Di Paksa Childfree

Di Paksa Childfree
Devi Meminta Bantuan Aris Membersihkan Apartemen Miliknya


__ADS_3

Tiba apartemen miliknya. Devi menyempatkan diri untuk istirahat sejenak. Namun Devi begitu tidak nyaman dengan kondisi apartemen miliknya yang terlihat begitu kumuh dan kotor. Hingga Devi terdorong untuk membersihkan terlebih dahulu apartemen miliknya tersebut. Apalagi apartemen itu masih kosong, sehingga setiap kotoran terlihat dengan jelas di setiap sudut apartemen miliknya.


Luasnya apartemen itu, tentu tidak mungkin Devi bersihkan sendiri. Dia harus meminta bantuan dari seseorang untuk membersihkan apartemen miliknya tersebut. Tapi Devi bingung, dia harus meminta bantuan siapa untuk membersihkan apartemen miliknya tersebut.


Tanpa berpikir panjang, Devi mulai mengingat nama seorang Aris. Apalagi mungkin Aris bisa menolong Devi untuk membersihkan apartemen miliknya tersebut. Ini juga bisa dilakukan Devi dalam mendapatkan hati seorang Aris. Kesempatan baik yang tidak boleh Devi lewatkan begitu saja.


08XXXXXX Devi mulai menekan nomor Aris di handphonenya. Beberapa detik menunggu, akhirnya Aris mulai mengangkat panggilan telepon dari seorang Devi. Raut wajah lelah dari seorang Devi, seketika hilang begitu saja. Mendengar suara Aris yang begitu lembut menyapa dirinya.


"Hallo dokter Devi." sapa Aris.


"Kamu sekarang ada dimana?" tanya Devi.


"Saya ada di rumah, baru selesai main game." jawab Aris.


"Bisa kamu bantu saya sebentar?" tanya Devi kembali.


"Bantu apa?" tanya Aris.


"Jadi hari ini saya pindah dari rumah saya ke apartemen saya. Tapi apartemen saya masih cukup kotor. Kamu mau bantu saya membersihkan apartemen saya tersebut?" Tawaran dari Devi.


Aris yan tak memiliki kegiatan apapun lagi. Dengan suara lantang bersedia menolong Devi. Aris pikir ini akan jadi pahala untuknya, sebab menolong orang yang sedang pindahan rumah. Aris dengan semangat siap membantu Devi membersihkan setiap tempat di apartemen miliknya.


Dengan segera Devi mengirimkan alamat dari tempat apartment miliknya berada. Hanya mengikuti alamat yang di tunjukkan oleh handphone miliknya, Aris bersiap menemui Devi di apartemen miliknya.


Namun baru akan mengeluarkan motor Vespa kesayangannya. Aris langsung di kejutkan oleh kedatangan dari Widi. Dengan sebuah kantong plastik berwarna hitam. Widi menghampiri Aris yang bersiap untuk pergi.


"Kamu mau pergi kemana?" tanya Widi penasaran.


"Aku ingin bantu dokter Devi beres-beres apartemen miliknya." jawab Aris memanaskan motor miliknya.


"Apa itu bagian dari job desk kamu?" tanya Widi mulai kesal.


"Bukan, tapi aku tidak enak saja. Masa dia minta tolong aku tolak." jawab Aris dengan santainya.


"Aku tidak mengerti dengan atasan kamu itu. Bisa banget yah buat dekat-dekat sama kamu. Alasan beres-beres segala, padahal dia memang sengaja ingin dekat sama kamu." ucap Widi semakin kesal.


Aris tak memperdulikan kekesalan dari seorang Widi. Bahkan menanyakan maksud kedatangan dari Widi saja tidak. Aris hanya fokus pada motornya yang tengah dia panaskan.


Widi yang merasa di anggurkan oleh Aris. Langsung mematikan kunci motor Aris. Hingga motor Aris pun seketika mati.


"Kenapa kamu matikan motor aku?" tanya Aris sedikit kesal.

__ADS_1


"Aku datang kesini buat bertemu kamu. Tapi kamu justru malah fokus sama motor kamu. Dimana otak kamu Aris!" Amuk Widi.


Aris nampak santai menanggapi sikap Widi itu. Sebenarnya Aris masih cukup kesal dengan peristiwa perseteruan antara Widi dengan Devi. Bagi Aris, Widi terlalu berlebihan. Dia seolah menjadi seorang posesif, dengan kehadiran Devi dalam hidup Aris. Padahal Devi tidak seperti yang ada di pikiran seorang Widi. Sehingga Widi seharusnya bisa berpikir lebih jernih lagi.


Tak ingin terus-menerus ribut dengan Widi, Aris lebih memilih untuk meninggalkan Widi. Tentu Aris tidak nyaman membuat Devi menunggu cukup lama. Sehingga Aris harus segera menuju ke apartemen dari Devi.


Aris tak memperdulikan panggilan dari seorang Widi yang terus meneriaki Aris. Justru yang terpanggil oleh panggilan Widi tersebut adalah ibu dari Aris. Dia yang sedang sakit gigi, begitu terganggu dengan suara bising dari Widi yang terus memanggil Aris. Baginya suara cempreng dari Widi sangat begitu bising.


"Kamu kenapa sih?" tanya ibu Aris menggerutu.


"Tidak Bu, Aris malah pergi begitu saja." jawab Widi.


"Makanya jadi perempuan itu jangan posesif, orang Aris mau bantu bosnya. Masa kamu larang sih, aneh banget." ucap ibu Aris.


Widi pun terdiam mendengar ucapan dari ibu Aris tersebut. Sambil mengelus lembut pipinya yang terasa sakit. Ibu Aris melirik ke arah kantong plastik yang di bawa oleh Widi. Ibu Aris langsung tertarik pada kantong plastik tersebut. Terlebih tonjolan yang ada di kantong plastik itu, semakin menarik perhatian ibu Aris tersebut.


"Kamu bawa apa?" tanya ibu Aris.


"Aku bawa buah melon dan semangka." jawab Widi.


Melon dan semangka sendiri adalah buah-buahan kesukaan dari Aris. Sehabis makan, Aris selalu menyantap kedua buah tersebut sebagai pencuci mulut. Ini kesempatan yang bagus bagi ibu Aris dalam mendapatkan buah-buahan secara gratis. Tanpa harus mengeluarkan uang sepeser pun dari kantongnya.


Widi menganggukan kepalanya.


Dengan segera, ibu Aris mengambil kantong plastik berisi melon dan semangka tersebut. Tanpa mengucap terima kasih pada Widi, ibu Aris itu berjalan masuk ke dalam rumahnya. Sementara Widi di tinggalkan begitu saja di luar rumah. Sebelum akhirnya Widi juga ikut pergi dari luar rumah Aris.


Aris sendiri tak begitu kesulitan menemukan alamat apartemen dari Devi. Baginya jalanan Jakarta sudah seperti mainan untuk Aris. Sehingga dia tidak kesulitan untuk menemukan setiap tempat di Jakarta. Otaknya seperti sebuah peta yang sudah merekap Jalan yang ada di Jakarta. Mulai dari jalan utama yang tentu di padati kendaraan. Hingga jalan tikus yang bisa jadi alternatif ketika kemacetan mendera.


Sebelum mengetuk pintu apartemen dari Devi. Aris yang begitu kepanasan di jalan, menghela napas terlebih dahulu. Lalu dengan dua ketukan saja, Devi langsung membuka pintu apartemen miliknya.


Devi begitu senang dengan kedatangan Aris yang sangat cepat. Dia melihat kucuran keringat yang mulai menetes di bagian samping kepala Aris. Dengan segera Devi mengambil beberapa lembar tissue untuk mengelap keringat yang muncul di wajah Aris tersebut.


Aris langsung merasa gugup saat Devi mulai mengeringkan keringat yang mengucur di kepalanya. Dia melihat bagaimana Devi begitu perhatian dan lembut dalam mengeringkan keringat yang mengucur deras tersebut. Hingga hati Aris di buat tak karuan oleh aksi seorang Devi.


Devi sendiri begitu senang bisa mengelap keringat dari seorang Aris. Melihat Aris berkeringat saja, Devi sudah cukup puas. Wajah Aris semakin tampan, dengan kucuran keringat yang membasahi wajahnya. Hingga Devi langsung memuji Aris dengan begitu tingginya.


Momen romantis itu pun akhirnya sirna, saat Aris secara tiba-tiba batuk. Aris butuh air untuk membuat tenggorokannya sedikit basah. Pasalnya Aris belum minum selama perjalanan menuju apartemen dari Devi. Hingga mungkin segelas air putih bisa membuat Aris lebih baik lagi.


Devi mengajak Aris masuk kedalam apartemen miliknya. Devi meminta Aris untuk duduk di atas sofanya. Sementara Devi siap memberikan Aris segelas air putih yang begitu di butuhkan olehnya.


Senyum Aris semakin merekah, saat Devi kembali dengan segelas air yang di minta olehnya. Dia tak sabar untuk meminum air tersebut. Mengingat tenggorokan Aris sangat begitu kering dengan udara panas di luar sana.

__ADS_1


Tanpa menunggu lama, Aris langsung meminum air itu hingga habis. Tak lupa Aris mengucapkan terima kasih atas apa yang telah di lakukan Devi untuknya. Devi begitu baik pada Aris, hingga dia memberikan Aris minuman yang cukup segar. Sementara Devi menganggap hal itu biasa saja. Dia berpikir sudah kewajiban seorang Devi memberikan Aris minum. Mengingat Aris begitu haus, usai perjalanan jauh menuju apartemen miliknya


"Apa yang bisa saya bantu dok?" tanya Aris begitu segarnya.


"Saya hanya minta kamu untuk membantu saya dalam membersihkan semua peralatan yang ada di sini. Saya pikir, saya ingin merapikan ulang apartemen ini. Mengingat apartemen ini terlihat cukup kumuh. Saya hanya menempati apartemen ini sesekali saja." jawab Devi dengan begitu jelasnya.


Aris sudah memiliki gambaran dari apa yang di inginkan oleh Devi. Dia segera beranjak dari sofa tersebut. Lalu mulai untuk membereskan perabotan Devi yang nampak tidak rapi. Sementara Devi mulai membantu Aris dalam merapikan perabotan yang ada. Kerja tim dari keduanya, terlihat begitu baik. Hingga pekerjaan yang Devi pikir berat, di selesaikan dengan begitu cepatnya. Apalagi dengan bantuan dari seorang Aris yang cekatan. Pekerjaan itu terasa cukup mudah di kerja oleh Devi.


Hanya butuh 1,5 jam bagi Devi dan Aris untuk menyelesaikan semua pekerjaan tersebut. Baik Devi dan Aris sama-sama terlihat begitu lelah. Aris menyandarkan tubuhnya di sofa. Sementara Devi dengan napas pendeknya, berdiri di samping Aris. Keduanya begitu lelah usai menyelesaikan pekerjaan tersebut.


"Kamu ingin pesan makanan?" Tawaran Devi.


"Mungkin bakso sepertinya lezat." jawab Aris.


"Minum?"


"Jus melon atau semangka."


Tanpa menunggu lama lagi, Devi langsung memesan makanan yang diinginkan oleh Aris tersebut. Mungkin makan bakso sangat lezat. Hingga Devi pun memesan bakso seperti yang Aris pesan juga. Dia begitu tak sabar untuk makan bakso bersama Aris. Menikmati setiap bakso yang mungkin akan sangat lezat di santap dengan seseorang yang di sukai olehnya.


Menunggu pesanan Devi dan Aris di antar. Devi duduk di sofa samping Aris. Dia mulai menanyakan hubungan Aris dengan pacarnya tersebut. Aris mengatakan jika dirinya begitu mencintai pacarnya tersebut. Walaupun banyak kekurangan dari pacarnya tersebut. Namun Aris menganggap itu hal yang wajar. Sebab semua manusia terlahir tidak sempurna, tapi harus berusaha untuk lebih baik lagi. Demi terlihat sempurna.


Mendengar semua ucapan dari Aris, Devi justru semakin penasaran untuk mendekati Aris. Devi ingin melihat sejauh mana Aris akan bertahan dengan pacarnya. Devi siap meruntuhkan semua keyakinan Aris pada pacarnya tersebut. Apalagi Devi memiliki semua yang pacar Aris tidak miliki. Itu adalah keunggulan dari Devi yang coba di maksimalkan sebaik mungkin.


Obrolan yang cukup panjang itu, akhirnya di sudahi dengan sebuah ketukan pintu dari seorang driver ojek online. Dia membawa pesanan bakso yang Aris dan Devi minta. Tak lupa dua jus melon juga di bawa oleh driver ojek online tersebut. Sedikit memberikan tips pada ojek online tersebut. Devi berharga itu akan jadi poin lebih dirinya bagi seorang Aris. Apalagi ucapan terima kasih yang cukup banyak yang di ucapkan oleh driver ojek online tersebut. Terdengar dengan jelas ke telinga Aris yang berada di ruang tamu.


Devi dengan langkah pasti membawa dua bungkus bakso itu menuju Aris. Dia tak sabar untuk menyantap bakso panas yang dia pesan tersebut. Mungkin Aris akan suka dengan bakso yang di pesan olehnya tersebut.


Benar saja, Aris begitu lahap menyantap bakso yang di pesan oleh Devi. Dia terlihat begitu menyukai bakso tersebut. Hingga dengan tempo singkat, Aris langsung menghabiskan bakso tersebut.


Devi yang sebenarnya kurang menyukai bakso. Nampak hanya mencicipi kuah bakso yang ada saja. Sementara kondimen lain yang ada di dalam mangkuk bakso tersebut. Devi biarkan mengembang dengan sendirinya. Devi memberikan semangkuk bakso tersebut pada Aris.


Aris yang sudah kenyang, menolak menyantap bakso pemberian dari Devi. Ia meminta Devi untuk menyantap bakso tersebut. Namun Devi menolak untuk menyantap bakso tersebut. Apalagi Devi kurang menyukai bakso.


Sedikit paksaan dari Aris, akhirnya Devi mau untuk memakan sedikit bakso itu. Aris dengan penuh perhatian menyuapi Devi. Hingga Devi yang awalnya tidak bernafsu untuk menyantap bakso tersebut. Akhirnya langsung melahap habis bakso tersebut. Berkat bantuan dari Aris pastinya.


Aris mengelus lembut rambut Devi. Dia bahagia, akhirnya Devi bisa menghabiskan baksonya tersebut. Tak hanya menyuapi Devi saja. Aris juga membersihkan sisa kotoran bakso yang menempel di beberapa area di dekat bibir seorang Devi. Dengan sentuhan lembut, Aris membersihkan kotoran yang menempel di area bibir dari Devi. Hingga bibir Devi pun kembali berkilau seperti sediakala.


Perhatian yang Aris tunjukkan pada Devi, benar-benar membuat Devi melayang. Aris melayani Devi layaknya seorang Ratu. Sehingga Devi merasa bahagia dengan apa yang di lakukan oleh Aris kepada dirinya. Sebuah cinta yang mungkin mulai tumbuh di hati Aris. Menjadi pertanyaan besar dalam diri seorang Devi.


Aris yang sudah janji pada ibunya untuk mengantar menuju dokter gigi. Berpamitan pada Devi. Namun sebelum Aris pergi, Devi tak lupa mengucapkan banyak terima kepada Aris. Pasalnya Aris mau menolong Devi untuk merapikan apartemen miliknya yang berantakan. Hingga akhirnya apartemen dari Devi kembali menjadi rapi seperti sediakala.

__ADS_1


__ADS_2