Di Paksa Childfree

Di Paksa Childfree
keinginan Putus Devi


__ADS_3

Devi nampak lelah usai bekerja seharian di rumah sakit. Devi menjatuhkan tubuhnya keatas ranjang dengan pakaian kerja yang masih membungkus tubuhnya.


Perlahan Devi mulai memejamkan kedua matanya. Rasa lelah yang menggerogoti tubuhnya, secara tak langsung membuat Devi mengantuk berat. Sehingga baru beberapa saat Devi menjatuhkan tubuhnya. Devi langsung terlelap tidur.


10 menit Devi Devi terlelap tidur. Willy berusaha menelponnya. Willy yang baru selesai makan malam, berniat mengajak Devi untuk menghabis malam berdua di pusat perbelanjaan.


Willy terus menelepon Devi, meskipun panggilan darinya diacuhkan oleh Devi yang tertidur lelap. Pikiran Willy kacau, dia berpikir Devi sengaja tidak mengangkat telepon darinya. Hingga akhirnya dia langsung menghampiri Devi ke rumahnya.


Willy disapa hangat oleh Ratna yang tampil seksi dengan pakaian tidurnya. Ratna membawa Willy ke ruang tamu. Mempersilakan Willy duduk, lalu menawarkan minum untuk Willy.


Teh hangat adalah minuman yang dipilih oleh Willy. Tetapi maksud kedatangannya tentu adalah untuk menemui Devi. Sehingga dia meminta Ratna untuk memanggil Devi juga.


Teh hangat telah terhidang diatas meja. Kini giliran Ratna memanggil Devi, sesuai dengan permintaan dari Willy.


Mengetuk pintu sambil memanggil nama Devi dilakukan oleh Ratna. Tetapi Devi tak urung keluar dari kamarnya. Hingga Ratna menurunkan gagang pintu kamar Devi. Pintu kamar Devi yang tak terkunci seketika terbuka.


Ratna langsung menghampiri Devi yang nampak tertidur dengan lelapnya. Wajahnya baju kerja yang masih dipakainya. Ratna begitu tak tega membangunkan anak kandungnya tersebut. Hingga Ratna lebih memilih untuk membiarkan Devi tetap tertidur. Bahkan Ratna membalikkan posisi Devi agar seluruh badannya dapat menyentuh kasur. Dengan selimut hangat yang membungkus Devi. Ratna keluar dari kamar Devi. Kemudian menutup rapat pintu kamar Devi.


Ratna kembali menuju ruang tamu untuk bertemu dengan Willy. Ratna duduk berhadapan dengan Willy.


"Will, maaf banget. Devi lagi tidur dengan pulasnya. Jadi Tante tidak tega buat bangunin dia." Ucap Ratna.


Willy memasang wajah marah. Dihatinya Willy mengumpat Devi dengan perkataan kasar. Tetapi perlahan ekspresi wajah Willy berubah. layaknya bunglon yang jago dalam merubah warna dalam berbagai situasi. Willy juga pandai dalam memainkan ekspresi wajah. Dia merubah wajahnya dengan raut memelas.


"Boleh gak tan, Devi dibangunin sebentar. Aku ada perlu banget sama dia." Pinta Willy memohon.


"Tapi Will..." Balas Ratih.


"Nanti aku beliin Tante berlian terbaru. Berlian limited edition yang pastinya bagus dan mewah." Potong Willy.

__ADS_1


Usaha menolak dari Ratna akhirnya gagal. Sebuah berlian yang dijanjikan oleh Willy langsung merubah pikirannya. Dia akhirnya mau untuk membangunkan Devi untuk Willy. Ratna kembali masuk kedalam kamar Devi.


Dengan mengusap bagian wajah Devi. Ratna seketika sukses membangunkan Devi yang tertidur dengan begitu lelapnya. Devi yang terkejut dengan keberadaan Ratna disampingnya. Seketika bangkit dari posisi tidur terlentangnya.


"Mama... Mau ngapain mama di kamar aku?" Tanya Devi.


"Mama cuman mau bangunin kamu sayang." Jawab Ratna.


"Bangunin buat apa ma?" Tanya Devi menguap.


"Ada Willy yang mau ketemu kamu. Katanya penting banget."


Devi melihat ponselnya. Beberapa panggilan telepon dari Willy terabaikan. Hingga dia panik, takut akan kemarahan dari seorang Willy.


"Dia mau ngapain ketemu aku ma?" Tanya Devi.


"Mama juga gak tahu. Tapi yang jelas dia mau ketemu kamu."


"Kok diam sih. Sana cuci muka dulu, habis itu kamu temuin Willy." Pinta Ratna.


Devi dengan segera bergegas ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya. Selepas itu dia mengganti pakaian kerja yang masih dia kenakan dengan pakaian tidur panjang. Devi lalu menghampiri Willy yang menunggu cukup lama di ruang tamu.


"Ada apa sayang?" Tanya Devi duduk disamping Willy.


"Kamu itu lemah banget yah. Jam segini kamu sudah tidur. Ini baru jam 8 malam. Masa kamu sudah tidur. Gimana nanti kalau kita nikah. Punya anak. Anak kita nangis tengah malam. Kamu mau biarin anak kita nanti nangis begitu saja." Omel Willy.


"Udah ngomelnya.... Jujur Wil Aku capek dengan semua sifat toxic kamu. Aku benar-benar capek Wil." Balas Devi sembaring menangis.


"Capek.... Kamu capek kenapa. Aku yang capek yang sudah banyak mengeluarkan uang untuk kebutuhan kamu. Kamu tinggal nikmati semua pemberian dari aku. Terus dimana capeknya. Kerja...Oh karena baru kerja beberapa hari kamu sudah capek." Ujar Willy dengan menyebalkan.

__ADS_1


"Aku capek sama hubungan kita. Dimana kamu selalu menuntut aku buat sempurna. Aku manusia biasa juga Wil. Jadi aku gak bisa sempurna seperti yang kamu mau." Terang Devi menangis hebat.


"Oh jadi kamu gak mau gitu aku kritik atau apa. Kamu cuman mau gitu-gitu saja. Aku gak pernah nuntut kamu untuk sempurna. Tapi aku cuman ingin kamu bisa menjadi yang terbaik. Dengar itu Devi." Tegas Willy.


"Tapi kamu selalu memaksa aku Willy. Sementara aku gak bisa jadi seperti yang kamu mau." Balas Devi.


"Makanya kamu berusaha, bukan malah menyalahkan aku. Semua laki-laki pasti ingin melihat pasangan dia tampil sempurna. Apa itu salah? Salah...." Timpal Willy.


"Aku gak bisa lagi Willy buat melanjutkan hubungan kita. Aku mau kita putus." Tegas Devi.


"Apa kamu bilang, putus. Kamu gila yah. Apa yang sudah aku berikan selama ini kamu anggap apa. Aku gak mau kita putus." Tegas Willy.


"Tapi aku capek Wil dengan sikap egois kamu, toxic kamu dan lainnya. Aku capek. Seharusnya kamu bisa berubah. Agar aku nyaman terus sama kamu." Ucap Devi.


Mendengar semua ucapan Devi. Willy langsung tersulut emosi. Dia yang dikenal kasar, coba langsung menampar Devi. Untung sebelum mengenai pipi Devi. Tangan Willy di tahan oleh Alvin yang baru pulang kerja.


"Jangan kamu berbuat kasar sama anak saya!" Alvin melempar kasar tangan Willy.


Devi langsung berlindung ditubuh Alvin yang nampak lelah. Kemudian untuk mengusir Willy dari rumahnya. Alvin memanggil sekuriti. Tanpa harus beradu argumen apapun lagi. Willy akhirnya memilih pergi meninggalkan rumah Alvin.


Devi yang begitu ketakutan dengan Willy, terus mencoba memeluk Alvin. Tangisan yang keluar cukup keras dari mulutnya, juga mengundang Ratna untuk melihat kondisi yang terjadi pada Devi.


"Ada apa dengan Devi mas?" Tanya Ratna.


"Cowok pilihan kamu itu yang coba-coba menampar wajah anak kamu." Jawab Alvin dengan kesal.


"Maksud kamu Willy mas?" Tanya Ratna kembali.


"Siapa lagi kalau bukan dia. Cowok brengsek yang bisanya pakai kekerasan untuk mendapatkan keinginannya." Jawab Alvin dengan amarah.

__ADS_1


Melihat Devi yang semakin ketakutan. Alvin lantas mengantar Devi menuju kamarnya. Amasya yang mendengar suara keributan dari Alvin dengan Willy juga turut penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi. Tetapi Amasya tak mendapat jawaban yang pasti dari Ratna, yang justru malah memarahi Amasya.


__ADS_2