Dewa Tiga Dunia

Dewa Tiga Dunia
Wajah Yang Dirindukan.


__ADS_3

Bailin terkesiap mendengar ucapan Astara. "Jika memang dia siluman, pasti memiliki tehnik yang hebat."


"Dimana dia biasanya muncul, Saudara Luo?" tanya Astara.


"Di puncak gunung, saya hanya bisa memberikan kalian informasi, tapi saya tidak berani menemani kalian. Desa ini sudah terkutuk sejak lama," Ucap Luo Yang.


"Tapi, kenapa kalian masih tinggal di sini?" tanya Bailin.


"Kami adalah kelompok yang terisolir, seluruh kota telah mengenal kami, mereka tidak akan menerima penduduk dari desa kami. Itu kenapa kami memilih menjadi seorang perompak," ucap Luo Yang.


Bailin berdecak. "Sungguh malang nasib kalian ya."


"Saudara Luo, ini ada ganoderma merah siapa tau bisa membantu untuk menyambung hidup," ucap Astara.


"Ganoderma merah yang langka, terima kasih pendekar. Jasa baik ini tidak akan kami lupakan." Luo Yang dan Anak buahnya berlutut karena terlalu senang. Astara segera membangunkan mereka.

__ADS_1


"Tidak usah sungkan saudara Luo."


"Kalian tidak punya makanan ya," ucap Bailin saat melihat isi dapur para perompak.


"Kami hanya memilik roti kering, itu pun hanya cukup untuk makan dua hari," jawab Luo Song.


"Setiap pagi dan malam kami hanya bisa memotong sepotong roti," balas Luo Yang.


"Bailin, sudahlah, jangan banyak menuntut di tempat ini. Lebih baik kita istirahat," ucap Astara.


"Kau tenang saja, Jiarong. Aku tidak akan mati hanya karena sisik ular ini. Justru hidupku di sini makmur," ucap Xiao Yu riang.


"Bukan itu maksudku, Xiao Yu. Aku takut ada orang jahat yang mengincarmu jika kau punya banyak kristal hijau itu," ucap Xiao Yu.


Xiao Yu terkekeh. "Aku punya ilmu sihir, tehnik kultivasiku juga lumayan. Jika ada orang yang hendak macam-macam, aku pasti bisa mengalahkannya dengan mudah."

__ADS_1


"Terserah kau saja Xiao Yu, aku hanya ingin mengingatkanmu." Jiarong keluar kamar karena kesal dengan Xiao Yu.


Malam ini begitu indah, bulan tampak terlihat sempurna dipandang. Bayangan Astara tiba-tiba muncul di wajah bulan itu. Jiarong mengambil seruling, lalu melantunkan lagu yang biasanya dia mainkan. Lantunan seruling ini pertama kali dia memiliki perasaan terhadap Astara


Namun, jarak yang jauh dan udara yang dingin tidak mampu membuat Astara mendengarkan seruling yang Jiarong mainkan. Jiarong hanya menatap bulan yang tampak indah malam ini.


Astara yang berada di kota Bangau tiba-tiba bangun dari tidurnya. Dia seolah mendengar suara seruling Jiarong. Bailin yang setengah sadar bertanya kepada Astara.


"Heh Astara, kenapa kau tiba-tiba bangun, mengagetkanku saja."


"Aku seperti mendengar suara seruling Jiarong," jawab Astara.


"Kau itu hanya mimpi, sudahlah ayo tidur lagi," ucap Bailin yang tidur di seutas tali.


Astara tidak melanjutkan tidurnya, dia keluar sambil melihat bulan yang tampak indah. Wajah Jiarong tiba-tiba ada di bulan yang dia pandang. Astara menghela napas dalam-dalam, lalu berteriak memanggil nama Jiarong dengan sekuat tenaga. Bailin dan para perompak lainya pun terbangun karena teriakan Astara yang menggetarkan tempat tidur mereka.

__ADS_1


__ADS_2