
Amasya yang mulai bucin pada Juan. Nampak tak bisa untuk tidak mengubungi Juan kala dia sudah sampai ditempatnya bekerja. Tanpa ragu Amasya melakukan panggilan video call dengan Juan.
Panggilan pertama, Juan tidak mengangkat panggilan video call tersebut. Tetapi di panggilan kedua, akhirnya Juan mengangkat panggilan video call tersebut. Sehingga raut wajah bahagia nampak terpancar dari wajah Amasya.
"Pagi Gucan." Sapa Juan yang mulai masuk ke ruangan kerjanya.
Amasya tersenyum. Kemudian menatap wajah Julien's. Tetapi ketika dia melihat lebih dekat wajah Julien's. Amasya menyadari luka lebam yang nampak jelas terlihat dari kamera.
"Juan.... Wajah kamu kenapa?" Amasya khawatir.
Juan mengelus luka lebamnya.
"Biasa, kalau anak cowok harus ada sedikit luka lebam. Biar kelihatan jantan." Ucap Juan santai.
__ADS_1
"Enggak Juan. Jangan dianggap sepele. Luka Lebam juga kalau dibiarkan bisa jadi berbahaya Juan." Ucap Amasya semakin panik.
Juan tertawa melihat kepanikan dari Amasya. Sementara Amasya justru kesal dengan sikap santai dari Juan akan luka yang dialaminya.
"Saya gak bisa obati luka ini. Jika Bu guru berkenan, mungkin bisa obati luka saya." Ucap Juan dengan sedikit lebaynya.
Amasya menampilkan raut wajah kesal untuk membalas ucapan dari Juan. Ucapan Amasya seolah dianggap main-main oleh Juan. Padahal Amasya benar-benar khawatir akan luka lebam tersebut. Mengingat dampak dari luka itu bukan tidak mungkin cukup parah.
Melihat Amasya yang nampak mulai kesal padanya. Juan langsung mengeluarkan jurus untuk membuat Amasya kembali tersenyum. Juan merayu Amasya dengan gombalan mautnya. Hingga senyuman dapat kembali nampak di wajah cantik Amasya.
Juan yang sengaja menggoda Amasya tetap menolak untuk mengkompres lukanya tersebut. Dia akan mengkompres luka lebam itu, jika Amasya yang mengkompresnya. Tugas berat lagi bagi Amasya. Mengingat dia harus meninggalkan pekerjaannya untuk mengkompres Juan. Tetapi jika Amasya tidak melakukan itu, Juan belum tentu akan mengkompresnya. Akhirnya pilihan ketiga menjadi jalan yang dipilih oleh Amasya.
Amasya menghadap ke ruangan kepala sekolah. Dia meminta izin untuk mengambil beberapa berkas penting yang harus segera dia selesaikan. Sehingga Amasya harus segera mengambil berkas penting tersebut.
__ADS_1
Wajah Amasya yang meyakinkan. Mampu mengelabuhi kepala sekolah. Tanpa curiga sedikitpun, Amasya diperbolehkan untuk mengambilnya. Sehingga Amasya diizinkan untuk keluar dari sekolah.
Memacu super cepat mobilnya. Amasya yang diselimuti perasaan khawatir ingin segera mengkompres luka lebam yang terdapat di wajah Juan.
Tiba di kantor Juan. Amasya langsung mencari ruang kerja Juan. Selepas mendapatkan petunjuk dari beberapa pihak. Amasya akhirnya tiba di ruang kerja Juan yang berada dilantai 2.
Tok... Tok... Tok... Amasya mengetuk pintu ruang kerja Juan. Juan yang membereskan meja tempatnya bekerja. Langsung bergegas kearah pintu. Juan yang mengetahui orang yang mengetuk pintu adalah Amasya. Mencoba berbuat usil pada Amasya.
Juan perlahan membuka pintu ruangannya. Tetapi dia tak menampakkan wajahnya. Juan bersembunyi disamping pintu. Begitu Amasya masuk kedalam ruangannya. Seketika Juan langsung mengejutkan Amasya.
Rasanya seperti akan lepas jantung Amasya. Bagaimana tidak, Juan mengagetkan Amasya dengan suara yang cukup kencang. Hingga Amasya yang kaget pun langsung mengucapkan sumpah serapah saat Juan mengagetkannya.
Juan tertawa dengan begitu kerasnya. Sementara Amasya membalas perbuatan Juan dengan mencoba memukuli tubuh Juan. Hingga tanpa sengaja, Amasya memukul bagian luka lebam yang ada di wajah Juan. Juan mengerang kesakitan, yang membuat Amasya sedikit panik.
__ADS_1
Melihat Amasya yang nampak bersalah. Juan memanfaatkan momen itu untuk semakin membuat Amasya panik. Juan berpura-pura seolah dia amat kesakitan. Amasya yang semakin panik, tak tahu harus melakukan apa lagi. Dia hanya menggaruk kepalanya dengan wajah bingung.