamungkas.
"Aku yang menang." Pisau angin keluar dari tangannya siap menghunus tubuh Astara. Namun, sebuah pedang merah menyala terbang ke arah dewa angin, lalu menusuk dari belakang. Dewa angin tersentak, matanya membulat seram. Pedang Narendra menembus jantungnya. Dewa angin terduduk lemas dengan tubuh yang gemetar. Darah mengalir di mulut dan dadanya.
__ADS_1
"Ja-jadi ini rencanamu." Dewa angin tergeletak memejamkan mata.
Astara terbatuk, lalu tesenyum kecil. Pertarungan antara dewa angin dan dirinya telah selesai.