
Di gunung emei, dewa bintang membuat lapisan portal untuk melindungi dewi bulan dan dewi kesuburan.
"Dengan lapisan ini kalian bertiga bisa berlatih tanpa diganggu siapapun. Aku akan menjaganya dari luar," ucap dewa bintang.
Jiarong mengucapkan terima kasih.
"Baiklah, kalau begitu kita segera mulai latihannya. Xiao Yu kau bertapa di atas batu itu. Kau Jiarong, ikut denganku," ucap dewi bulan.
Dewi bulan mengajak Jiarong masuk ke dimensi lain. Sebuah dunia yang hanya di penuhi warna putih.
"Dimana ini?" tanya Jiarong.
"Kita berada di alam waktu. Satu tahun di sini sama saja satu hari di alam dunia. Untuk membangkitkan kekuatan dewamu, di butuhkan waktu seratus tahun di sini," jawab dewi bulan.
"Baiklah dewi bulan, saya siap menerima latihan sekeras apapun." Jiarong berlutut memberi salam penghormatan.
"Baik. kalau begitu kita langsung mulai latihannya," ucap dewi bulan.
Jiarong mengangguk mantap.
__ADS_1
"Latihan dasar kau harus bisa menyerap energi alam."
"Bagaimana caranya aku melakukannya" tanya Jiarong.
"Organ dalam manusia adalah elemen terkecil dari alam semesta. Bertapa lah, kosongkan pikiranmu sampai energi alam bisa menyatu denganmu," jawab dewi bulan.
"Baik." Jiarong duduk bersila sambil memejamkan matanya.
Di negeri pasir, Astara dan Bailin berjalan menyusuri gurun yang panas.
"Hey Astara, kenapa kau tidak menggunakan aura hijau mu supaya kita tidak berjalan di tengah gurun yang terik ini," ucap Bailin mengeluh.
"Dewa bumi telah memberitahuku jangan menggunakan aura dewa. Bola pengintai telah kembali ke tangan dewa pagoda," jawab Astara.
"Jika aku menggunakan aura dewa, maka dewa pagoda dengan bola pengintai akan menemukan kita."
"Kau tinggal melawannya, kan? Kau bisa mengalahkan dewa petir dan dera bumi. Pasti kau juga bisa mengalahkan dewa pagoda," ucap Bailin.
"Kau tau 'kan aku terluka parah saat mengalahkan dua dewa itu. Sekarang tidak ada Jiarong dan dewi bulan. Akan berbahaya jika harus bertarung dengan dewa. Lagi pula, dewa petir dan dewa angin tidak bertarung dengan kekuatannya. Mereka hanya mengandalkan otot saat bertarung denganku. itu karena kedua dewa itu dikendalikan aura kegelapan. Kalau saja dua dewa itu sadar, aku yakin kekuatannya lebih hebat dariku."
__ADS_1
"Merepotkan saja."
"Kau tidak usah mengeluh terus, Bailin. kita jalan saja di ujung sana, kita akan melihat pemukiman," ucap Astara.
"Iya, bukannya aku mengeluh. Aku hanya kesal saja dengan para dewa yang begitu lemah. Mereka hanya taat pada aturan, tapi mereka tidak pernah menimbang dengan hati," ucap Bailin.
Astara hanya menggeleng tersenyum simpul melihat Bailin.
"Astara apa kau tidak merasakan, kita sudah jalan seharian, tapi kenapa kita belum sampai juga," ucap Bailin.
Astara merasakan apa yang dirasakan Bailin. Gurun ini aneh, Astara dan Bailin seperti berjalan di tempat yang sama.
"Astara lihatlah, itu 'kan kaktus yang kita lihat tadi." Bailin menunjuk pohon kaktus besar.
"Ini tehnik ilusi. Bailin gunakan energi ki untuk menghancurkannya," ucap Astara.
Bailin dan Astara memejamkan mata sambil bilang Kai. Tehnik ilusi itu pun bisa di hancurkan.
"Kurang ajar, ini pasti ulah siluman," cibir Bailin.
__ADS_1
"Hahaha ... " Suara wanita memekakan telinga. sebuah gundukan pasir berjalan cepat menjauh dari Astara dan Bailin.
"Mau lari kemana kau siluman. Kau belum tau dengan siapa berhadapan." Bailin mengejar gundukan pasir itu.