Dewa Tiga Dunia

Dewa Tiga Dunia
Kisah Siluman Rubah Putih.


__ADS_3

"Bailin, kau tenanglah. Siluman ini pintar memancing emosi seseorang. Lebih baik kita pikirkan rencana yang lebih matang," ucap Astara menepuk pundak Bailin.


Bailin mengangguk.


Astara dan Bailin kembali ke iringan penggantin.


"Pendekar, apa anakku bisa diselamatkan?" tanya pria paruh baya yang merupakan ayah dari pengantin pria.


"Tenanglah, Paman. Kami akan berusaha menyelamatkan anak Paman, dan para pengantin yang telah diculik siluman rubah putih," jawab Astara menenangkan pria paruh baya itu.


"Kita harus cari cara untuk menjebak siluman rubah itu," ucap Bailin.


"Siluman rubah selalu menculik pengantin baru pria, besok kau dan aku akan menyamar sebagai sepasang pengantin untuk memancing siluman rubah itu keluar," ucap Astara.


"Itu ide yang bagus."


"Paman, bisakah kau menyiapkan baju pengantin untuk kami?"


Pria paruh baya itu mengangguk dengan gugup.


Sedangkan di dalam dinding pembatas, tedapat sebuah istana tempat tinggal siluman rubah putih. Semua pengantin pria dikurung di dalam penjara.


Seribu ****Lima Ratus**** Tahun Yang Lalu.

__ADS_1


Seekor siluman rubah kecil terluka di bagian kaki kirinya karena terkena panah dari pemburu. Ketika dia berpikir hidupnya akan berakhir, seorang pemuda datang menyelamatkannya dari pemburu hewan itu. Siluman rubah itu dibawa pemuda itu di sebuah gua.


"Rubah kecil, kau akan baik-baik saja di sini?" Pemuda itu mengobati luka di kaki rubah kecil itu. Sang rubah kecil terlihat tersenyum dan tertidur di pangkuan sang pemuda.


Esok harinya rubah itu terbangun dalam bentuk manusianya. Pemuda itu mematung saat melihat wajah cantik dari rubah kecil itu.


"Kau ..."


Rubah kecil itu tersenyum. "Terima kasih Tuan Pendekar telah menyelamatkan saya."


"Kau seorang rubah kecil yang sangat cantik. Siapa namamu?" tanya pemuda itu.


"Panggil Saya Suli," jawab rubah putih itu.


"Saya sebenarnya sedang mencuci ekor saya di sungai, tapi tiba-tiba, sebuah anak panah mengenai kaki saya," jawab Suli dengan cemberut.


Pemuda gagah itu terkekeh. "Sudahlah, Yang penting kau baik-baik saja."


"Penampilan Tuan pendekar tampak berbeda, dari mana asal, Tuan Pendekar?" tanya Suli.


Pemuda itu menggaruk tengkuknya sambil tersenyum nyengir. "A-aku memang berasal dari jauh. Aku sengaja ditugaskan guruku untuk melindungi tempat ini."


"O iya, aku belum tau siapa nama Tuan Pendekar?"

__ADS_1


"Namaku Soma."


Sejak saat itu, Soma sering mengunjungi gua tempat rubah putih kecil bersemayam. Mereka selalu bermain bersama hingga tumbuh perasaan saling suka.


"Suli, aku membawakan hadiah untukmu." Soma berlari membawa seikat bunga Lotus untuk rubah putih.


Suli dengan senang hati menerima hadiah dari Soma.


"Apa kau suka?" tanya Soma.


Suli mengangguk sambil mencium bunga lotus itu.


"Kalau kau suka aku bisa membawakanmu lebih banyak lagi." Soma terlihat sangat bersemangat.


"Benarkah?"


Soma mengangguk mantap.


Tiba-tiba sebuah ledakan terjadi tidak jauh dari tempat mereka. Serombongan klan pengendali api merusak hutan tempat makhluk hidup bersemayam. Soma muda dengan gagah melawan klan pengendali api itu. Namun, dia kesulitan melawan para pengendali api itu.


Suli ikut membantu Soma, tapi kekuatannya tidak cukup untuk mengalahkan klan pengendali api. Soma dengan kemarahannya mengeluarkan aura dewa merah menyelemuti tubuhnya. Sontak kekuatannya meningkat pesat. Para pengendali api pun bisa di kalahkan.


Sejak saat itu Suli mulai mengerti kalau Soma adalah seorang dewa.

__ADS_1


__ADS_2