
"Pi kopi satu yah." Pinta Pian pada Sopia.
"Buat saja sendiri. Kamu juga babu di sini. Jadi jangan seenaknya saja." Balas Sopia melempar wadah kopi ke hadapan Pian.
"Tapi Pi, biasanya Darmi yang buatkan kopi untuk saya dan Ryan. Itu sudah jadi tugas kamu sebagai asisten rumah tangga di sini." Ucap Pian dengan tegas.
"Itu pembantu dulu. Beda dengan aku. Aku tidak mau membuatkan kopi untuk kamu. Buat saja sendiri, kamu masih punya tangan. Jadi ngapain harus aku yang buatin." Balas Sopia yang semakin asyik bermain aplikasi joget.
Tak ingin berdebat kembali dengan Sopia yang terkenal batu. Akhirnya Pian membuat kopi sendiri. Mungkin ini kali pertama Pian membuat kopi sendiri di rumah Ratna. Kecuali ketika Darmi sakit, tapi selama masih ada Darmi. Untuk urusan kopi, sudah menjadi tugas seorang Darmi. Sehingga Pian tinggal menyeruput kopi buatan Darmi.
Beda dengan Sopia yang berlagak seperti majikan. Dia seolah tak mau untuk di mintai tolong oleh Pian. Hanya untuk membuat kopi saja, Sopia enggan. Apalagi untuk membuat yang lainnya. Mungkin Sopia tidak mau di mintai tolong oleh sesama karyawan di rumah Ratna. Padahal Sopia sedang berada dalam waktu senggang. Hingga tak akan membuat dirinya kerepotan hanya untuk membuat segelas kopi untuk Pian.
Begitu segelas kopi itu sudah siap. Pian dengan sengaja mematikan layar handphone dari Sopia. Sehingga Sopia langsung kesal dengan aksi yang di lakukan oleh Pian. Sumpah serapah dari Sopia langsung menghujam telinga dari Pian. Tapi Pian tak memperdulikan sumpah serapah itu, dia tetap berlari menghindari Sopia. Pian kembali ke pos jaga darinya.
__ADS_1
Di pos jaga, Ryan yang hari ini tak memiliki banyak tugas dari Ratna dan Devi. Mulai bosan dan tidak nyaman dengan sikap Ratna yang seenaknya saja pada dirinya. Ratna kerap memarahi Ryan di tempat umum. Hingga tak jarang Ratna memaki Ryan dengan kata-kata kasar. Ryan awalnya biasa saja, tapi semakin hari ini apa yang Ratna katakan pada dirinya begitu terasa menyakitkan.
Tak hanya Ryan saja yang merasa betapa jahanamnya mulut seorang Ratna. Pian juga mulai merasakan bagaimana mulut Ratna yang jahanam itu mencabik hatinya. Pian tak hanya di caci maki. Tapi Pian juga sering di hina oleh Ratna dan Devi. Tapi Pian bertahan, sebab Pian tidak tahu harus bekerja apa lagi. Dia ingin keluar dari rumah ini. Tapi dia memikirkan keluarga dia di kampung yang masih membutuhkan uang dari Pian. Sehingga Pian harus bertahan dengan semua caci maki dan hinaan dari seorang Ratna dan Devi kepadanya.
Tak hanya Ratna dan Devi saja yang terus menunjukkan tabiat buruk pada para pegawainya. Sopia sebagai pembantu baru di rumah Ratna juga terus menunjukkan sifat buruk. Sopia kerap menolak jika di mintai tolong oleh Ryan. Hingga terkadang Ryan harus adu argumen dengan Sopia, hanya untuk minta tolong sesuatu.
Apa yang Ryan utarakan tentang Sopia tentu adalah hal yang benar. Pasalnya baru saja, Pian meminta tolong untuk membuat segelas kopi. Sopia menolak permintaan dari Pian tersebut. Padahal Sopia tidak sedang melakukan aktivitas apapun. Dia hanya sedang bermain handphonenya dengan melihat video di salah satu aplikasi asal China. Pian membandingkan Sopia dengan Darmi yang seperti langit dan bumi.
Obrolan akan Sopia itu ternyata di dengar oleh Sopia. Sopia yang baru saja membuang sampah, mendengar semua percakapan dari Ryan dan Pian akan dirinya. Untungnya ketika Pian dan Ryan bercerita tentang Ratna dan Devi, Sopia belum ada. Sehingga karier keduanya masih cukup aman di rumah Ratna.
"Jadi kalian diam-diam ngomongin aku yah. Pantas saja kuping kiri aku panas banget. Ternyata setiap hari kalian jelek-jelekin aku. Mana bandingkan aku sama pembantu tua itu lagi." Amuk Sopia.
Melihat Sopia yang marah besar, baik Pian dan Ryan sama-sama ketakutan. Keduanya tak berani mengelak ucapan dari seorang Sopia. Terlebih Sopia berbicara dengan begitu keras dan kasar, hingga Ryan dan Pian tak memiliki kesempatan untuk berbicara.
__ADS_1
Begitu Sopia berhenti berbicara. Baru Ryan mulai memberanikan diri untuk melakukan perlawanan terhadap ucapan dari Sopia.
"Lah memang benar ada. Dulu waktu Darmi di sini. Dia tidak pernah nolak untuk membuatkan kami segelas kopi. Tapi kenapa kamu menolak untuk melakukan itu. Padahal kamu di sini asisten rumah tangga juga. Sama seperti Darmi." Ucap Ryan dengan tegas.
"Jangan samakan aku dengan dia. Aku tahu level kita sama. Jadi aku tidak mau di perbudak oleh kalian berdua. Sekali pun kalian lebih dulu di sini. Tapi aku tetap anggap kita sama. Kecuali kalian adalah majikan di sini. Baru aku akan menuruti semua permintaan dari kalian. Paham!" Tegas Sopia dengan mata melototnya.
Sopian pergi dengan perasaan yang begitu marah. Dia tak terima di bandingkan dengan Darmi. Tentu Sopia memiliki kelebihan yang jauh dibandingkan dengan Darmi mengingat Sopia masih cukup muda di banding Darmi yang lebih tua. Sehingga Sopia enggan di setarakan dengan Darmi.
Melihat sikap Sopia yang semena-mena. Ryan dan Pian semakin merindukan sosok Darmi. Sopia benar-benar jauh di banding Darmi. Tak ada sopan santun dari seorang Sopia. Terlebih Sopia berlagak layaknya bos yang enggan di perintah.
"Kenapa yah Bu Ratna dapat pembantu yang sikapnya sebelas dua belas dengan dirinya." Pian mengeluh.
"Iya, aku juga bingung. Kenapa kebetulannya itu betul-betul buat kita kesal. Ada aja pembantu macam Sopia. Ayu sih, tapi galak macam mak lampir." Lanjut Ryan.
__ADS_1
"Masih mending yan mak lampir bisa ketawa. Orang itu, lihat video lucu aja manyun terus. Kayak orang gak dapat bantuan dari pemerintah saja." Balas Pian.
Ryan langsung tertawa mendengar ucapan dari Pian tersebut. Memang betul, ekspresi dari Sopia seperti orang yang tak dapat bantuan pemerintah. Merengut jutek, tak dapat bantuan.