
Jatah makanan yang dipesan oleh Devi, untuk Devi dan Ratna. Menjadi berkah tersendiri untuk Alvin. Devi yang tak berada di rumah, terpaksa diganti oleh Alvin yang sudah begitu kelaparan. Sebenarnya Ratna tidak ikhlas memberikan makanan itu untuk Alvin. Tapi Devi yang makan siang diluar bersama Willy. Terpaksa diberikan pada Alvin jatah Willy tersebut.
Tak ada percakapan yang terjadi antara Ratna dan suaminya. Keduanya sibuk menyantap makan siang masing-masing, yakni nasi cemani yang penuh rempah. Alvin terlihat begitu lahap menyantap makanan khas India tersebut. Begitu juga Ratna yang melahap dengan begitu lahapnya makanan tersebut.
Baru setelah makanan itu habis. Terjadi sedikit perbincangan antara Ratna dengan Alvin. Ketika itu Alvin tanpa sengaja menyenggol gelas minum milik Ratna. Ratna yang emosi, seketika memaki suaminya tersebut. Dengan beragam perkataan kasar, Ratna memaki Alvin di meja makan.
Tak terima dengan makian yang diberikan oleh Ratna kepadanya. Alvin langsung membalas ucapan dari Ratna itu dengan kata-kata kasar juga. Darmi yang merupakan asisten rumah tangga yang baru bekerja di rumah Alvin. Mencoba melerai pertikaian suami istri tersebut. Tapi dirinya justru terkena semprot dari seorang Ratna. Tak kalah dari Alvin, Darmi juga harus merasakan bagaimana mulut pedas Ratna menghujaninya.
Pertikaian reda, begitu Ratna pergi dari meja makan itu. Tapi amarah Ratna masih cukup membara. Udara panas diluar juga semakin membuat semangat Ratna untuk marah, semakin besar. Hingga Ratna tak terus memaki suaminya tersebut didalam kamarnya. Sekalipun Alvin tidak ada di kamar bersamanya.
Ratna duduk diatas kasur, menaruh kedua tangannya diatas perut. Ratna mulai berpikir cara yang tepat untuk membuat Alvin celaka. Mungkin rencana dirinya bersama Devi dua hari itu, bisa dilakukan sekarang juga. Mengingat rasa kesal dari Ratna yang telah berada di ubun-ubun.
Ratna segera mencari jirigen berisi minyak goreng. Begitu menemukan jirigen itu, Ratna langsung membawa jirigen berisi minyak itu ke kamar. Dia mulai berpikir cara apa yang hendak dilakukan oleh dirinya. Mungkin sebuah cara sederhana atau cara kompleks yang sedikit rumit. Tapi hari ini, cukup cara sederhana saja yang bisa dia gunakan untuk membuat Alvin celaka. Cara yang mudah tentu.
Ratna melihat Alvin yang sedang berada di balkon rumah. Dia terlihat sedang membaca sebuah surau kabar. Alvin memang senang membaca, tak heran jika dia sering membaca surat kabar diatas balkon rumahnya.
Ratna langsung menyiramkan jirigen berisi air itu ke anak tangga yang tentu nantinya akan dilewati oleh Alvin. Dengan anak tangga yang licin, mungkin saja Alvin akan terjatuh. Setelah terjatuh, tentu sesuatu yang buruk akan terjadi kepadanya. Sesuatu yang Ratna harapkan pastinya.
Begitu anak tangga itu telah dilumuri dengan minyak. Dengan sengaja Ratna melakukan telepon ke nomor telepon rumah. Bunyi telepon rumah yang terdengar nyaring, sampai juga ke telinga seorang Alvin.
__ADS_1
Dipanggilan pertama, Alvin tidak mengindahkan dering telepon tersebut. Dia membiarkan telepon itu terus berbunyi dengan kerasnya.
Baru setelah tak ada yang mengangkat panggilan telepon tersebut. Alvin mulai tidak nyaman dengan suara dering telepon rumah tersebut. Alvin menaruh terlebih dahulu surat kabar yang sedari tadi dia baca. Lalu segera beranjak untuk mengangkat panggilan telepon tersebut.
Alvin bertemu dengan Darmi yang hendak mengangkat panggilan telepon tersebut juga. Darmi yang beru selesai membereskan kamar Devi. Berinisiatif untuk mengangkat panggilan telepon itu.
"Bapak mau mengangkat telepon tersebut?" Tanya Darmi.
"Iya, kamu sendiri bagaimana?" Tanya balik Alvin.
"Biarkan saya yang mengangkat telepon tersebut." Tawar Darmi pada Alvin.
Sekalipun tidak penting menurut Alvin, Darmi yang tetap penasaran dengan panggilan telepon tersebut. Tetap berinisiatif untuk mengangkat panggilan telepon itu. Terlebih panggilan telepon itu cukup membisingkan telinga. Hingga harus segera Darmi angkat.
Darmi yang tak mengetahui lantai itu licin. Dianak tangga yang kedua, harus terpeleset jatuh. Darmi pun langsung jatuh dari anak tangga tersebut. Suara teriakan dari Darmi seketika membuat Alvin terkejut. Dia yang dalam perjalanan menuju balkon rumah. Langsung menghentikan langkahnya. Dia berbalik badan, lalu melihat kearah Darmi yang terjatuh dari anak tangga.
Alvin ingin turun dari anak tangga itu. Tapi dia melihat lendir yang nampak terlihat jelas seperti minyak. Hingga akhirnya Alvin pun mengurungkan niatnya untuk menuruni anak tangga tersebut.
Alvin memanggil Ratna yang berpura-pura sedang asyik di halaman rumahnya. Ratna yang mengira Alvin berteriak meminta tolong untuk dirinya, begitu bahagia dengan teriakan dari Alvin tersebut. Dia berjalan kedalam rumah dengan wajah panik. Seolah-olah dia terkejut Alvin jatuh dari tangga.
__ADS_1
Ratna langsung terkejut begitu melihat tubuh besar Darmi yang tergeletak disamping anak tangga. Ratna tak mengira Darmi ada di kamar Devi. Sehingga Ratna hanya mengira Alvin saja yang ada dilantai atas.
Ratna langsung membopong tubuh besar Darmi. Walaupun dia begitu kesulitan, tapi Ratna tetap berusaha mengangkat tubuh besar Darmi itu. Sementara Alvin berusaha menuruni anak tangga dengan penuh kehati-hatian.
Sampai di anak tangga terakhir, Alvin langsung meminta Ratna memanggil Rio. Dia sopir baru di rumah Alvin, Rio satu-satunya orang yang bisa membopong tubuh besar Darmi.
Ratna yang sedikit panik, langsung menemui Rio di tempatnya. Rio yang tengah asyik bermain game. Langsung ditarik Ratna untuk membopong tubuh Darmi. Mungkin Darmi butuh perawatan di rumah sakit. Mengingat terjadi sedikit pendarahan di bagian kepalanya. Pertolongan pertama di rumah sakit tentu dibutuhkan untuk membuat Darmi bisa tersadar lagi.
Rio dengan sekuat tenaga mengangkat tubuh besar Darmi. Dia membawa perempuan dengan berat badan mencapai 70 kilogram itu keatas mobilnya. Diikuti Alvin dan Ratna dibelakang Rio.
Tubuh Darmi diletakkan Rio di kursi belakang. Sementara Alvin duduk disamping Rio. Sedangkan Ratna berada disamping Darmi. Ratna sebenarnya enggan ikut membawa Darmi ke rumah sakit. Tapi demi terlihat berduka cita atas apa yang terjadi pada Darmi. Akhirnya Ratna turut dalam perjalanan menuju rumah sakit.
"Kenapa mbok Darmi bisa terjatuh seperti itu pak?" Tanya Rio sambil terus memacu kencang mobilnya.
"Gak usah banyak tanya kamu. Bawa saja mobil ini dengan baik." Titah Ratna dengan begitu kasarnya.
Mendapat jawaban yang ketus dari Ratna. Rio langsung terdiam. Dia tak mampu berkata apapun lagi. Mungkin diam lebih baik di situasi seperti ini.
Alvin sendiri mencium sebuah kejanggalan yang terjadi. Bagaimana bisa ada minyak di anak tangga seperti itu. Siapa yang menaruh minyak disana. Jika berceceran, mana mungkin ada sebanyak itu. Pertanyaan janggal yang terus membayangi pikirannya saat itu.
__ADS_1