
Amasya terkejut, saat melihat Juan membawa tubuh Darmi yang terlihat begitu lemah. Dengan sekuat tenaga Juan membawa tubuh Darmi itu keatas sofa. Hingga akhirnya Juan tiba di ruang tamu, lalu langsung menaruh tubuh dari Darmi itu di atas sofa.
"Ada apa dengan bi Darmi sayang?" Tanya Amasya begitu panik.
"Tidak tahu sayang. Tadi aku lihat dia tergeletak di pinggir jalan sudah tak sadarkan diri." Jawab Juan.
Mendengar kepanikan dari Amasya, akhirnya suara dari Amasya itu membangun Darmi. Perlahan mata Darmi terbuka lebar. Melihat ke arah orang-orang yang berada di sekitarnya. Melihat senyum bahagia Amasya, melihat wajah bingung seorang Rendi. Hingga wajah ngos-ngosan dari Juan usai membawa tubuhnya ke atas sofa.
"Saya ada di mana mbak Amasya?" Tanya Darmi bingung.
"Bi Darmi ada di rumah saya." Jawab Amasya.
"Bukannya saya sudah di pecat sama Bu Ratna. Kenapa saya masih di rumah mbak Amasya?" Tanya Darmi kembali.
"Apa, bi Darmi di pecat mama?" Amasya terkejut.
"Iya mbak, tadi saya sudah di pecat Bu Ratna. Dia mengatakan bahwa dirinya sudah tidak membutuhkan saya lagi. Sehingga saya sudah di pecat oleh Bu Ratna." Ucap Darmi mengiba.
"Bi Darmi tidak ada di rumah ibu. Ini rumah saya, rumah yang berbeda dengan rumah orangtua Amasya. Jadi ini rumah berbeda. Bibi tidak usah takut." Pinta Juan dengan begitu lembutnya.
"Terima kasih mas Juan." Ucap Darmi.
Terdengar bunyi keroncongan dari perut Darmi. Kemudian langsung di sambut dengan tawaran makan malam yang di berikan oleh Amasya pada Darmi.
__ADS_1
"Bi Darmi lapar?" Tanya Amasya dengan spontan.
"I-I-Iya mbak." Darmi dengan malu-malu.
Amasya langsung bergegas ke dapur untuk mengambil sepiring nasi untuk Darmi makan. Mungkin sepiring nasi bisa membuat tubuh Darmi lebih baik lagi. Tak hanya lapar saja, Darmi juga terlihat haus. Hingga Rendi langsung menawarkan botol minum yang dia pegang pada Darmi. Begitu siuman, Darmi terlihat tertarik pada minuman botol yang di pegang oleh Rendi. Hingga Rendi langsung memberikan botol minumnya itu pada Darmi.
Dengan segera Darmi meminum air yang ada di botol itu. Hausnya Darmi, seketika menghabiskan minuman yang di berikan Rendi kepadanya. Hingga haus dari Darmi yang teramat, langsung hilang dengan sebotol air yang di berikan Rendi pada Darmi.
Amasya dengan sepiring nasi yang hendak di berikan pada Darmi datang. Amasya dengan segera memberikan sepiring nasi itu pada Darmi. Darmi tanpa ragu menerima sepiring nasi yang di bawa oleh Amasya untuk dirinya. Dengan lahap, Darmi menyantap makanan yang di berikan Amasya kepada dirinya.
Juan meminta Amasya untuk menemani Darmi makan. Sementara dirinya ingin mengganti pakaiannya terlebih dahulu. Mengingat Juan baru pulang dari kantor, hingga Juan harus mengganti terlebih dahulu pakaian kerjanya tersebut.
Sambil menemani Darmi makan di ruang tamu rumahnya. Amasya mulai menanyakan kenapa Darmi bisa tergeletak di pinggir jalan. Apa yang terjadi pada Darmi, sehingga tubuhnya berada di pinggir jalan seperti itu.
"Jadi tadi saya baru pulang dari rumah sakit. Saya kembali ke rumah Bu Ratna. Tapi Bu Ratna justru mengusir saya. Dia sudah memiliki pembantu baru yang menurutnya lebih cakap dari saya. Hingga dia mengusir saya dari rumahnya. Uang saya, sudah habis buat ongkos dari rumah sakit ke rumah Bu Ratna. Sehingga selama berada di jalan tadi, saya kelaparan berat. Saya ingin beli makanan, tapi uang saya tidak ada." Jawab Darmi menahan tangis.
"Tapi mama tidak bisa memecat bi Darmi begitu saja. Seharusnya mama konfirmasi terlebih dahulu akan pemecatan itu. Paling tidak mama memberi sedikit pesangon untuk bi Darmi." Terang Amasya dengan mendetail.
"Saya pikir Bu Ratna tidak akan melakukan itu. Rasanya itu sulit untuk di lakukan Bu Ratna. Mengingat Bu Ratna sendiri begitu keras kepala dan sedikit pelit. Mana mungkin dia mau memberikan saya pesangon." Balas bi Darmi dengan penuh kesedihan.
"Benar sayang, ibu tiri kamu itu mana mau memberikan hak bi Darmi. Hak kamu saja dia tidak beri. Apalagi hak bi Darmi. Aku pikir itu mustahil." Timpal Juan tiba-tiba datang ke ruang tamu.
Darmi hanya menunjukkan wajah melasnya, sambil terus menyantap nasi yang di berikan Amasya kepada dirinya.
__ADS_1
"Apakah bi Darmi tidak di jemput dari rumah sakit sama ibu tiri dari Amasya?" Tanya Juan.
"Tidak mas Juan. Saya keluar dari rumah sakit saja dari biaya mbak Amasya dan mas Juan. Apalagi di jemput Bu Ratna. Dia tidak peduli pada pembantu seperti saya." Ungkap Darmi.
"Aku pikir ibu tiri kamu itu sudah tidak punya hati. Dia tidak peduli sama suaminya, anak tirinya. Apalagi pembantunya sendiri. Dia mama mau peduli. Hatinya sudah keras seperti batu kali." Ungkap Juan dengan begitu kesalnya.
Amasya hanya bisa mengelus dada Juan. Mencoba sedikit menenangkan emosi dari Juan pada ibu tirinya. Amasya menyadari akan Juan yang emosional pada ibu tirinya.
Parni mendorong kembali kursi roda dari seorang Alvin masuk ke dalam rumah. Rasanya sudah cukup satu jam bagi Alvin untuk merasakan suasana sore di taman. Saatnya bagi Alvin untuk kembali ke dalam rumah.
Parni yang mendorong Alvin melintas ke ruang tamu. Melewati Darmi yang sedang makan bersama Juan dan Amasya. Darmi begitu terkejut melihat kondisi Alvin yang terlihat sedang sakit berat.
"Itu pak Alvin mbak Amasya?" Tanya Darmi menunjuk ke arah Alvin yang di dorong Parni.
"Iya bi. Ayah terkena stroke. Setelah ada sedikit pendarahan di kepalanya." Jawab Amasya sedikit sedih.
"Kenapa bisa seperti itu?" Tanya Darmi kembali dengan penasaran.
"Hanya mama dan Devi yang tahu bi. Kedua orang itu yang memerintah Ryan untuk membawa ayah ke rumah sakit. Kamu hanya tahu ayah sudah terbaring di rumah sakit. Sebelum akhirnya ayah di diagnosa stroke berat oleh dokter." Balas Juan tetap dengan kekesalannya.
"Iya bi, kita tidak tahu apa-apa. Kita hanya tahu ayah sudah terbaring di rumah sakit dengan keadaan seperti itu. Entah apa yang terjadi pada ayah. Tapi ayah sudah terbaring begitu saja. Ketika kita bertanya pada Devi dan mama, keduanya hanya mengatakan ayah terjatuh. Kemudian kepalanya terbentur ke lantai." Lanjut Amasya secara mendetail.
"Tidak heran dengan Bu Ratna dan mbak Devi. Waktu saya terjatuh dari tangga pun, saya rasa begitu janggal. Tidak ada yang membawa minyak ke atas melewati tangga. Tapi tiba-tiba tangga itu menjadi licin. Hingga akhirnya saya terjatuh dari tangga." Ucap Darmi.
__ADS_1
"Sulit untuk menebak dua orang itu. Keduanya misterius bak seperti hantu." Balas Juan.