
Waktu untuk keliling Jakarta akhirnya tiba. Di temani oleh Rini. Rendi siap memutari kota Jakarta dengan keindahan yang di berikannya. Mungkin Rini dan Rendi akan merasakan suasana sore hingga malam dari Jakarta yang di penuhi oleh gedung-gedung pencakar langit yang tinggi.
Rendi menjemput Rini tepat di depan gerbang kampus Rini. Dengan pakaian santai yang di kenakan oleh Rendi. Rendi terlihat begitu rapi, walaupun mendapatkan ledekan dari Rini. Menurut Rini, pakaian dari Rendi terlalu kasual untuk perjalanan mengelilingi Jakarta yang santai. Tidak harus dengan kemeja yang rapi, cukup dengan kaos yang di padukan dengan sweater saja. Itu sudah cukup untuk membuat penampilan dari Rendi terlihat on points seperti yang Rini harapkan.
"Aku pikir penampilan kamu terlalu kasual Ren." Ucap Rini sedikit tertawa.
"Maksud kamu bagaimana?" Tanya Rendi balik.
"Seharusnya kamu tidak harus mengenakan kemeja seperti ini. Kamu mau pergi ke kantor?" Tanya Rini makin nyaring tertawa.
__ADS_1
Rendi melihat kembali penampilan dari dirinya. Menurutnya sebuah kemeja dengan jeans bukan pilihan yang buruk. Mereka akan mengelilingi Jakarta. Sehingga Rendi harus berpenampilan serapi mungkin.
Tidak peduli dengan kritikan dari seorang Rini. Rendi tetap yakin penampilan dari dirinya sudah cukup baik di hari ini. Rendi pun tak sabar untuk berkeliling Jakarta bersama Rini. Rendi meminta Rini untuk segera masuk ke dalam mobil. Sebab Rendi akan segera membawa mobilnya tersebut.
Tujuan pertama dari Rendi dan Rini adalah bundaran hotel Indonesia. Semua orang Jakarta tentu pernah ke tempat ini. Mungkin ini bukan tempat yang asing. Tapi bagi Rendi yang pertama kali datang ke Jakarta. Melihat bundaran hotel Indonesia adalah kali pertama. Hingga begitu sampai di sana, Rendi langsung mengagumi tempat tersebut.
Selain kagum dengan tempat itu, Rendi juga sempat bingung untuk melakukan perputaran di bundaran itu. Hingga mobil Rendi harus di kawal polisi lalu lintas. Untungnya semua dokumen dari Rendi dan mobil yang di bawa oleh Rendi lengkap. Hingga Rendi tidak di tilang polisi lalu lintas.
"Kamu tahu bedanya Monas sama menara kembar Petronas di Malaysia?" Tanya Rendi pada Rini.
__ADS_1
"Apa?" Tanya balik Rini tak tahu jawabannya.
"Menara Petronas ada duanya, tapi Monas tidak ada duanya. Dia bangunan tunggal, alias satu." Jawab Rendi.
Rini sedikit terhibur dengan tebak-tebakan dari seorang Rendi. Level lucu dari tebakan itu memang tidak terlalu tinggi. Setidaknya bisa menghibur Rini yang sudah mulai lapar.
Waktu maghrib yang akan tiba. Tidak afdol jika tidak di habiskan dengan shalat berjamaah di Istiqlal. Tentu saja, Rendi akan kagum dengan masjid terbesar di Asia tenggara itu. Cita-cita semasa kecil Rendi akhirnya tercapai, dia pun bisa shalat berjamaah di masjid Istiqlal bersama dengan Rini.
Rendi begitu mengangumi kemegahan dari bangunan masjid Istiqlal. Tiang-tiang penyangga yang begitu besar, seakan membuat Rendi terperangah. Di tambah arsitektur masjid yang memiliki banyak simbol keislaman, semakin membuat Rendi terpesona. Semuanya begitu membuat Rendi betah untuk berlama-lama di masjid.
__ADS_1
Mungkin setelah shalat di masjid, makan malam di tempat pecel ayam bisa jadi opsi selanjutnya. Ajakan dari Rini sempat Rendi tolak. Uang Rendi yang pas-pasan semalam, sudah Rendi belikan rujak cingur untuk Amasya. Sehingga Rendi sudah tidak memiliki uang lagi.
Untung Rini masih menyisakan sedikit uang jajan yang di berikan Juan kepadanya. Dengan uang itu, Rini bisa mentraktir Rendi makan di tempat pecel ayam. Tak jauh dari lokasi masjid Istiqlal. Rendi dan Rini menepikan mobil mereka di lokasi pecel ayam berada.